Novel …
El- Maut (15)
Oleh Wak Amin
29
DUEL tangan
kosong antara Mr Clean dan Iskandar belum juga berakhir. Padahal keduanya
sama-sama luka lebam di muka, tangan dan kaki. Mereka masih berduel, mungkin
karena adu gengsi, tak seorang pun mau menjauh dengan cara melarikan diri,
misalnya.
Hiyaaaat …
Iskandar
melepaskan tendangan memutar beberapa kali namun ber hasil dielakkan Mr Clean
dengan cara menunduk, sambil koprol ke kanan. Dia hanya menunggu diserang,
lawan terpancing rupanya.
“Mampus kau
polisi busuk,” teriak Iskandar. Mendekati Mr Clean de ngan jurus pukul tendang
dan koprol. Pukulan diarahkan ke perut, tendangan memutar ke arah kaki.
Untuk
mengunci lawan agar tidak bisa membalas
serangan, Iskandar berguling-gulingan ke lantai dengan cara berputar,
mengelilingi Mr Clean.
Mr Clean
melompat ke belakang. Dia kini berada di dekat tabung gas pemadam kebakaran.
Dia mengambil ancang-ancang dengan menarik kedua tangannya sejajar dengan dada.
Bersiap melepaskan tenaga dalam.
Iskandar tak
gentar. Tak henti-hentinya ia memperagakan berbagai ju rus mulai dari jurus
monyet menari, ayam mematuk hingga pangeran bercinta. Tujuuannya membuat takut
lawan.
Mr Clean
pejamkan mata. Mulutnya terkatup rapat. Begitu lawan me nyerang, dia dorong
kedua tangannya ke depan. Karena kuatnya doro ngan tenaga dalam itu, Iskandar
terpental. Kepala membentur dinding.
Eeeeegh …
“Aduh …”
Ringisnya.
Lawan belum
jera. Meski penglihatannya sudah berkunang-kunang, te tap melakukan perlawanan.
Hanya saja perlawanannya kali ini dinilai cu rang, karena tidak menggunakan
tangan kosong. Justru pakai senjata.
“Rasakan
ini!” Ucap Iskandar tertawa lebar.
Dooor …
Dooor …
Dooor …
Tewas
seketika.
Sayangnya,
yang tewas bukan Mr Clean, tapi Iskandar. Tiga peluru menembus kepalanya,
mengelarkan darah, tewas tergeletak.
“Thanks
Miss.”
“Udah. Yuk
cari bomnya,” ajak Miss Nancy.
Tak sampai
lima menit, bom itu berhasil dijinakkan dengan tingkat kehati-hatian dan
kewaspadaan yang sangat tinggi.
Sampai
berkeringat Mr Clean mencabut kabel yang tersambung. Mele set sedikit, salah
cabut misalnya, bakal terjadi ledakan. Begitu juga de ngan Miss Nancy.
Bagaimana susah payahnya ia menahan kotak hitam kecil tempat menaruh bom itu.
Sementara Mr
Jodi hanya bisa berdoa. Tak henti-hentinya mulutnya komat-kamit mengucapkan
sesuatu yang intinya agar pelepasan bom berjalan lancar dan sukses.
Treeeesh …
Ketik …
Cabutan
kabel terakhir oleh Mr Clean melegakan hati Mr Jodi. Tak kua sa ia membendung
air matanya. Dia tak bisa bayangkan bagaimana keadaan dirinya jika bom akhirnya
meledak. Tentu dia bersama yang lain tidak ada lagi di dunia ini. Hanya tinggal
nama.
“Mr Jodi?”
“Turuti
ajalah Mr Clean. Nanti … He he he he ..” Mr Jodi menirukan perempuan menangis
karena ditinggal suami pergi jauh.
“Awas ya Mr
Jodi …”
“Jangan Miss
.. “Mr Clean mencegah Miss Nancy untuk mengejar Mr Jodi yang sembunyi di balik
mobil kepunyaan Sobar, Bos El-Maut.
“Clean.
Lepaskah ah!” Ucap Miss Nancy, kesal karena merasa dihalang-halangi.
30
ATAS
permintaan Inspektur Polisi Smith, Mr Clean dan Miss Nancy, ke duanya ditunjuk
untuk menjemput kedatangan Mrs Sabrina di bandara, tengah hari. Isteri Muhsin
ini datang sendirian untuk menemani Mr Clean bertugas di kepolisian negara
lain.
Tiba di
bandara lebih cepat, Mr Clean mentraktir Miss Nancy makan siang di resto
bandara. Tak diduga sebelumnya, pengunjung resto ra mai. Hampir seluruh meja
terisi. Hanya menyisakan dua meja, salah satunya meja yang ditempati Mr Clean
dan Miss Nancy.
“Terserah
Miss aja, maunya apa.” Mr Clean mempersilakan Miss Nancy memilih sendiri menu
makan siang yang ditawarkan.
Daftar menu
berupa booklet cantik itu dibaca berulangkali oleh Miss Nancy. Berkali-kali ia
membolak-balik lembaran kertas berwarna-warna itu. Sampai akhirnya ia melonjak
kegirangan.
“Mister. Aku
dada sama paha bakar,” bisiknya dengan nada manja.
“Nanti hitam
lho Miss,” ledek Mr Clean, gentian membolak-balik lembaran kertas tebal
bergambar itu.
“Biarin.
Item juga kan enggak apa-apa. Asalkan …”
“Enggak item
betulan gitu ?”
“Bukan.
Asalkan orang yang aku suka melihatnya senang,” kata Miss Nancy, memainkan bola
matanya. Menari-nari di sela sepatu hitam yang ia kenakan.
Mr Clean
diam sejenak, lalu …
“Mr Jodi
kah?”
Miss Nancy
menggelengkan kepala. Ia cemberut begitu Mr Clean menyebut nama Mr Jodi.
Kenapa ya?
“Enggak apa-apa
Mister. Kesel aja,” jawab Miss Nancy, memainkan jari jemarinya di dekat serbet
yang tersusun rapi bersama tisu, sendok dan garpu di tengah meja.
“Jangan
terlalu Miss kesalnya.” Mr Clean mengingatkan.
“Kenapa?
Enggak boleh apa?”
“Bukan
enggak boleh. Nanti jatuh hati.”
“Sori ya
law. Lagian dia kan sudah punya kekasih Mr Clean.”
“Oh ya?
Kenapa dia enggak bilang-bilang sama saya ya Miss?”
Sesaat
pembicaraan terhenti. Wanita cantik berkulit putih, pelaya resto menyapa ramah.
“Ini pesanan
kami berdua Dik.” Selain dada dan paha bakar, Miss Nancy juga memesan es jeruk
lemon.
Sementara Mr
Clean cuma dua. Nasi ayam panggang dan air putih.
“Tidak
campur batu es Tuan?” Tanya si pelayan ramah.
“Enggak usah
Dik. Cukup air putih saja,” kata Mr Clean, juga dengan ramah.
“Terima
kasih Tuan dan Nyonya. Mohon ditunggu ya!” Si pelaya berlalu pergi.
“Dik .. Dik.
Saya belum …”
“Miss
Nancy.” Mr Clean mencegahnya. Dia pegang tangan perempuan di sampingnya itu,
lalu berkata kepada si pelayan resto …
“Maksudnya
.. Belum makan siang. Jadi jangan lama-lama ya Dik nyiapinnya.”
Si pelayan
tersenyum manis.
“Baik Tuan.
Saya permisi dulu.”
Miss Nancy
mengaku dia agak risih dipanggil Nyonya.
“Saya kan
belum …”
“Nanti sama
aku, mau kan?”
Serasa mau
copot jantung ini mendengarnya. Begitu santainya Mr Clean menyebut … “Nanti
sama aku.” Sedangkan Miss Nancy justru beda.
“Main-main
atau serius enggak ya Mr Clean?” Dalam hatinya ia ber tanya. Menerka-nerka,
mana yang benar. Main-main atau serius kah?
“Miss
Nancy!”
“Oh ya Mr
Clean. Aku ke toilet dulu ya. Enggak lama, cuma sebentar aja.”
Miss Nancy
berpura-pura pergi ke toilet. Sesampainya di kamar kecil, dia tidak melakukan
apa-apa. Bab tidak, bak juga tidak.
Lalu …?
Berdiri
saja. Agar tak dicurigai beberapa perempuan yang antri berdiri di depan toilet,
dia mengusap muka dan kedua tangannya, sebelum keluar dari toilet untuk menemui
kembali Mr Clean.
Dia
terkejut.
Kenapa?
Mr Clean
sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hanya meningggalkan pe san singkat di
secarik kertas yang bertuliskan …
“Sebentar ya Miss. Aku temui Mrs Sabrina dulu
…”
Tobe
Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar