Novel …
El-Maut (8)
Oleh Wak Amin
16
UNTUNGLAH bom berdaya ledak sedang itu berhasil dijinakkan.
Miss Nancy tampak lega. Bukan saja tidak menimbulkan kepanikan, korban jiwa dan
material, tapi juga warga merasa aman-aman saja dan nyaman dalam bepergian.
“Paling tidak masih
ada nafas buat kita bertiga Mister,” kata Miss Nancy, setelah mobil yang
disopiri Mr Jodi melaju menuju kediamannya.
“Tapi saya kira kita tetap waspada Miss. Mungkin saja si pria yang kita amankan
dan sudah dibawa rekan kita ke kantor polisi itu sengaja diumpankan untuk
memulai peperangan,” jelas Mr Jodi, seperti kebiasaannya, sepanik dan seberat
apa pun masalah yang dihadapi, tetap ketawa lebar yang membuat rekan-rekan
sekerjanya ikut senang dan terhibur ketika berada di dekatnya.
“Benar apa kata Mr Jodi barusan Miss. Bisa jadi ini baru
permulaan. Dalam waktu dekat akan terjadi beberapa ledakan. Tapi mudah-mudahan tidak.”
“Selama ini kita bisa mengatasinya kan Mr Jodi,” ujar Miss
Nancy, mulai mengantuk tapi dia paksakan
untuk tetap melek dan bersemangat ketika berbicara.
“Betul begitu Mr Jodi?”
“Betul Mr Clean,” jawab Mr Jodi sejujurnya. Makanya dia
heran kenapa beberapa hari terakhir ini tingkat keamanan dan kenyamanan mulai
menurun. “Warga mulai sering berkelahi, dan seperti Mr Clean lihat dan dengar
sendiri, telah terjadi ledakan dahsyat di beberapa tempat di antaranya di
apartemen tempo hari.”
“Mungkin kita juga jadi target dari orang atau kelompok yang
bermaksud jahat pada pemerintah kita,” terang Mr Clean sambil menoleh ke belakang, melihat Miss Nancy tertidur
pulas.
“Mungkin juga Mr Clean,” kata Mr Jodi. Tapi dia mulai heran
kenapa suara Miss Nancy tidak terdengar. Padahal kalau bicara berdua atau bertiga, selalu aktif menyahuti.
Syiiiit …
Mobil berhenti sebentar …
“Udah nyampe Mr Jodi?” Miss Nancy terbangun dan hendak
keluar dari mobil.
Ha ha ha ha …
“Mau keluar kemana Miss. Gelap. Tengoklah!” Mr Jodi
memperkeras suara tawanya. Memang tidak ada orang di luar. Serba gelap karena
mereka kini berada di areal persawahan warga.
“Ok .. oooo!”
“Makanya Miss, kalau di dalam mobil jangan tidur,” ledek Mr
Jodi. Belum juga berhenti ketawa, sampai memerah mukanya.
“Ngantuk sekali Mister. Kalau dipaksain percuma juga.
Bisa-bisa ngerocos tak karuan,” jelas Miss Nancy. Dia merasa haus, berharap
segera tiba di rumah dan minum sepuas-puasnya air putih yang tersimpan dalam
kulkas.
Karena haus, selama dalam perjalanan Miss Nancy selalu ingat
air minum. Menyuruh mampir beli air pu tih di toko supermarket yang buka 24
jam, takut kelamaan sementara tak lama lagi waktu subuh bakal tiba.
Piiiin …
Caaar …. Caaar …
Lampu depan menyala sebentar, lalu padam.
“Sampai juga akhirnya,” ucap Mr Jodi. Dia menoleh ke kanan,
lalu tersenyum lebar. “Rumah ini masih seperti dulu, asri dan damai.”
“Gombal ah!” Celetuk Miss Nancy, melangkah turun dari mobil.
Ha ha ha ha …
“Selamat beristirahat Miss Nancy,” ucap Mr Clean.
“Selamat beristirahat juga,” jawab Miss Nancy seraya
melambaikan tangan dan menyunggingkan senyuman, amboi menawannya.
“Semoga bermimpi yang indah,” lanjut Mr Jodi, ketawa ngakak.
“Gombal …”
Sunyi sesaat.
Lalu …
Guaaam …
Guaaar …
Guaaam …
Sebuah bom meledak di
kawasan kompleks perumahan Miss Nancy berdomosili. Ledakan itu begitu ti ba-tiba
datangnya, sehingga mengejutkan warga penghuni rumah dan sekitarnya. Ada yang menjerit
histeris sambil berhamburan ke luar rumah. Malah ada di antaranya terpental
jauh ke jalan, tak terke cuali Miss Nancy.
Mr Clean dan rekannya turun dari mobil setelah melapor ke
mabes telah terjadi ledakan keras di kedia man Miss Nancy.
17
BERUNTUNG Miss Nancy selamat, hanya mengalami luka ringan.
Sebab, dari tempat ia berdiri saat ini dengan asal ledakan cukup jauh, meski
tidak mengurangi keras dan menggelegarnya daya ledak bom barusan. Sebagian
kecil penghuni rumah dipastikan tewas,
paling tidak mengalami luka parah dan ringan.
Dari beberapa keterangan saksi mata, Mr Clean cs memperoleh penjelasan,
sebelum ledakan terjadi ada seorang pria turun dari mobil. Kemudian masuk rumah
dan kembali lagi ke mobilnya beberapa saat ke mudian.
Antara ledakan dengan perginya pria tak dikenal itu cukup
lama. Hampir setengah jam. Bersamaan dengan
datangnya Mr Clean dan kedua rekannya ke lokasi TKP.
“Untuk ciri-cirinya saya kurang tahu Persian Tuan,” kata
seorang lelaki muda yang rumahnya tak jauh dari lokasi ledakan. “Tetapi
dipastikan belum terlalu tua dan berjenis kelamin laki-laki …”
“Terima kasih Pak,” ucap Mr Clean, bersama Mr Jodi, keduanya
mencari saksi mata lain sebagai pemban ding dan pelengkap. Sulit juga
menemukannya karena tidak semua saksi mata berani bicara. Kebanya kan dari
mereka takut dengan ancaman pelaku teror.
“Maaf Pak, saya harus menjemput anak saya pulang sekolah,”
ujar ibu muda yang baru saja masuk mobil yang ia parkir di tepi jalan. Mobil melesat lambat ke pusat
kota.
Mr Clean dan Mr Jodi
tak kehabisan akal. Segala cara mereka tempuh untuk menggali dan menghimpun
sebanyak mungkin informasi, dengan demikian diharapkan dapat menemukan titik terang siapa dalang pelaku peledakan sebenarnya.
Salah seorang juru parkir menyebut dia pernah melihat ciri-ciri
orang dimaksud dalam rekayasa gambar yang diperlihatkan Mr Clean.
“Dia ini sudah sering main-main ke sini. Berkumpul dengan
teman-teman yang lain. Tapi kenapa yang bersangkutan sampai hati dan tega
meledakkan kompleks pemukiman warga. Apa mereka salah?”
“Kapan anda terakhir melihatnya?” Tanya Mr Jodi sambil
mengulum permen manis karena kerong kongan
dan mulut terasa kering dan pahit.
“Kira-kira seminggu yang lalu,” jelas si juru parkir, tak
lagi gugup ketika saat pertama kali Mr Clean menanyainya.
“Anda tahu apa yang dia lakukan?”
“Persisnya tidak Tuan. Dia ngobrol dengan seseorang. Bos
saya.”
“Oke, terima kasih,” ucap Mr Clean. “Bos Anda, ada kan?”
“Ada Tuan Polisi,” jawab si tukang parkr sembari membungkukkan badan. Bergegas ia mengatur
posisi keluar-masuk motor di dekat sebuah warung.
Mulai ada titik terang ketika Bos Parkir bersedia ditemui
dan diajak bicara. Pertemuan itu hanya ber langsung singkat. Tak kurang dari
sepuluh menit saja. Karena setelah itu Mr Clean dan Mr Jodi melaporkan
hasil penyelidikan singkat mereka itu kepada
Inspektur Polisi Smith.
Sayangnya, Inspektur Smith belum mengizinkan mereka untuk
memburu pelaku peledakan. Hal ini
dikarenakan si pelaku tidak tunggal. Dia hanya pion, menjalankan tugas dari
kelompok tertentu.
“Kita dalami lagi. Tunggu satu atau dua hari lagi , Mr
Clean,” kata Inspektur Smith.
“Apa tidak kelamaan Inspektur?” Tanya Miss Nancy, baru saja
bergabung, agak emosional. Sehari
dibiarkan pelakunya berkeliaran sama saja kiita membiarkan sepulh tempat untuk
diledakkan.
“Tidak harus begitu Miss Nancy,” jelas Inspektur Smith. “Yang
jaga kan ada. Sabarlah. Tunggu satu atau dua hari lagi …”
“Tapia apa bisa dijamin yang bersangkutan tidak melarikan
diri?” Tanya Mr Jodi, baru kembali dari
menumpang minum di kantin markas kepolisian.
“Mudah-mudahan tidak. Anggota kita yang lain sudah kita
siapkan untuk menjaga lubang-lubang penyusupan,” kata Inspektur Smith.
“Terus Inspektur,” timpal Mr Clean, “Apa yang harus kami
lakukan sekarang?”
“Sambil menunggu perintah, kalian bertiga tetap saya
tugaskan berpatroli dan siap melaporkan setiap perkembangan yang terjadi, sekecil apa pun ia.”
“Siap Inspektur,” jawab Mr Jodi. Agak payah dia berdiri
karena perutnya yang dulu langsing kini sedikit membuncit, menyentuh pinggiran
meja. Terpaksa ia menggeser tempat duduknya agar leluasa berdiri.
Di area parkir markas kepolisian pusat, Miss Nancy masih
menaruh kecewa dengan keputusan Inspektur Polisi Smith untuk tidak secepatnya mencari,
menemukan, mengungkap identitas pelaku, untuk kemu dian meng gantungnya di
jalanan.
Mr Clean membiarkan Miss Nancy meluapkan rasa kecewanya
dengan menendang batang pohon dan memukul dadanya berulangkali. Andai saja Mr
Jodi tak segera datang dan melerainya, entah masih kuat kah Mr Clean menahan
pukulan, walau tidak keras, dilakukan bertubi-tubi itu oleh wanita yang
diam-diam menyukainya itu.
“Nancy .. Nancy. Cukup,” teriak Mr Jodi, sambil mengipas
wajah rekan sekerjanya itu dengan handuk kecil yang sering ia gunakan untuk
menyeka peluh di seputaran muka dan leher.
Tobe Continud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar