Jumat, 11 Agustus 2017

El-Maut (9)



Novel 

El-Maut (9)
Oleh Wak Amin



18
DI lain tempat,  jaringan El-Maut yang dikomandoi Sobar, menggelar pertemuan khusus di sebuah vila puncak bukit pada tengah malam. Pertemuan itu merupakan agenda bulanan untuk mengevaluasi hasil kerja kelompok mereka,  sehingga diharapkan bisa menemukan formula baru untuk menindak-lanjuti langkah lanjutan operasional di lapangan.
Jaringan El-Maut adalah kelompok teroris. Mereka merupakan pemain lama yang sudah berpengalaman melakukan pengeboman di berbagai tempat. Tidak jelas apa sebenarnya yang mereka kehendaki. Na mun sepertinya jaringan ini hanya ingin meminta hak ‘kedaulatan’ atas wilayah.
Detailnya, selama ini mereka selalu berpindah-pindah tempat dengan hidup yang tidak jelas. Mereka su dah bosan hidup tanpa tempat tinggal menetap. Mereka ingin agar penguasa memberi mereka sedikit tanah untuk ditempati. Mereka ingin sebuah  tempat yang bisa ditinggali sekaligus jadi tempat mata pencaharian mereka sehari-hari.
Jaringan ini tidak mengharuskan wilayah yang luas. Pulau misalnya. Tapi yang sewajarnya buat kelompok mereka agar bisa hidup layak. Mereka tidak menuntut yang lebih dari itu. Mereka hanya ingin diberi tempat berteduh buat mereka dan segenap keluarga.
Meski demikian, jaringan El-Maut ini akan membela mati-matian bila ada anggota mereka yang terbu nuh, misalnya. Mereka akan cari  pelakunya sampai dapat. Bila tidak juga berhasil diketemukan mereka akan marah dan mengamuk serta  tak segan-segan melakukan tindakan yang membahayakan kesela matan orang banyak.
Kendati sang komandan Sobar membantah terlibat beberapa ledakan belakangan ini, termasuk ledakan dahsyat yang menghantam apartemen dengan jatuh korban yang tidak sedikit, pihak kepolisian tetap mencurigai kelompok ini.
Kecurigaan itu sangatlah beralasan. Karena selama ini belum ada kelompok atau jaringan sehebat dan setenar El-Maut. Berani melakukan tindakan berisiko. Namun tentunya kecurigaan ini harus didukung dengan bukti yang kuat dan akurat. Jika tidak justru akan menodai citra kepolisian di mata masyarakat.
Sobar dikenal disiplin dan keras pada anak buahnya. Dia tak segan-segan menghukum mereka jika ketahuan lalai dalam menjalankan tugas, atau berkhianat dan bersekongkol dengan pihak lain.
Tak kenal kompromi. Tapi jika itu menyangkut kenyamanan hidup, Bos Sobar akan mempertimbangkan dengan menempuh jalan dialog untuk mencapai titik temu dan kesepakatan antara kedua belah pihak.
Pada setiap pertemuan, Sobar selalu mengingatkan anak buahnya untuk bertindak secara profesional dan bertanggung jawab. Tidak menimbulkan kegaduhan dan kepanikan di tengah masyarakat.
Setiap tindakan yang diambil harus diperhitungkan secara tepat dan cermat. Tidak menimbulkan korban jiwa dan ditunggangi pihak lain. Praktis, El-Maut selalu bekerja sendirian, tanpa melibatkan pihak lain.
Pada pertemuan tengah malam ini, Sobar telah menyiapkan beberapa rencana besar. Mulai dari penem bakan terhadap orang tertenu, hingga peledakan  di tempat-tempat tertentu. Semua misi ini harus tun tas secepatnya. Tak ada pilihan bagi anggotanya. Sukses atau gagal, dan jika gagal harus siap-siap me nerima  akibatnya.
“Kalian harus ingat dan camkan itu. Seberat apa pun tugas yang diemban dan dijalankan harus berhasil. Jika tidak bahaya besar akan menimpa jaringan kita,” jelas Sobar berapi-api.
Untuk penembakan, katanya, ditujukan pada dua sosok penting negeri ini. “Pak Presiden dan Menteri Dalam Negeri …”
“Mereka berdua harus mati dan kalian yang ditugasi harus bisa menghilangkan jejak secepatnya,” tegas Sobar. Dia pandang tajam satu persatu anak buahnya. Tak seorang pun dari mereka yang tebersit  rasa takut dan pesimis.
“Khusus peledakan, kita akan lakukan di tiga tempat. Yaitu pasar, rumah sakit dan pusat-pusat kerama ian lainnya,” lanjut Sobar.  Memperinci lokasi peledakan dengan menuliskan beberapa hal yang mesti dipersiapkan, diperhitungkan dan diantisipasi.
“Ada yang bertanya sampai disini?”
“Saya Bos!” Salah seoran lelaki berusia muda mengacungkan jari telunjuknya. Dia menyebut namanya, walaupun Sang Bos tidak memintanya menyebutkan nama.
“Zulfikar. Ya Zulfikar, nama saya,” katanya dengan nada tinggi dan bersemangat.
“Apa yang hendak kamu tanyakan Zul?”
“Begini Bos. Singkat saja. Saya hanya ingin menanyakan saat kita meledakkan sesuatu nantinya, entah gedung atau apalah, apa mesti dilakukan dengan cara bunuh diri?”
“Tergantung Z ul. Tapi tak usah takut. Itu hanya jalan terakhir,” jelas Sobar. Rehat sejenak buat minum air kopi susu hangat.


19
TENGAH malam di kediaman Mendagri …
“Mr Clean.” Bisik Miss Nancy. Dia, Mr Clean dan Mr Jodi masih bersembunyi di depan rumah  dinas Men dagri yang dijaga petugas keamanan.
Mendagri, setelah berkoordinasi dengan Inspektur Smith, mempersilakan Mr Clean dan kawan-kawan ikut mengawasi dan mengamankan kediaman orang penting kedua di negeri ini setelah Pak Presiden.
Melalui Dinas Intelejen Kepolisian diperoleh kabar malam ini kediaman Mendagri akan diserang kelom pok teroris jaringan El-Maut.  Target utama mereka adalah menembak mati Mendagri. Info sangat raha sia ini kemudian diterima untuk dibahas pihak keamanan, dalam hal ini kepolisian dan pihak terkait lainnya, sebelum diteruskan ke Mendagri.
Semula, Pak Wahono, Sang Mendagri, menolak secara halus diberi pengamanan yang super ketat. Kare na selama ini, dia sudah terbiasa kemana pergi sendirian. Selain di dampingi ajudannya, Pak Wahono, ketika melakukan perjalanan ke luar daerah, hanya ditemani beberapa orang staf, itu pun staf dari wilayah yang dia kunjungi.
Demikian pula halnya dengan kediaman dinasnya. Hanya dijaga satu dua petugas keamanan yang di tunjuk. Selama ini aman-aman saja. Keluar masuk rumah dengan berjalan kaki atau mengemudikan mobil merupakan pemandangan biasa dan lazim disaksikan warga yang berdomisili di sekitar kedia mannya.
“Tapi saya mohon bapak Menteri pertimbangkan hal ini,” kata Inspektur Polisi Smith, sengaja datang menemui Mendagri Wahono di kediamannya, bersama Mr Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy.
“Baiklah kalau begitu saya pertimbangkan Pak Inspektur,” jawab Mendagri setelah mendapat penjelasan langsung ikhwal operasi rahasia jaringan El-Maut dan demi tercapainya stabilitas politik dan keamanan.
“Mereka inilah yang bakal ditempatkan di sekitar kediaman bapak,” jelas Inspektur Smith, memperkenal kan selintas sosok Mr Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy.
“Clean …”
“Jodi.”
“Miss Nancy.”
Ha ha ha ha …
“Tak kusangka Pak Inspektur  punya anak buah jempolan,” puji Mendagri. Dia sepertinya sangat senang melihat dan menerima kehadiran Mr Clean cs.
“Terima kasih Pak Mendagri,” kata Inspektur Smith. Sama sekali tak menyangka kehadiran tiga anak buanya mendapat sambutan hangat. Padahal sebelumnya dia sempat pesimistis.
“Apa yang harus saya persiapkan sekarang Inspektur?”
“Kerjasamanya Pak Mendagri. “ Inspektur Smith ingin Mr Clean, Mr Jodi dan Miss Nancy bisa bekerja sama dengan petugas keamanan yang ditempatkan di kediaman Mendagri.
“Oke. Eeeem … Kalau tidak ada lagi, kita sudahi dulu pertemuan ini. Bisa kan Pak Inspektur?”
“Dengan senang hati Pak Mendagri,” jawab Inspektur Smith.
Sebelum meninggalkan kediaman Pak Mendagri, Inspektur Smith menyempatkan diri  berberbincang-bincang sejenak di teras, sebelum mengajak serta Mr Clean dan dua rekannya  menuju mobil yang di parkir di ujung  kompleks kediaman Mendagri.
Tepat pukul satu malam …
Sebuah mobil berhenti di seberang jalan tak jauh dari kediaman Mendagri. Hampir sepuluh menit tak seorang pun yang keluar dari mobil itu, kecuali kaca depan sebelah kanan mobil terbuka sedikit.
“Sayed disini Bos.”
“Arahkan senjatamu!” Perintah Bos Sobar. Sebuah senjata berdaya ledak besar diambil dari bawah tempat duduk dekat bagasi.
“Idris …”
“Ya Bos.”
“Kamu siap lemparkan beberapa bahan peledak?”
“Siap Bos.”
Sayed mengokang senjatanya, lalu dibidikkan ke kemar depan tempat Mendagri dan isteri biasa tidur. Sedangkan Idris sudah memegang senjata pelontar bom molotof. Mirip meriam tapi berukuran kecil. Bom mini itu dimasukkan ke muncung senjata dengan bagian depannya berlubang.
Guaaam …
Guaaar …
Jegaaar …
Setelah Sayed, disusul Idris, dengan senjata pelontar sukses ‘melempar tiga bom molotof. Menghancur kan bagian depan rumah Mendagri. Menewaskan dua petugas keamanan yang berjaga-jaga di pintu ma suk kediaaman Mendagri.

Tobe Continued
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar