Mangkuk (3)
Oleh Wak Amin
SAAT keempatnya berpisah jalan, menggunakan mobil pribadi ma si ng-masing, tanpa disadari Sir Ed ward, dia diikuti dari belakang.
Sebuah mobil sedan hitam perla han mendekat ...
Lalu memepet. Kemudian menda hului sebelum menghadang laju mobil Sir Edward.
Syiuuuut ...
Kaget dan mengerem mendadak ..
Sir Edward hanya menunggu, sam pai si pengemudi mendekat.
Tok .. Tok .. Tok ..
Dia mengetuk kacs mobil.
Tanpa curiga, Sir Edward membuka kaca jendela mobil separo.
Belum sempat tanya jawab ...
Door ...
Sebuah letusan senjata kecil tanpa suara mengenai kepala Sir Edward.
Tewas seketika ..
Si penembak melenggang kangku ng kembali ke mobilnya ...
Karena suasana jalan sepi, hanya satu dua kendaraan roda empat ya ng lewat dengan kecepatan amat cepat, tak seorang pun yang meli hat aksi pembunuhan itu.
Jelang Isya', Mr Clean dan Letnan Ratna, melakukan patroli, berhenti di dekat mobil kepunyaan Sir Ed ward.
Mula-mula turun Mr Clean, disusul Letnan Ratna. Keduanya sama-sa ma mengeluarkan jasad Sir Edward yang sudah memucat.
Ada bercak-bercak darah di sekitar kepala Sir Edward. Mata sedikit ter belalak. Sebuah lubang bekas pe luru ada di sekitar pelipis.
"Sepertinya sudah beberapa jam kejadiannya Let," kata Mr Clean.
Dia kemudian menelepon kolega nya di mabes kepolisian ...
"Clean ... Coba lihat ini!"
Letnan Ratna memperlihatkan sebu ah raket tenis berikut pakaian yang dikenakan Sir Edward saat bermain tenis di jok belakang.
"Sebuah petunjuk yang bagus," kata Mr Clean.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar