Cerita untuk Anak
Soleh (19)
Oleh Wak Amin
SESUAI kesepakatan sebelumnya, Latifah memenuhi janjinya diantar pulang ke rumah sekitar pukul satu siang.
Namun, sebelum tiba di rumah, Lati fah minta Lukman menyinggahi kediaman Bu Guru Elisa terlebih dulu.
Lukman tidak keberatan. Yang penting dia sekarang sangat berbahagia.
Di benaknya terbayang bersepeda berdua dengan Latifah. Sakit hatinya
sebentar lagi akan hilang, berlabuh ke Nawas.
"Biar tau rasa dia," bisiknya dalam hati. Lukman sengaja memperlambat kayuhan sepedanya. Dia tidak tahu gerak-geriknya diperhatikan sedari tadi oleh Anisah dan kawan-kawan.
Apalagi saat dibonceng Lukman, Latifah mengaku senang dan tidak capek
mengayuh, atau berjalan kaki bersama teman-teman yang lain.
"Belok kiri Man," kata Latifah mengingatkan.
"Oh iya ya ... Kelupaan aku. Maaf ya Latifah." Malu hati Lukman. Ke kanan memang ada jalan. Tapi menu ju ke hutan dan ladang.
Kriiiing ...
Kriiing ..
Seorang ibu yang baru pulang dari ladang membawa bakul berisi sayur-sayuran terpaksa minggir karena sepeda yang dikayuh Lukman sempat
oleng.
Untung tak sampai jatuh ...
Si ibu yang semula kaget berbalik ketawa 'ngekek' melihat sepeda Lukman berjoget ria.
Tak lama. Karena setelah Latifah melompat turun dari sepeda, jogetnya sepeda berhenti seketika.
Sreeet ...
Deeeep ...
Ngerem mendadak.
Hampir saja Lukman jatuh tersungkur. Jika tidak cepat melompat turun dari sepeda.
" Alhamdulillah. Tak apa-apa kan Nak?" Tanya si ibu lega.
"Maaf Bu. Tak sangka sepeda saya bisa tak lurus jalannya," kata Lukman.
Si ibu menyarankan, jika jalan yang akan dilalui ternyata berlubang dan
penuh disesaki batu kerikil, lebih baik turun saja dari sepeda.
"Kan lebih aman ..." saran si ibu.
Sampai kemudian mereka tiba di dekat sebuah warung. Ke kanan, jalannya lumayan bagus karena baru selesai diaspal.
Sementara si ibu berjalan ke sebelah kiri ...
Mereka pun berpisah jalan.
Lima menit kemudian ...
Lukman dan Latifah tiba di kedia man Bu Guru Elisa.
Keduanya disambut Nawas yang sudah menunggu di teras rumah perempuan baik hati itu.
"Sudah ditunggu ibu di dalam. Masuk yuk!" Ajak Nawas.
Sementara Lukman yang sedikit 'cemburu' menyandarkan sepedanya ke
batang pohon mangga sebelum masuk seorang diri ke kedia man Bu Guru
Elisa.
"Selamat siang menjelang sore Lukman". Ucap rekan-rekannya sambil berdiri dan menyilakan Lukman duduk di dekat Bu Guru Elisa.
Mengambil tempat di sebelah kiri, sebelah kanan ditempati Kadir, Pardi
dan Yunus. Ada gorengan di depan mereka. Teh manis dan air putih.
Bu Guru Elisa masuk sebentar ke kamarnya sebelum keluar lagi membawa beberapa lembar kertas polio dan pulpen berwarna hitam.
Semua siswa kelas V tidak ada ya ng tahu kenapa siang menjelang sore hari ini mereka kumpul di kediaman Bu Guru Elisa.
Mereka semakin penasaran melihat Bu Guru Elisa belum juga bicara sedari
tadi. Masih menulis, dibantu Geng Putri yang dipelopori Marfuah.
" Maaf ya anak-anak. Ibu baru sempat ngomong sekarang," kata Bu Gu ru
Elisa sembari mencocokkan na ma-nama siswanya di sehelai kertas,
berurut dari atas ke bawah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar