Jumat, 04 Agustus 2017

El-Maut (6)




Novel 

El-Maut (6)
Oleh Wak Amin

11

“SALEM …”
“Siap Bos.”
“Sesuai rencana, kita ketemuan di simpang tiga,” kata Bos Juned, menutup telepon. Tak lama kemudian dia keluar dari ruangan telepon umum, menuju mobilnya yang diparkir di tepi jalan.
Jegraaar …
Guaar …
Guaaam …
Sebuah ledakan terjadi. Bos Juned yang sudah berada di dalam mobil, terlempar keluar dalam kondisi tercabik-cabik.
Auuuuw …
“Tolooooong …!”
“Ada mobil meledaaak!” Teriak beberapa wanita muda usia. Mereka baru saja keluar dari belanja di pu sat perbelanjaan. Bermaksud pulang dan menghampiri mobl mereka yang terparkir rapi di depan mall terbesar dan termegah itu.
Sementara Salem, yang baru saja keluar dari kediamannya untuk melakukan tugas yang diperintahkan Bos Juned, sama sekali tak berkutik ketika sebuah mobl berhenti mendadak di depannya.
Beberapa lelaki kekar keluar dari mobil itu. Berkacamata hitam dengan senjata di tangan. Mereka yang kemudian diketahui berjumlah empat orang itu memandang tajam kea rah Salem.
Dan ..
Dooor …
Dooor …
Door …
Sebutir peluru yang dilesakkan terakhir kali oleh pria berjambang mencabik-cabik isi perut Salem, samp ai  terpotong dua dengan kaki ke dada terpental  beberapa meter ke badan jalan, sedangkan bagian dada ke atas hancur rata dengan jalan.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Beberapa warga yang lalu-lalang di kawasan dekat permukiman itu sama sekali tak terusik sebelum salah seorang ibu berlari terhuyung-huyung sambil menjerit minta tolong.
“Mereka adalah pemain baru,” kata Inspektur Polisi Smith kepada beberapa wartawan media cetak,  online dan elektronika yang mencegatnya sebelum memasuki mobil dinasnya setelah melihat lokasi terjadinya ledakan.
“Apakah ini terkait juga dengan ledakan apartemen kemarin Inspektur?” Tanya reporter cewek bersemangat.
“Menurut Anda gimana?” Inspektur Smith balik bertanya kepada si wartawati.
“Tidak tahu Inspektur. Karena tidak tahu, makanya saya bertanya pada Anda.”
“Kamu hanya ingin kejelasan Inspektur,” sahut teman si wartawati dari media televisi  terkenal.
“Saya belum bisa jelaskan sekarang,” jawab Inspektur Smith, bermaksud memasuki mobil, tapi dihalang-halangi para wartawan yang berdesak-desakan ingin bertanya dan mencatat pernyataannya.
“Baiklah. Kemungkinan besar ada,” ujar Inspektur Smith. “Sudah ya. Ijinkan saya masuk …”
“Satu lagi Inspektur,” kata pria jangkung dari Tabloid Kriminalitas.
“Baiklah. Tapi setelah yang satu ini, ijinkan saya masuk mobil saya. Oke?”
“Oke Inspektur.”
“Berapa lama pelakunya bisa ditangkap Inspektur?”
“Secepatnya … secepatnya .. secepatnya. Sudah ya. Sekarang, ijinkan saya untuk …”
Malam harinya, Inspektur Smith mengumpulkan beberapa anak buahnya untuk membahas tewasnya Sa lem dan Bos Juned. Keduanya belum lama dikenal. Tapi masalahnya sejauhmana keterkaitan mereka de ngan ledakan apartemen tempo hari.
“Menurut saya, ada keterkaitannya Inspektur,” kata Mr Jodi.” Bisa saja Salem dan Bos Juned pelaku pele dakan apartemen kemarin itu. Agar jejak pelaku sebenarnya tidak diketahui, dibunuhlah keduanya de ngan cara yang keji. Dikesankan seolah-olah balas dendam. Padahal menurut saya, tidak sama sekali.”
“Mr Clean. Silakan …!”
Inspektur  Polisi Smith meyakini Mr Clean punya pendapat sendiri atas terjadinya ledakan mobil dan tewasnya dua penjahat yang meresahkan warga itu.
“Menurut saya Inspektur,” kata Mr Clean, “Pelaku sebenarnya kini bukan tidak mungkin tengah merencanakan aksi lanjutan.
Peserta rapat spontan diam dengan ekspresi wajah tegang.

12 
DIPRIORITASKAN untuk secepatnya merealisasikan empat tahap pengontrolan. Pertama, razia di per batasan kota. Kedua, di tempat keramaian dan hiburan malam. Ketiga, meningkatkan penjagaan terha dap kepala negara  dan pejabat penting lainnya. Keempat, mempersempit ruang gerak pelaku teror.
“Saya harap,” kata Inspektur Smith, “Mr Jodi, Mr Clean dan Miss Nancy mengikuti dengan seksama keempat tahapan pengontrolan ini.”
“Siap Komandan,” kata Mr Jodi, berdiri tegap, membikin kaget rekan-rekannya. Karena hanya dengan duduk saja sudah lebih dari cukup, sebenarnya.
“Itu artinya saya benar-benar sanggup komandan,” lanjut Mr Jodi, tersenyum lebar.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Mr Clean?”
“Siap Inspektur Smith. Saya siap kerjakan dengan sungguh-sungguh,” ujar Mr Clean, ikut juga berdiri meniru gaya Mr Jodi. Tapi tidak kocak, seadanya saja.”
“Miss Nancy?”
Ha ha ha ha …
Ketika mau berdiri celananya nyangkut di kunci laci sehingga harus jongkok sebelum berdiri lagi.
“Miss Nancy?”
“Nyangkut Inspektur,” seloroh teman prianya tertawa geli.
“Nyangkut apanya Miss?”
“Celanaku Inspektur. Nyangkut di kunci laci,” jawab Miss Nancy, agak tak enak hati karena jadi pusat perhatian.
“Luka kah?”
“Tidak Inspektur.”
Semua yang hadir kemudian mendadak diam setelah Miss Nancy sempat naik pitam karena diledeki yang hadir terus menerus.
“Miss. Kami semua teman-teman kamu. Kami tak punya maksud apa-apa sama kamu,” kata Mr Clean, angkat bicara. Coba menengahi. “Apa yang kami lakukan barusan hanya ekspresi dari kecintaan kami kepada Anda Miss Nancy. Saya yakin teman-teman tidak ada niat untuk mempermalukan Miss, terma suk saya.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Betul apa kata teman sekerjamu Miss Nancy. Kita hanya saling mengingatkan. Tidak lebih dari itu,” jelas Inspektur Smith dengan penuh kebapakan.
“Cuma saya ingatkan juga kepada yang lain, bercanda boleh tapi sekadarnya dan tengok-tengoklah keadaan. Oke?”
“Oke    Inspektur,” jawab peserta rapat  serempak. Kali ini tidak main-main lagi. Serius. Karena tahap pertama mulai diberlakukan sore hingga malam hari ini.
Ketika hendak sama-sama memasuki mobil dinas di parkiran markas besar kepolisian, Mr Clean merasa perlu menjelaskan posisinya dalam konflik ringan antara Miss Nancy dan rekan-rekan sekerjanya.
“Tak mengapa Mr Clean. Saya paham dan saya akan berusaha memahami perilaku dan karakter Mister agar misi dan kerjasama kita ini membuahkan hasil yang maksimal,” terang Miss Nancy.
Jren ..  jen …
Jren .. jen …
Reeen …
Reeen …
Mengambil tempat duduk di belakang sendirian dengan Mr Clean dan Mr Jodi, berdua di depan, perjala nan menuju perbatasan kota amat menyenangkan. Hal ini disebabkan ulah Mr Jodi yang tak henti-hen tinya melucu yang membuat Miss Nancy tertawa ngakak seorang diri.
“Saya dulu Mr Clean dan Miss Nancy, punya pacar. Cantik jugalah. Tinggi semampai, tidak seperti saya, gendut dan tambun,” beber Mr Jodi, mengawali cerita masa lalunya.
“Ngaku ya gendut,” ledek Miss Nancy.
Ha ha ha ha …
“Waktu saya ngapel, saya kan bawa bunga. Ketika si pacar buka pintu, saya senyum, lalu saya katakan …. “
     “Yang …
       Tengoklah bunga ini
       Indah seindah surge firdausi 
       Ciumlah bunga ini   
       Eeeem …      
       Harum semerbak mewangi
       Begitu juga cintaku kepadamu
       Setulus hati
       Sebening nurani … “

“Pasti senang dia ya Mr Jodi?” Tanya Mr Clean. Mulai tertarik dengan teman sekerja Miis Nancy ini.
“Senang Mister, tapi sayang …” Mr Jodi seolah menahan tawa.
“Ditolak Mister?”
“Bukan …”
“Lalu apa dong?” Miss Nancy gantian bertanya.
“Dia tutup pintu. Lalu saya ketuk lagi. Dia buka pintu dan berkata … “Bunganya bagus sayang. Besok-besok bawa bunga lagi kalau kamu ngapel …”
Praaak …

13
MELIHAT Miss Nancy kena pukul dan jatuh tersungkur, Mr Clean dan Mr Jodi tak tinggal diam. Keduanya mengejar pengendara sepeda motor berboncengan itu, juga dengan motor patroli berukuran besar.
Dasar bajingan tengik. Kendati sudah dibunyikan sirene dan nyaris tertangkap, kedua lelaki tanggung ya ng sudah lebih dari seminggu tak mandi itu, malah melakukan zig-zug dengan sesekali berbelok ke kiri dan kanan serta mengangkat ban motor depan.
Taaaar …
Tembakan peringatan pertama dilepaskan Mr Jodi, namun tak digubris. Malah salah seorang dari begal itu membuka bajunya dan melambai-lambaikannya sebelum dilepaskan, melayang-layang dan sempat ‘hinggap’ di mukanya Mr Clean.
Syiiiit …
Ngerem mendadak. Untung tak terjatuh. Mr Clean turun dari motor, lalu memasukkan baju begal itu ke dalam bagasi motor.
“Cepat Mister …”
Reeen …
Kali ini Mr Clean memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Jalanan tidak begitu ramai, sehingga keberadaan motor dua begal itu mudah dilihat.
“Itu Mister …!” Kata Mr Jodi, menunjuk ke sebuah bangunan gedung yang belum selesai di tepi jalan raya besar.
Di sana ada sebuah sepeda motor terparkir tapi tak terkunci.  Mr Clean membelokkan motornya tak jauh dari gedung itu. Lalu turun dan bersembunyi di balik semak dekat trotoar.
“Dimana mereka ya Mister?” Bisik Mr Jodi. Belum sempat bertanya lagi, dua begal itu keluar dari gedung tiga lantai itu sambil mengencangkan tali pinggang celananya.
Mereka baru saja membuang air kecil di belakang gedung yang belum dicat itu. Sebelum keluar gedung, mereka menelepon seeorang, entah siapa, namun dari arah pembicaraan mereka, sepertinya mau menja lankan operasi perampokan.
“Hi hi hi hi … Lucu juga polisi wanita tadi ya Bro. Hebat kamu. Cuma sayang …” Kata lelaki berhidung sangat mancung dan berkumis hitam tebal.
“Sayang kenapa Bro?”
“Tak kau habisi saja dia.”
Ha ha ha ha …
“Angkat tangan …!” Perintah Mr Jodi sambil menaik-turunkan pistol di genggamannya.
“Mr Jodi?”
“Lapar aja Mister. Belum makan tadi,” aku Mr Jodi terus terang.
“Cepaaat, tangannya diangka!” Sekarang sudah mantap pegangannya.
“Sudah ada permen Mister.” Mr Jodi memperlihatkan permen manis asam di dalam mulutnya.
Dua begal itu berdiri  mematung …
“Tembak saja kalau berani!” Tantang lelaki berambut acak-acakan.
Mr Jodi naik pitam.
Door …
Dooor …
Door …
Door …
Tembakan itu hanya mengenai lantai semen tempat dua begal itu berdiri. Akibat tembakan itu, kedua nya bak  penyanyi yang lagi berjingkrak-jingkrak di atas panggung.  Lompat-lompat kaki sembari menjerit minta ampun.
Aksi keduanya menarik perhatian pengendara lain dan warga yang tinggal di sekitar gedung. Sebagian be sar mereka ketawa ngakak melihat tingkah kekanak-kanakan dua lelaki bertampang dingin itu.
“Badan aja yang gede,” ledek dua orang ibu yang baru pulang dari menghadiri pertemuan dengan teman sekerja mereka di sebuah hote berbintang di pusat kota.
“Gitu aja takut. Katanya begal, eee taunya enggak ada apa-apanya.”
Sebelum dihakimi massa, dibantu warga sekitar, dua begal itu diamankan Mr Clean dan Mr Jodi. Mereka dinyatakan siap dibawa ke markas kepolisian.
“Ampun Pak. Lepaskan kami,” rengek begal berambut tak karuan sambil menangis sesunggukan.
“Lepaskan saja Pak Polisi,” teriak pria berkepala botak dengan nada geram.
“Iya Pak Polisi,” timpal teman di sebelahnya, “Tapi pakaiannya dilucuti. Biar bugil.”
Hua ha ha ha …
Sebuah mobil polisi berhenti tak jauh dari kerumunan warga yang mulai bubaran itu.
Miss Nancy keluar dari mobil. Melangkah mantap ke arah dua begal yang sudah diborgol dan dikawal Mr Clean dan Mr Jodi.
Praaak …
Bruuuk ..
Guuup …
Jegaaar …
Dua begal itu mengerang kesakitan setelah perut dan selangkangan kena tendang Miss Nancy. Semua yang hadir terkagum-kagum melihat aksi seorang perempuan tanpa rasa takut menghajar dua pria jalanan di depannya.

Tobe Continued
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar