Cerita untuk Anak
Soleh (21)
Oleh Wak Amin
DI parkiran kendaraan ...
Kadir dan Pardi sibuk mengatur sepeda motor yang berdatangan, hendak parkir.
"Sabar Pak. Sabar. Ayo Bu, cepat masuk," ucap Kadir.
Si ibu yang baru saja mendorng motornya, tiba-tiba menjerit setelah selendang anaknya ikut kebawa ban belakang motor.
Untung motor cuma didorong. Bukan melaju.
Saat itu juga siswa lain berbeda kelas ikut membantu Kadir menarik pelan selendang berwarna pink itu dari jari-jari motor.
"Lain kali hati-hati ya Bu," pesan Kadir, beberapa saat setelah selendang itu berhasil dilepaskan dari lilitan dan diberikan kepada si ibu.
Si ibu mengiyakan, demikian pula anak perempuannya yang mulai meranjak remaja.
Priiit ...
Priiit ...
"Teruuss .."
"Kanan dikit, Pak."
"Teruus ..."
"Stop."
Ban kiri mobil salah satu orang tua siswa terperosok masuk lubang. Terdengar suara yang lumayan nyaring.
Sebagian besar undangan sontak berdiri. Mereka penasaran. Apa ya ng
sebenarnya telah terjadi dengan mobil avanza berwarna hitam itu?
Ha ha ha ha ...
"Ada-ada saja. Belum pernah dicuci kali," celetuk pria kurus berkopiah hitam.
"Bukan belum pernah dicuci, tapi yang nyopirnya lupa gosok gigi," ledek teman si kurus.
Si empunya mobil yang baru saja turun mendekati Kadir dan Lukman, spontan turun ke parit. Ketiganya bersama-sama mengambil kayu yang teronggok di parit, lalu menyilangkannya di
bawah ban mobil yang menggelantung.
Separo masuk parit ...
"Ayo bapak-bapak. Kita bantu dorong," kata Pak Guru Jalil, guru kelas I.
Mesin mobil dinyalakan, papan ditambah dua potong lagi. Didorong
sama-sama dari belakang dan sam ping. Secara perlahan mobil bergerak
lagi.
Alhamdulillah ...
Priiiit ...
Priiit ...
"Sabar Pak. Satu-satu ..." Kata Pardi.
Empat sepeda motor berhenti serempak. Pengemudinya turun dan mendorong sepeda motor barengan.
Terjadi debat kusir ..
"Saya dulu Pak. Saya kan duluan sampe. Betul kan Dik?"
Si Kadir mengiyakan ...
"Betul. Tapi coba bapak lihat mana yang lebih dulu motor bagian depan, bapak
atau saya. Punya saya kan ya ng paling depan? Dan si apa yang lebih dulu turun dari motor,
kan saya? Jadi sayalah yang harus lebih dulu masuk Pak."
"Tidak bisa. Saya dulu ..."
"Saya dulu."
"Tidak bisa."
Priiit ...
Priit ...
Lukman dan Pak Jalil turun tangan melerai. Karena tak mungkin bisa Kadir sendirian menanganinya.
Apalagi badan pengemudi sepeda motor itu rata-rata kekar dan berotot.
Berkulit hitam legam. Sudah terbiasa mencangkul sawah dan berjemur di
tengah terik panas matahari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar