Selasa, 29 Agustus 2017

El-Maut (15)




Novel …

El- Maut (15)
Oleh Wak Amin


29
DUEL tangan kosong antara Mr Clean dan Iskandar belum juga berakhir. Padahal keduanya sama-sama luka lebam di muka, tangan dan kaki. Mereka masih berduel, mungkin karena adu gengsi, tak seorang pun mau menjauh dengan cara melarikan diri, misalnya.
Hiyaaaat …
Iskandar melepaskan tendangan memutar beberapa kali namun ber hasil dielakkan Mr Clean dengan cara menunduk, sambil koprol ke kanan. Dia hanya menunggu diserang, lawan terpancing rupanya.
“Mampus kau polisi busuk,” teriak Iskandar. Mendekati Mr Clean de ngan jurus pukul tendang dan koprol. Pukulan diarahkan ke perut, tendangan memutar ke arah kaki.
Untuk mengunci  lawan agar tidak bisa membalas serangan, Iskandar berguling-gulingan ke lantai dengan cara berputar, mengelilingi Mr Clean.
Mr Clean melompat ke belakang. Dia kini berada di dekat tabung gas pemadam kebakaran. Dia mengambil ancang-ancang dengan menarik kedua tangannya sejajar dengan dada. Bersiap melepaskan tenaga dalam.
Iskandar tak gentar. Tak henti-hentinya ia memperagakan berbagai ju rus mulai dari jurus monyet menari, ayam mematuk hingga pangeran bercinta. Tujuuannya membuat takut lawan.
Mr Clean pejamkan mata. Mulutnya terkatup rapat. Begitu lawan me nyerang, dia dorong kedua tangannya ke depan. Karena kuatnya doro ngan tenaga dalam itu, Iskandar terpental. Kepala membentur dinding.
Eeeeegh …
“Aduh …” Ringisnya.
Lawan belum jera. Meski penglihatannya sudah berkunang-kunang, te tap melakukan perlawanan. Hanya saja perlawanannya kali ini dinilai cu rang, karena tidak menggunakan tangan kosong. Justru pakai senjata.
“Rasakan ini!” Ucap Iskandar tertawa lebar.
Dooor …
Dooor …
Dooor …
Tewas seketika.
Sayangnya, yang tewas bukan Mr Clean, tapi Iskandar. Tiga peluru menembus kepalanya, mengelarkan darah, tewas tergeletak.
“Thanks Miss.”
“Udah. Yuk cari bomnya,” ajak Miss Nancy.
Tak sampai lima menit, bom itu berhasil dijinakkan dengan tingkat kehati-hatian dan kewaspadaan yang sangat tinggi.
Sampai berkeringat Mr Clean mencabut kabel yang tersambung. Mele set sedikit, salah cabut misalnya, bakal terjadi ledakan. Begitu juga de ngan Miss Nancy. Bagaimana susah payahnya ia menahan kotak hitam kecil tempat menaruh bom itu.
Sementara Mr Jodi hanya bisa berdoa. Tak henti-hentinya mulutnya komat-kamit mengucapkan sesuatu yang intinya agar pelepasan bom berjalan lancar dan sukses.
Treeeesh …
Ketik …
Cabutan kabel terakhir oleh Mr Clean melegakan hati Mr Jodi. Tak kua sa ia membendung air matanya. Dia tak bisa bayangkan bagaimana keadaan dirinya jika bom akhirnya meledak. Tentu dia bersama yang lain tidak ada lagi di dunia ini. Hanya tinggal nama.
“Mr Jodi?”
“Turuti ajalah Mr Clean. Nanti … He he he he ..” Mr Jodi menirukan perempuan menangis karena ditinggal suami pergi jauh.
“Awas ya Mr Jodi …”
“Jangan Miss .. “Mr Clean mencegah Miss Nancy untuk mengejar Mr Jodi yang sembunyi di balik mobil kepunyaan Sobar, Bos El-Maut.
“Clean. Lepaskah ah!” Ucap Miss Nancy, kesal karena merasa dihalang-halangi.

30
ATAS permintaan Inspektur Polisi Smith, Mr Clean dan Miss Nancy, ke duanya ditunjuk untuk menjemput kedatangan Mrs Sabrina di bandara, tengah hari. Isteri Muhsin ini datang sendirian untuk menemani Mr Clean bertugas di kepolisian negara lain.
Tiba di bandara lebih cepat, Mr Clean mentraktir Miss Nancy makan siang di resto bandara. Tak diduga sebelumnya, pengunjung resto ra mai. Hampir seluruh meja terisi. Hanya menyisakan dua meja, salah satunya meja yang ditempati Mr Clean dan Miss Nancy.
“Terserah Miss aja, maunya apa.” Mr Clean mempersilakan Miss Nancy memilih sendiri menu makan siang yang ditawarkan.
Daftar menu berupa booklet cantik itu dibaca berulangkali oleh Miss Nancy. Berkali-kali ia membolak-balik lembaran kertas berwarna-warna itu. Sampai akhirnya ia melonjak kegirangan.
“Mister. Aku dada sama paha bakar,” bisiknya dengan nada manja.
“Nanti hitam lho Miss,” ledek Mr Clean, gentian membolak-balik lembaran kertas tebal bergambar itu.
“Biarin. Item juga kan enggak apa-apa. Asalkan …”
“Enggak item betulan gitu ?”
“Bukan. Asalkan orang yang aku suka melihatnya senang,” kata Miss Nancy, memainkan bola matanya. Menari-nari di sela sepatu hitam yang ia kenakan.
Mr Clean diam sejenak, lalu …
“Mr Jodi kah?”
Miss Nancy menggelengkan kepala. Ia cemberut begitu Mr Clean menyebut nama Mr Jodi.
Kenapa ya?
“Enggak apa-apa Mister. Kesel aja,” jawab Miss Nancy, memainkan jari jemarinya di dekat serbet yang tersusun rapi bersama tisu, sendok dan garpu di tengah meja.
“Jangan terlalu Miss kesalnya.” Mr Clean mengingatkan.
“Kenapa? Enggak boleh apa?”
“Bukan enggak boleh. Nanti jatuh hati.”
“Sori ya law. Lagian dia kan sudah punya kekasih Mr Clean.”
“Oh ya? Kenapa dia enggak bilang-bilang sama saya ya Miss?”
Sesaat pembicaraan terhenti. Wanita cantik berkulit putih, pelaya resto menyapa ramah.
“Ini pesanan kami berdua Dik.” Selain dada dan paha bakar, Miss Nancy juga memesan es jeruk lemon.
Sementara Mr Clean cuma dua. Nasi ayam panggang dan air putih.
“Tidak campur batu es Tuan?” Tanya si pelayan ramah.
“Enggak usah Dik. Cukup air putih saja,” kata Mr Clean, juga dengan ramah.
“Terima kasih Tuan dan Nyonya. Mohon ditunggu ya!” Si pelaya berlalu pergi.
“Dik .. Dik. Saya belum …”
“Miss Nancy.” Mr Clean mencegahnya. Dia pegang tangan perempuan di sampingnya itu, lalu berkata kepada si pelayan resto …
“Maksudnya .. Belum makan siang. Jadi jangan lama-lama ya Dik nyiapinnya.”
Si pelayan tersenyum manis.
“Baik Tuan. Saya permisi dulu.”
Miss Nancy mengaku dia agak risih dipanggil Nyonya.
“Saya kan belum …”
“Nanti sama aku, mau kan?”
Serasa mau copot jantung ini mendengarnya. Begitu santainya Mr Clean menyebut … “Nanti sama aku.” Sedangkan Miss Nancy justru beda.
“Main-main atau serius enggak ya Mr Clean?” Dalam hatinya ia ber tanya. Menerka-nerka, mana yang benar. Main-main atau serius kah?
“Miss Nancy!”
“Oh ya Mr Clean. Aku ke toilet dulu ya. Enggak lama, cuma sebentar aja.”
Miss Nancy berpura-pura pergi ke toilet. Sesampainya di kamar kecil, dia tidak melakukan apa-apa. Bab tidak, bak juga tidak.
Lalu …?
Berdiri saja. Agar tak dicurigai beberapa perempuan yang antri berdiri di depan toilet, dia mengusap muka dan kedua tangannya, sebelum keluar dari toilet untuk menemui kembali Mr Clean.
Dia terkejut.
Kenapa?
Mr Clean sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hanya meningggalkan pe san singkat di secarik kertas yang bertuliskan …

           “Sebentar ya Miss. Aku temui Mrs Sabrina dulu …”

Tobe Continued   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar