Novel …
El-Maut (6)
Oleh Wak Amin
11
“SALEM …”
“Siap Bos.”
“Sesuai rencana, kita ketemuan di simpang tiga,” kata Bos
Juned, menutup telepon. Tak lama kemudian dia keluar dari ruangan telepon umum,
menuju mobilnya yang diparkir di tepi jalan.
Jegraaar …
Guaar …
Guaaam …
Sebuah ledakan terjadi. Bos Juned yang sudah berada di dalam
mobil, terlempar keluar dalam kondisi tercabik-cabik.
Auuuuw …
“Tolooooong …!”
“Ada mobil meledaaak!” Teriak beberapa wanita muda usia.
Mereka baru saja keluar dari belanja di pu sat perbelanjaan. Bermaksud pulang
dan menghampiri mobl mereka yang terparkir rapi di depan mall terbesar dan
termegah itu.
Sementara Salem, yang baru saja keluar dari kediamannya
untuk melakukan tugas yang diperintahkan Bos Juned, sama sekali tak berkutik
ketika sebuah mobl berhenti mendadak di depannya.
Beberapa lelaki kekar keluar dari mobil itu. Berkacamata
hitam dengan senjata di tangan. Mereka yang kemudian diketahui berjumlah empat
orang itu memandang tajam kea rah Salem.
Dan ..
Dooor …
Dooor …
Door …
Sebutir peluru yang dilesakkan terakhir kali oleh pria
berjambang mencabik-cabik isi perut Salem, samp ai terpotong dua dengan kaki ke dada
terpental beberapa meter ke badan jalan,
sedangkan bagian dada ke atas hancur rata dengan jalan.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat. Beberapa warga yang
lalu-lalang di kawasan dekat permukiman itu sama sekali tak terusik sebelum salah
seorang ibu berlari terhuyung-huyung sambil menjerit minta tolong.
“Mereka adalah pemain baru,” kata Inspektur Polisi Smith
kepada beberapa wartawan media cetak, online dan elektronika yang mencegatnya
sebelum memasuki mobil dinasnya setelah melihat lokasi terjadinya ledakan.
“Apakah ini terkait juga dengan ledakan apartemen kemarin
Inspektur?” Tanya reporter cewek bersemangat.
“Menurut Anda gimana?” Inspektur Smith balik bertanya kepada
si wartawati.
“Tidak tahu Inspektur. Karena tidak tahu, makanya saya
bertanya pada Anda.”
“Kamu hanya ingin kejelasan Inspektur,” sahut teman si
wartawati dari media televisi terkenal.
“Saya belum bisa jelaskan sekarang,” jawab Inspektur Smith,
bermaksud memasuki mobil, tapi dihalang-halangi para wartawan yang
berdesak-desakan ingin bertanya dan mencatat pernyataannya.
“Baiklah. Kemungkinan besar ada,” ujar Inspektur Smith.
“Sudah ya. Ijinkan saya masuk …”
“Satu lagi Inspektur,” kata pria jangkung dari Tabloid
Kriminalitas.
“Baiklah. Tapi setelah yang satu ini, ijinkan saya masuk
mobil saya. Oke?”
“Oke Inspektur.”
“Berapa lama pelakunya bisa ditangkap Inspektur?”
“Secepatnya … secepatnya .. secepatnya. Sudah ya. Sekarang,
ijinkan saya untuk …”
Malam harinya, Inspektur Smith mengumpulkan beberapa anak
buahnya untuk membahas tewasnya Sa lem dan Bos Juned. Keduanya belum lama
dikenal. Tapi masalahnya sejauhmana keterkaitan mereka de ngan ledakan
apartemen tempo hari.
“Menurut saya, ada keterkaitannya Inspektur,” kata Mr Jodi.”
Bisa saja Salem dan Bos Juned pelaku pele dakan apartemen kemarin itu. Agar
jejak pelaku sebenarnya tidak diketahui, dibunuhlah keduanya de ngan cara yang
keji. Dikesankan seolah-olah balas dendam. Padahal menurut saya, tidak sama
sekali.”
“Mr Clean. Silakan …!”
Inspektur Polisi
Smith meyakini Mr Clean punya pendapat sendiri atas terjadinya ledakan mobil
dan tewasnya dua penjahat yang meresahkan warga itu.
“Menurut saya Inspektur,” kata Mr Clean, “Pelaku sebenarnya
kini bukan tidak mungkin tengah merencanakan aksi lanjutan.
Peserta rapat spontan diam dengan ekspresi wajah tegang.
12
DIPRIORITASKAN untuk secepatnya merealisasikan empat tahap
pengontrolan. Pertama, razia di per batasan kota. Kedua, di tempat keramaian
dan hiburan malam. Ketiga, meningkatkan penjagaan terha dap kepala negara dan pejabat penting lainnya. Keempat,
mempersempit ruang gerak pelaku teror.
“Saya harap,” kata Inspektur Smith, “Mr Jodi, Mr Clean dan
Miss Nancy mengikuti dengan seksama keempat tahapan pengontrolan ini.”
“Siap Komandan,” kata Mr Jodi, berdiri tegap, membikin kaget
rekan-rekannya. Karena hanya dengan duduk saja sudah lebih dari cukup,
sebenarnya.
“Itu artinya saya benar-benar sanggup komandan,” lanjut Mr
Jodi, tersenyum lebar.
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Mr Clean?”
“Siap Inspektur Smith. Saya siap kerjakan dengan
sungguh-sungguh,” ujar Mr Clean, ikut juga berdiri meniru gaya Mr Jodi. Tapi
tidak kocak, seadanya saja.”
“Miss Nancy?”
Ha ha ha ha …
Ketika mau berdiri celananya nyangkut di kunci laci sehingga
harus jongkok sebelum berdiri lagi.
“Miss Nancy?”
“Nyangkut Inspektur,” seloroh teman prianya tertawa geli.
“Nyangkut apanya Miss?”
“Celanaku Inspektur. Nyangkut di kunci laci,” jawab Miss
Nancy, agak tak enak hati karena jadi pusat perhatian.
“Luka kah?”
“Tidak Inspektur.”
Semua yang hadir kemudian mendadak diam setelah Miss Nancy
sempat naik pitam karena diledeki yang hadir terus menerus.
“Miss. Kami semua teman-teman kamu. Kami tak punya maksud
apa-apa sama kamu,” kata Mr Clean, angkat bicara. Coba menengahi. “Apa yang
kami lakukan barusan hanya ekspresi dari kecintaan kami kepada Anda Miss Nancy.
Saya yakin teman-teman tidak ada niat untuk mempermalukan Miss, terma suk saya.”
Plak .. pak .. plak .. pak …
“Betul apa kata teman sekerjamu Miss Nancy. Kita hanya
saling mengingatkan. Tidak lebih dari itu,” jelas Inspektur Smith dengan penuh
kebapakan.
“Cuma saya ingatkan juga kepada yang lain, bercanda boleh
tapi sekadarnya dan tengok-tengoklah keadaan. Oke?”
“Oke Inspektur,” jawab peserta rapat serempak. Kali ini tidak main-main lagi.
Serius. Karena tahap pertama mulai diberlakukan sore hingga malam hari ini.
Ketika hendak sama-sama memasuki mobil dinas di parkiran
markas besar kepolisian, Mr Clean merasa perlu menjelaskan posisinya dalam
konflik ringan antara Miss Nancy dan rekan-rekan sekerjanya.
“Tak mengapa Mr Clean. Saya paham dan saya akan berusaha
memahami perilaku dan karakter Mister agar misi dan kerjasama kita ini
membuahkan hasil yang maksimal,” terang Miss Nancy.
Jren .. jen …
Jren .. jen …
Reeen …
Reeen …
Mengambil tempat duduk di belakang sendirian dengan Mr Clean
dan Mr Jodi, berdua di depan, perjala nan menuju perbatasan kota amat
menyenangkan. Hal ini disebabkan ulah Mr Jodi yang tak henti-hen tinya melucu
yang membuat Miss Nancy tertawa ngakak seorang diri.
“Saya dulu Mr Clean dan Miss Nancy, punya pacar. Cantik jugalah.
Tinggi semampai, tidak seperti saya, gendut dan tambun,” beber Mr Jodi,
mengawali cerita masa lalunya.
“Ngaku ya gendut,” ledek Miss Nancy.
Ha ha ha ha …
“Waktu saya ngapel, saya kan bawa bunga. Ketika si pacar
buka pintu, saya senyum, lalu saya katakan …. “
“Yang …
Tengoklah bunga
ini
Indah seindah surge
firdausi
Ciumlah bunga
ini
Eeeem …
Harum semerbak
mewangi
Begitu juga
cintaku kepadamu
Setulus hati
Sebening nurani
… “
“Pasti senang dia ya Mr Jodi?” Tanya Mr Clean. Mulai tertarik
dengan teman sekerja Miis Nancy ini.
“Senang Mister, tapi sayang …” Mr Jodi seolah menahan tawa.
“Ditolak Mister?”
“Bukan …”
“Lalu apa dong?” Miss Nancy gantian bertanya.
“Dia tutup pintu. Lalu saya ketuk lagi. Dia buka pintu dan
berkata … “Bunganya bagus sayang. Besok-besok bawa bunga lagi kalau kamu ngapel
…”
Praaak …
13
MELIHAT Miss Nancy kena pukul dan jatuh tersungkur, Mr Clean
dan Mr Jodi tak tinggal diam. Keduanya mengejar pengendara sepeda motor
berboncengan itu, juga dengan motor patroli berukuran besar.
Dasar bajingan tengik. Kendati sudah dibunyikan sirene dan
nyaris tertangkap, kedua lelaki tanggung ya ng sudah lebih dari seminggu tak
mandi itu, malah melakukan zig-zug dengan sesekali berbelok ke kiri dan kanan
serta mengangkat ban motor depan.
Taaaar …
Tembakan peringatan pertama dilepaskan Mr Jodi, namun tak
digubris. Malah salah seorang dari begal itu membuka bajunya dan melambai-lambaikannya
sebelum dilepaskan, melayang-layang dan sempat ‘hinggap’ di mukanya Mr Clean.
Syiiiit …
Ngerem mendadak. Untung tak terjatuh. Mr Clean turun dari
motor, lalu memasukkan baju begal itu ke dalam bagasi motor.
“Cepat Mister …”
Reeen …
Kali ini Mr Clean memacu sepeda motor dengan kecepatan
tinggi. Jalanan tidak begitu ramai, sehingga keberadaan motor dua begal itu
mudah dilihat.
“Itu Mister …!” Kata Mr Jodi, menunjuk ke sebuah bangunan
gedung yang belum selesai di tepi jalan raya besar.
Di sana ada sebuah sepeda motor terparkir tapi tak terkunci.
Mr Clean membelokkan motornya tak jauh
dari gedung itu. Lalu turun dan bersembunyi di balik semak dekat trotoar.
“Dimana mereka ya Mister?” Bisik Mr Jodi. Belum sempat
bertanya lagi, dua begal itu keluar dari gedung tiga lantai itu sambil
mengencangkan tali pinggang celananya.
Mereka baru saja membuang air kecil di belakang gedung yang
belum dicat itu. Sebelum keluar gedung, mereka menelepon seeorang, entah siapa,
namun dari arah pembicaraan mereka, sepertinya mau menja lankan operasi
perampokan.
“Hi hi hi hi … Lucu juga polisi wanita tadi ya Bro. Hebat
kamu. Cuma sayang …” Kata lelaki berhidung sangat mancung dan berkumis hitam
tebal.
“Sayang kenapa Bro?”
“Tak kau habisi saja dia.”
Ha ha ha ha …
“Angkat tangan …!” Perintah Mr Jodi sambil menaik-turunkan
pistol di genggamannya.
“Mr Jodi?”
“Lapar aja Mister. Belum makan tadi,” aku Mr Jodi terus
terang.
“Cepaaat, tangannya diangka!” Sekarang sudah mantap
pegangannya.
“Sudah ada permen Mister.” Mr Jodi memperlihatkan permen
manis asam di dalam mulutnya.
Dua begal itu berdiri mematung …
“Tembak saja kalau berani!” Tantang lelaki berambut
acak-acakan.
Mr Jodi naik pitam.
Door …
Dooor …
Door …
Door …
Tembakan itu hanya mengenai lantai semen tempat dua begal
itu berdiri. Akibat tembakan itu, kedua nya bak penyanyi yang lagi berjingkrak-jingkrak di
atas panggung. Lompat-lompat kaki
sembari menjerit minta ampun.
Aksi keduanya menarik perhatian pengendara lain dan warga
yang tinggal di sekitar gedung. Sebagian be sar mereka ketawa ngakak melihat
tingkah kekanak-kanakan dua lelaki bertampang dingin itu.
“Badan aja yang gede,” ledek dua orang ibu yang baru pulang
dari menghadiri pertemuan dengan teman sekerja mereka di sebuah hote berbintang
di pusat kota.
“Gitu aja takut. Katanya begal, eee taunya enggak ada
apa-apanya.”
Sebelum dihakimi massa, dibantu warga sekitar, dua begal itu
diamankan Mr Clean dan Mr Jodi. Mereka dinyatakan siap dibawa ke markas
kepolisian.
“Ampun Pak. Lepaskan kami,” rengek begal berambut tak karuan
sambil menangis sesunggukan.
“Lepaskan saja Pak Polisi,” teriak pria berkepala botak
dengan nada geram.
“Iya Pak Polisi,” timpal teman di sebelahnya, “Tapi
pakaiannya dilucuti. Biar bugil.”
Hua ha ha ha …
Sebuah mobil polisi berhenti tak jauh dari kerumunan warga
yang mulai bubaran itu.
Miss Nancy keluar dari mobil. Melangkah mantap ke arah dua
begal yang sudah diborgol dan dikawal Mr Clean dan Mr Jodi.
Praaak …
Bruuuk ..
Guuup …
Jegaaar …
Dua begal itu mengerang kesakitan setelah perut dan
selangkangan kena tendang Miss Nancy. Semua yang hadir terkagum-kagum melihat aksi
seorang perempuan tanpa rasa takut menghajar dua pria jalanan di depannya.
Tobe Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar