Rabu, 04 April 2018

Soleh (11)

Cerita untuk Anak


Soleh  (11)
Oleh Wak Amin


"AYO ngaku. Siapa yang nulis surat ini," kata Bu Guru Elisa. Di pandanginya  satu persatu wajah Lukman, Pardi, Yunus dan Kadir.

Hanya menunduk ..

Mereka tak berani melihat ke depan, teman siswa mereka yang tekun menyimak, menunggu gerangan apakah yang bakal diucapkan Lukman cs.

"Lukman!"

"Tidak Bu. Saya tidak membikin surat itu," jawab Lukman gemetar.

"Kadir!"

"Tidak juga Bu," kata Kadir dengan tenang.

"Kalau begitu pasti Pardi. Betul kan?"

"Salah Bu. Saya sendiri tak pernah buat surat. Apalagi surat cinta," jawab Pardi terus terang.

Ha ha ha ha ..

He he he he ...

Hik hik hik ...

"Yunus kali?!"

"Apalagi saya Bu. Nulis saja belum rapi. Apalagi nulis surat .."

Ha ha ha ha ...

"Baiklah. Kalau begitu, ibu akan perlihatkan tulisannya pada teman kalian ..."

Bu Guru Elisa membuka kembali lembaran kertas putih bermotif bunga dahlia itu. Dia perlihatkan kepada siswa didiknya satu persatu.

Sampai di depan mata Nawas, Bu Guru Elisa tampak lega karena Nawas seolah tahu siapa yang menulis surat cinta itu.

"Tahu kan Nawas?"

"Ibu juga pasti tahu. Tulisan siapa itu."

Bu Guru Elisa berpikir sejenak.

"Lupa deh ibu."

"Lukman Bu."

Haaaa ...?

Marfuah dan Latifah kaget mendengarnya. Sementara yang lain, karena hanya samar-samar mendengar, pada bengong.

"Kamu yakin Was?"

"Yakin Bu. Kalau ibu tak percaya tengok saja buku Lukman."

"Baiklah."

Bu Guru Elisa mendekati Lukman. Dia minta muridnya ini membuka tasnya, lalu mengambil satu buah buku tulis untuk diperlihatkan padanya.

Sreeet ...

Sreeet ...

Tas dibuka.

Sebuah buku tulis yang berisikan tulisan mata pelajaran IPS. Dia ambil, kemudian diberikannya kepada Bu Guru Elisa.

Sekitar dua menit. Bu Guru Elisa mencocokkan tulisan yang tertera di surat cinta dengan tulisan di buku tulis Lukman.

Tidak sama?

Kenapa beda ya?

"Tidak sama kan Bu?"

Bu Guru Elisa mengiyakan.

"Saya punya bukti lain Bu," jawab Nawas.

Dia mengambil sebuah hape dari dalam tasnya. Hape kepunyaan Jamilah itu sengaja ia pinjam sebelum masuk kelas. Sengaja belum diperlihatkan pada Bu Guru Elisa karena dia berharap Lukman me
ngakui perbuatannya.

"Coba ibu lihat Was."

Nawas memberikan hape android berwarna hitam putih itu dalam keadaan menyala.

Tak perlu waktu lama. Sebuah vi deo berdurasi tiga menit itu memperlihatkan Lukman cs berkumpul dalam satu tempat.  Membuat surat yang ditulis oleh Lukman.

Kini Lukman tak bisa berkutik lagi ketika video itu diperlihatkan padanya, cs-nya dan para siswa.

Lukman sontak terdiam.

Merah padam mukanya.

"Betul kan?"

"Betul Bu. Tapi bukan saya sendirian yang membuatnya. Mereka juga lah yang menyuruh saya menulis," jawab Lukman, menoleh ke Kadir, Pardi dan Yunus.

"Kadir...!"

Kadir diam.

"Pardi!"

Juga diam.

"Yunus!"

Sama juga. Tidak memberikan jawaban.

Bu Guru Elisa menarik nafas lega sebelum kembali ke tempat duduknya semula.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar