Cerita untuk Anak
Soleh (24)
Oleh Wak Amin
"ASSALAMUALAIKUM warohmatullohi wabarokaatuh," ucap Kepala Sekolah SD Al-Munawar, Pak Mansyur.
Karena segenap undangan menjawab salam hampir tak kedengaran alias 'loyo', Pak Mansyur harus me ngulanginya sampai tiga kali.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh ..."
"Waalaikum salam warohmatullohi wabarokaaatuh," jawab hadirin serempak.
Ha ha ha ha ...
Riuh sesaat ...
"Nah begitu bapak-bapak, ibu-ibu. Semangat walau bulan tua. Walau tadi pagi belum sempat sarapan pagi. Harus kuat. Betul tidak?"
"Betuul .." Jawab bapak-bapak.
"Tidaaak." Jawab ibu-ibu.
Haaaa ..?
"Maksudnya Pak Kepala Sekolah," kata wali murid berkopiah putih sambil
melirik teman di sebelah kirinya, "Sarapan pagi tadi memang tidak sempat
karena di sini kan pasti makan .."
He he he he ...
"Betul sekali. Sekali-kali tak mengapalah puasa setengah hari. Betul apa betul?"
"Betuuuuul ..."
Suasana kembali hening ...
"Paaak!"
"Yaaa .."
"Buuuk!"
"Ya ..."
Ha ha ha ha ...
"Jadi bapak-bapak ibu-ibu sekalian. Hari ini sekolah kita ini genap berusia delapan tahun. Masih sangat muda. Kalau diibaratkan manusia, baru
duduk di kelas dua sekolah dasar. Betuul?"
"Betul Ustad, eeeh Pak Mansyur," jawab seorang ibu sambil tertawa geli
melihat teman di sebelahnya terbatuk-batuk karena kurang tidur semalam.
"Karena masih anak-anak, tentu masih harus mendapat bimbingan, terutama
dari kita para orang tua, orang terdekat, termasuk guru mereka di
sekolah. Betul apa tak betul?"
"Betuuul ..."
"Bapak dan ibu-ibu sekalian .. Saya selaku bapak kepala sekolah me
ngucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Karena
berkat doa dan dukungan bapak-bapak, ibu-ibu semuanya sekolah kita ini
bisa bertahan hingga saat ini."
Beragam polah dari hadirin ...
Ada yang minum air putih, berkipas karena kepanasan, harus meninggalkan
tempat duduk karena meng gendong bayi dan membawanya pergi ke luar
tenda agar tidak menangis karena kepanasan.
"Tapi kita tidak boleh berpuas diri. Betul apa betul?"
"Betuuul ..."
"Kita harus tetap berusaha dan bersama-sama memajukan sekolah kita ini.
Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menambah bangunan yang
telah ada .."
Sampai di sini para orang tua dan wali murid diam. Ada yang malah berbisik-bisik satu sama lain.
Di kursi paling belakang misalnya ...
"Pasti ujung-ujungnya minta sumbangan lagi. Betul tidak Bro?" Kata pria paruh baya bersandal jepit beda warna dan ukuran.
"Betul sekali," jawab temannya, menunduk setengah ngantuk.
Di kursi tengah ...
"Kamu ada duit berapa Bro?" Tanya lelaki berpakaian batik motif bunga warna-warni.
"Cuma ini yang kupunya." Mengeluarkan beberapa keping uang logam seribuan.
Dia menghitungnya. "Jumlah keseluruhannya dua puluh lima ribu rupiah
Pak," kata si bapak berkulit hitam legam keputih-putihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar