Kamis, 12 April 2018

Soleh (18)

Cerita untuk Anak

Soleh (18)
Oleh Wak Amin


"FAH. Latifah. Sini!"

Marfuah memperlihatkan sehelai kertas putih yang dia temukan di meja belajarnya.

Saat keluar main pertama ...

Selesai dari makan bakso di kantin sekolah, Latifah baru saja keluar dari ruangan guru. Dia membantu Bu Guru Elisa mengambilkan pulpen di atas meja mengajarnya yang kelupaan dibawa dan dimasukkan ke dalam tas.

"Baca dulu ini ..." Kata Marfuah.

"Apa sih?" Latifah semula menolak. Apalagi disangkut-pautkan dengan surat cinta segala.

"Sudah. Baca dululah," saran Anisah. Diiyakan Jamilah dan Marwiyah.

Kertas dibuka ...

Tertulis disitu ...


   "Latifah... Mau tidak kamu
    kuantar pulang nanti siang?"

                           Dari aku
                           Lukman



Kertas itu dilipat lagi.

"Gimana Fah?"

"Kasih ke Bu Guru Elisa, ah ..."

"Jangan Fah."

Anisah kurang setuju. Soalnya, kalau Bu Guru Elisa tahu, paling ditertawakan dan disuruh duduk lagi.

"Maunya aku kita balas tulis surat juga begitu Fah," kata Anisah.

"Isi suratnya apa?"

"Tulis saja ... Siap ketemuan dimana."

"Oke. Aku ambil pena dulu."

"Nanti dulu. Kita sama-sama saja masuk kelas. Lukman kan tak lihat kita. Ayoooo!" Ajak Marwiyah.

Yang menulis surat adalah Anisah. Singkat saja isi suratnya ...

    "Mau. Kita ketemuan dimana?"
                           

                              Dari Latifah

Sehelai kertas putih bergaris-garis itu dilipat Anisah dengan rapi. Kemudian ia selipkan di bawah buku tulis Lukman yang ditaruh di atas meja belajarnya.

Tak lama kemudian ...

Teng ...

Teng ...

Teng ...

Siswa masuk kelas lagi. Yang lebih dulu masuk Lukman dan Kadir. Belakangan Geng Putri.

Bu Guru Elisa belum masuk kelas ....

Lukman, setelah melihat secarik kertas di bawah buku tulisnya, diam- diam membuka lipatan surat itu.

Hatinya senang bukan kepalang ...

"Fah. Coba tengok Lukman!" Kata Marwiyah. Berbisik agar tak terdengar siswa lain.

"Senyum-senyum dia Wiyah." Balas berbisik Latifahnya.

"Itu berarti dia memang suka sama kamu Fah."

"Nawas gimana?" Tanya Jamilah. Dia tahu Nawas juga 'naksir' Latifah.

Latifah juga senang. Sama-sama lah keduanya.

Sementara dengan Lukman, tidak sama sekali.

"Sudah,  nanti keluar main kedua kita bahas lagi," kata Latifah.

Sesaat sebelum keluar main, Lukman membalas surat yang ditulis Anisah.

Sambil menulis angka-angka yang ditulis Bu Guru Elisa, Lukman menyempatkan diri menulis surat cintanya untuk Latifah.

Kurang lebih begini isinya ...

    "Aku tunggu kamu di luar
      pintu pagar setelah semua
      teman sekelas kita pulang
      ..."

      Dari aku ...
      Lukman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar