Cerita untuk Anak
Soleh (10)
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ...
Bu Guru Elisa membaca sepucuk 'surat cinta' di depan siswanya. Dia tahu tak mungkin surat itu ditulis Nawas buat Latifah.
"Baca saja Bu, biar kita tahu semua," kata Kadir dan Lukman bersemangat.
"Baiklah. Ibu akan membacanya. Tapi, sebelum ibu baca, ibu akan tanya dulu sama Latifah dan Nawas ya ..."
Siswa diam.
"Latifah ..."
"Saya Bu Guru."
"Boleh ibu baca ya isi suratnya?"
"Boleh Bu."
"Nawas?"
"Boleh Bu."
"Baiklah. Terima kasih."
Bu Elisa membaca 'surat sakti' itu.
"Buat temanku Latifah ...
Latifah ...
Aku menyayangimu selalu."
Wala walaa ...
Waaaau
Duileeee ...
"Ibu lanjutkan bacanya ..."
"Latifah ...
Aku, Nawas mengasihimu
Aku cinta kamu ... "
Wuuuu ...
Gombaaaal ...
"Ibu lanjutkan bacanya .."
"Latifah ...
Nanti sore aku ingin ke
rumahmu
Kita belajar bersama ...
Boleh kan Latifah?"
"Boleh ..." kata Pardi.
Hik .. Hik ... Hik ...
"Ibu lanjutkan bacanya ya ..."
"Ya Bu Guruuu ..."
"Latifah ...
Jangan bilang-bilang ya
Aku ke rumahmu ...
Cukuplah kau dan aku
saja yang tahu ..."
"Iya deh ..."
Ha ha ha ha ...
"Ibu lanjutkan bacanya ..."
"Lanjut Bu Guru."
"Itu dulu dari aku Latifah
Tunggu ya ...
Sore nanti aku akan datang
ke rumahmu ...
Salam dari aku.
Nawas .."
Plak ... pak ... plak .. pak ...
Wuuuu ...
Eheeem ...
"Sekarang ibu lipat kembali suratnya. Dan sekarang ibu minta Lukman sama Kadir ke depan."
Haaaa ...?
Huuuu ...?
"Untuk apa Bu?" Tanya Kadir seolah tak bersalah. Begitu juga dengan Lukman.
Siswa lain pada heran. Bengong.
Ada apa?
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Tiba-tiba Bu Elisa memanggil Lukman dan Kadir, termasuk beberapa teman dekat keduanya, seperti Pardi dan Yunus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar