Cerita untuk Anak
Soleh (20)
Oleh Wak Amin
HE .. he ... he .. he ...
Tiba-tiba Anisah ketawa setelah membaca tulisan Bu Guru Elisa. Dia diminta untuk membacakan hasil core tan barusan di hadapan teman-temannya.
Tentu saja siswa pada melongo ...
Mereka ikut tertawa juga akhirnya setelah Anisah menyebut nama Latifah.
"Saya ulangi ya ... Yang menyambut tamu adalah Latifah dan Nawas," ucap Anisah sambil batuk-batuk.
Horeee ...
Siswa serempak bertepuk tangan.
Yang tidak bertepuk tangan hanya Lukman. Sudah capek-capek membonceng pulang Latifah, eee nama nya justru tak disebut.
"Kasihan deh lu," ledek Kadir. Ketawa terpingkal-pingkal.
Tak lama setelah itu ...
Anisah menyebut nama Jamilah. Sengaja Anisah belum menyebut nama pasangan laki-lakinya. Soleh kah atau justru Kadir.
Bikin berdebar-debar jantung Kadir. Sedangkan Soleh biasa-biasa saja. Dengan siapa pun berpasangan tak jadi masalah.
"Penyambut tamu kedua adalah Jamilah dan ..."
"Kadir," ucap Pardi bersemangat.
"Pasangan Jamilah adalah ..."
"Kadir," sahut Yunus yakin.
"So ... So ..."
"Soleeeh ..." Kata siswa serempak. Semua bergembira, kecuali Kadir seorang.
Dia tak terima ...
Mukanya merah padam.
"Kasihan deh lu," sindir Lukman.
Tadi dia kena sindir dan ledek, sekarang giliran dia yang menyindir Kadir.
Sementara Pardi dan Yunus hanya diam. Mereka berharap Kadir tidak marah.
Bukankah persandingan itu hanya untuk menerima tamu yang datang dan
hadir dalam acara perayaan HUT SD Al-Munawar ke-8.
Amarah dan ketersinggungan Kadir baru reda setelah Bu Guru Elisa turun
tangan. Berhasil ditenangkan bersama anak didiknya, termasuk Pardi dan
Yunus.
Penyebutan nama panitia dilanjutkan ...
"Untuk penjaga konsumsi. Karena ada dua meja untuk tamu undangan, petugasnya hanya empat orang," kata Anisah.
Siswa saling menoleh. Mereka tampak senang jika ditunjuk ikut menjaga dan mengawasi meja makan.
"Pasti tidak kelaparan. Orang makan kita juga ikut makan diam-diam," celoteh siswa berambut tipis.
Ssssst ...
"Keempat nama itu adalah saya sendiri, Anisah, akan berdampingan dengan Yunus."
Plak ... pak.. plak.. pak ...
"Mantap kau Nus, dapat Anisah. Kau enaklah," kata Pardi seraya menepuk
punggung Yunus. Yang punggungnya ditepuk hanya senyum-senyum saja.
"Meja kedua adalah Marfuah, yang akan bersanding dengan ..."
"Pardiii ..." Ucap Yunus.
Wuuuu ...
Wele ... welee ... weleee ...
Ssssst ...
"Berpasangan dengan Luk ... Lukmaaaan ..."
Horee ... horeee ... horee ..
Plak ... pak .. plak ... pak ...
"Selamat Man!" Pardi menjabat tangan Lukman. Sambil berbisik, 'Tak dapat
rotan akar pun jadi.' Tak dapat Latifah, Marfuah pun oke.
Ha ha ha ha ...
Riuh sejenak. Sekitar empat puluh detik kemudian, setelah suasananya
kembali tenang, Anisah melanjutkan penyebutan nama-nama panitia HUT SD
Al-Munawar.
"Untuk jaga parkir dipercayakan pada .... Pardi dan Kadiiir."
"Cocok nian Bu Elisa," ujar Marwiyah.
"Kenapa tidak ada ceweknya Bu?" Tanya Yunus penasaran.
"Kalau ada cewek bukan jaga parkir Nus," kata Marwiyah.
"Lalu apa dong?"
"Jaga maaaal," jawab siswa berbadan bongsor.
Ha ha ha ha ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar