Cerita Rakyat (14)
Oleh aminuddin
14. KALTIM
Manusia Langit
DI hulu kanan Sungai Mahakam terletak Kampung Londong. Pada zaman dahulu, kampung itu hanya dihuni oleh beberapa keluarga. Sa lah satu keluarga itu bernama Jue.
Istrinya bernama Bulan. Suami istri itu sangat mengharapkan seorang anak. Siang malam keduanya berdoa kepada Tuhan. Akan tetapi, doa itu belum dikabulkan juga, hingga keduanya makin berangkat tua.
“Tetapi, aku yakin,” kata Jue kepada istrinya, “Tuhan akan mengabulkan permintaan kita. Aku mengharapkan seorang anak, lelaki atau perempuan ...!”
Keluarga Jue hidup bertani. Pada musim ladang keduanya memba bat hutan dan mengolah tanah. Setiap hari keduanya bekerja rajin sekali.
“Hidup kita tidak terlalu berkekurangan,” kata Jue kepada istrinya. “Tetapi, sangat sepi memang rumah yang tidak dihuni anak-anak.”
“Kita harus tabah,” jawab istrinya. “Suatu saat Tuhan pasti akan mengabulkan apa yang kita minta ...!”
Pada suatu hari Jue pergi berburu. Beberapa ekor anjing pemburunya dibawa serta. Namun, seharian itu, tidak ada binatang yang ditemui. Seakan-akan hutan kosong dari rusa, kancil, atau menjangan.
Bahkan, tidak seekor landak atau babi yang dapat ditemui. Karena Jue menganggap hari itu hari sial, ia pun pulang.
Namun, dari kejauhan terdengar suara anjingnya menyalak. Salakan itu makin riuh. Jue segera berlari ke sana. Akan tetapi, aneh, anjing-anjing itu hanya menyalak ke rumpun bambu.
“Anjing gila ...!” gerutu Jue. “Kukira kancil atau trenggiling yang disalak, tahu-tahu hanya rumpun bambu!”
Lalu, dipanggilnya anjing itu satu per satu. Akan tetapi, tidak seekor pun anjing itu mau beranjak. Malah anjing- anjing itu menyalak makin keras.
Akhirnya, Jue pulang sendiri. Di rumah, diceritakan pengalamannya dengan anjing yang menyalaki rumpun bambu.
Istrinya tidak menanggapi ...
Malam itu keduanya tidur pulas.
Aneh! Dalam tidur suami istri itu sama-lama bermimpi didatangi bidadari.
“Pergilah ke rumpun bambu yang ditunggui anjing pemburu. Tuhan mengabulkan doa kalian. Di sana ada bayi putri, yaitu bayi putri Bambu Kuning. Peliharalah ia dengan kasih sayang! Putri itu nanti akan diperistri oleh dewa langit!”
Jue dan Bulan amat bersuka cita mendapat kabar dari bidadari itu. Pagi-pagi sekali keduanya berangkat ke hutan.
Saat tiba di pokok bambu, beberapa ekor anjing tetap di tempat sambil sekali-sekali menyalak. Keduanya hampir- hampir tidak percaya ketika melihat seorang bayi mungil tertidur di antara pokok-pokok bambu kuning itu.
Segera bayi itu dibawa ke rumah dan dipelihara dengan kasih sayang yang berlimpah. la akhirnya tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, menjadi pujaan dan kembang desa.
Setelah gadis itu meningkat remaja, banyak sekali pemuda datang melamar. Namun, tidak satu pun berkenan di hatinya.
"Aku masih menunggu seorang lelaki yang telah dijanjikan,” katanya kepada kedua orang tuanya.
Di arah lain, di tepi kiri Sungai Mahakam terletak kampung Sendawar. Di kampung ini pernah terjadi kehebohan karena didatangi suara dari langit. Suara itu datang seperti guntur membelah angkasa.
"Akan diturunkan sepasukan tentara dewata! Akan diturunkan putra langit untuk mengolah bumi!”
Suara yang datang itu sangat tiba-tiba dan menakutkan. Orang-orang kampung masing-masing masuk ke rumah dan mempercakapkan kata-kata itu di antara keluarga.
"Mungkin para dewata akan menjajah kita,” kata seseorang.
"Mungkin mereka akan membinasakan kita,” jawab yang lainnya.
Mereka dicekam ketakutan ...
Pada suatu hari, tanpa diduga-duga terlihatlah sebuah benda melayang-layang dari angkasa. Benda itu tampak diturunkan secara perlahan-lahan.
“Cepat sambut! Cepat sambut!” seru suara dari langit.
Orang-orang kalang kabut. Banyak yang tidak berani keluar rumah dan bersembunyi di kamar sepi.
Hanya seorang yang berani menyahut, “Turunkan! Akan kami sambut!”
Benda itu melayang semakin dekat dan akhirnya dapat tercapai tangan.
“Aku Nyangkar, petinggi di Negeri Sendawar!” kata Pak Petinggi memperkenalkan diri.
Seseorang mengulurkan tangan. Lelaki itu sangat tampan dan gagah. “Aku Puncan Karna,” katanya. “Ini tujuh sengkerek, punggawa saya!”
Mereka pun keluar dari langkar, alat yang mereka pergunakan untuk turun ke bumi.
“Kami diutus Tuhan untuk mengolah bumi,” kata Puncan Karna. “Oleh karena itu, kami ingin bersaudara dengan kalian di sini!”
Begitulah Puncan Karna bersama ketujuh punggawanya hidup di antara penduduk desa. Bertahun-tahun mereka membangun daerah itu hingga maju dan makmur.
Di daerah Londong terjadi kegemparan karena Putri Bambu Kuning terkena musibah. Tidak seorang dukun pun dapat menyembuhkan matanya.
Kedua orang tuanya merasa sedih sekali ...
“Tuhan telah mengabulkan doa kita, tetapi penyakit ini merenggut nyawanya,” keluh Bu Bulan. “Kita harus mendapatkan ikhtiar untuk menyembuhkannya.”
Berhari-hari dan berminggu-minggu mereka mencari dukun dan tukang obat, tetapi tidak ada yang berhasil mengobati.
Pada suatu ketika suami istri itu ditemui bidadari. “Mata Putri Bambu Kuning akan terbuka jika ia berjumpa dengan kekasihnya. Lelaki yang akan menjadi jodohnya telah lama ada di sini ..."
Suami istri itu merasa terhibur, tetapi keduanya tidak tahu lelaki mana yang mau memperistri seorang gadis buta.
Beberapa pemuda memang ada yang datang bertandang, tetapi mata gadis itu tetap tidak mau terbuka.
Rupanya dengan kehendak Tuhan Allah, Puncan Karna pergi berburu. Bersama beberapa punggawanya, mereka tersesat di hutan raya.
Akhirnya mereka tiba di Londong. Karena rumah Jue di tepi desa, rumah itulah yang pertama mereka singgahi.
Saat Puncan Karna melihat ke arah gadis yang terbaring di amben, mata gadis itu ccliklah. Keduanya saling berpandangan.
Akhirnya, kedua remaja itu berse pakat untuk membangun rumah tangga.
Menurut cerita, penduduk pedalaman yang ada sekarang ini berasal dari keturunan manusia langit ini.
Ada delapan bersaudara yang ber pencar di delapan tempat dan akhir nya membentuk suku-suku kecil, seperti Benuaq, Tonyoi, Monang, Kenyah, Dusun, Kerayan, Bawo, dan Urut.
Diceritakan pula bahwa kedelapan bersaudara itu bersumpah untuk tidak berkumpul kembali. Oleh ka rena itulah mereka menyebar ke seluruh Pulau Kalimantan.
Mereka membentuk bahasa dan kebudayaan masing- masing. Satu hal yang harus tetap mereka junju ng adalah bahwa mereka berasal dari keturunan yang satu, yaitu dari Manusia Langit dan Putri Bambu Kuning.
Oleh karena itu, ada upacara yang biasanya selalu dilakukan oleh su ku- suku pedalaman, yaitu upacara balian untuk menghormati roh nenek moyang.
Upacara ini tetap dilaksanakan hingga sekarang ...
_____
Klip-ing.blogspot.com > 2016/09 > cerita ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar