Oleh aminuddin
Catatan Akhir Senja ...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ..
Semoga Allah SWT meridhai kita semua..
Mungkin banyak diantara kita yang bertanya-tanya di manakah sesu ngguhnya makam Fatimah Az- Zahra, putri kesayangan Nabi Muhammad SAW.
Artikel ini kami posting karena be gitu banyak pertanyaan kepada ka mi tentang kematian Fatimah Az- Zahra, sejarah perselisihan antara Fatimah Az-Zahra, anak Kesaya ngan Rasulullah SAW.
Masalah ini juga telah disepakati kebenarannya oleh dua mazhab, Sunnah dan Syi'ah.
Orang yang insaf dan berakal tidak akan dapat lari kecuali harus me ngatakan bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang keliru dalam per selisihannya dengan Fatimah, dan ia tidak bisa menolak fakta bahwa Abu Bakar pernah menzalimi Peng hulu Alam semesta ini.
> Makam Fatimah
Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah Az-Zahra dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib.
Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini.
Di antaranya adalah, seperti dika takan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah Az-Zahra', (semoga Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai'at Ali.
Mereka menjawab: "Wahai putri Rasulullah, kami telah berikan bai'at kami pada orang ini (Abu Bakar). Seandainya suamimu dan putra pamanmu mendahului Abu Bakar niscaya kami tidak akan berpaling darinya."
Ali berkata: "Apakah aku harus tinggalkan Nabi di rumahnya dan tidak kuurus jenazahnya, lalu keluar berdebat tentang kepemimpinan ini?"
Fatimah menyahut, "Abul Hasan telah melakukan apa yang sepatut nya beliau lakukan, sementara me reka telah melakukan sesuatu yang hanya Allah sajalah akan menjadi Penghisab dan Penuntutnya."
Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya.
Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara de ngannya sampai beliau wafat.
Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali.
Fatimah juga berwasiat agar jasad nya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya.
Untuk pembuktian ini seseorang telah berangkat ke Madinah untuk memastikan kebenaran fakta seja rah ini.
Di sana didapati bahwa pusaranya memang masih tidak diketahui oleh siapa pun. Sebagian berkata ada di Kamar Nabi, dan sebagian lain berkata ada di rumahnya yang berhadapan dengan Kamar Nabi.
Ada juga yang berpendapat pusa ranya terletak di Baqi', di tengah-tengah pusara keluarga Nabi yang lain.
Tapi tiada satupun pendapat yang berani memastikan dimana letaknya ...
Alhasil, kami berkesimpulan bahwa Fatimah Az-Zahra' sebenarnya ingin melaporkan kepada generasi musli min berikutnya tentang tragedi yang disaksikannya pada zaman nya, agar mereka bertanya-tanya kenapa Fatimah sampai memohon pada suaminya agar dikebumikan di malam hari secara sembunyi dan tidak dihadiri oleh siapa pun.
Hal ini juga memungkinkan seorang muslim untuk sampai pada sebuah kebenaran lewat telaah-telaahnya yang intensif dalam bidang sejarah.
Kami juga mendapati bahwa pen ziarah yang ingin berziarah ke kubu ran Utsman bin Affan terpaksa ha rus menempuh jalan yang cukup jauh agar bisa sampai ke sudut akhir dari wilayah tanah pekuburan Jannatul Baqi'.
Di sana dia juga akan dapati bahwa kuburan Utsman berada persis di bawah sebuah dinding, sementara kebanyakan sahabat lain dikubur kan di tempat yang berhampiran dengan pintu masuk Baqi'.
Hatta Malik bin Anas, Imam mazhab Maliki, seorang tabi'it-tabi'in (generasi keempat setelah Nabi) juga dikuburkan dekat dengan istri-istri Nabi.
Hal ini bagi kami bertambah jelas apa yang dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Utsman dikuburkan di Hasy Kaukab, sebidang tanah milik seorang Yahudi.
Pada mulanya kaum muslimin melarang jasad Utsman dikebumikan di Baqi'...
Ketika Mua'wiyah menjabat sebagai khalifah dia beli tanah milik si Yahudi, kemudian memasukkannya sebagai bagian dari wilayah Baqi', agar kuburan Utsman juga termasuk di dalamnya.
Mereka yang ziarah ke Baqi' pasti akan dapat melihat hakekat ini dengan jelas sekali.
Aku semakin heran ketika kuketahui bahwa Fatimah a
Az-Zahra' adalah orang pertama yang menyusul kepergian ayahnya.
Antara wafat Rasul dengan wafat Fatimah hanya dipisahkan selang waktu enam bulan saja. Demikian pendapat sebagian ahli sejarah.
Tapi anehnya beliau tidak dikuburkan di sisi makam ayahnya!
Apabila Fatimah Zahra' berwasiat agar dikebumikan secara rahasia, dan beliau tidak dikuburkan dekat dengan pusara ayahnya seperti yang disebutkan di atas, lalu apa pula gerangan yang terjadi dengan jenazah putranya Hasan yang tidak dikuburkan dekat dengan pusara datuknya Muhammad SAW?
Ummul-mukminin Aisyah melarang jasad Hasan dikebumikan di sana. Ketika Husain datang untuk menge bumikan saudaranya Hasan di sisi pusara datuknya, Aisyah datang dengan menunggangi baghalnya sambil berteriak :
"Jangan kuburkan di rumahku orang yang tidak kusukai!"
Bani Umayah dan Bani Hasyim nya ris perang. Tetapi Imam Husain ke mudian berkata bahwa dia hanya membawa jenazah saudaranya un tuk "tabarruk" pada pusara datuk nya, kemudian dikuburkan di Baqi'.
Imam Hasan pernah berpesan agar jangan tertumpah setetes pun darah karenanya ...
Dalam konteks ini, Ibnu Abbas mendendangkan syairnya kepada Aisyah:
"Kau tunggangi onta
Kau tunggangi baghal
Kalau kau terus hidup
kau akan tunggangi gajah
Sahammu kesembilan dari seperdelapan
tapi telah kau ambil semuanya ..."
Ini adalah contoh dari rangkaian fakta yang sungguh mengherankan ..
Bagaimana Aisyah mewarisi se mua rumah Nabi sementara istri-istri beliau berjumlah sembilan, seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas di atas?
Apabila Nabi tidak meninggalkan harta waris seperti yang disaksikan oleh Abu Bakar kerananya dia melarangnya dari Fatimah, lalu bagaimana Aisyah dapat mewarisi pusaka Nabi?
Apakah ada dalam Al-Quran suatu ayat yang memberikan hak waris pada isteri tapi melarangnya dari anak perempuan?
Ataukah politik yang telah merobah segala sesuatu sehingga anak perempuan diharamkan dari menerima segala sesuatu dan si isteri diberi segala sesuatu?
Saya akan membawakan suatu kisah yang diceritakan oleh sebagi an ahli sejarah ..
Cerita ini ada kaitannya dengan hak pusaka ini ..
Ibnu Abil-Hadid al-Mu'tazili dalam bukunya 'Syarhu Nahjil Balaghah' pernah berkata:
"Suatu hari Aisyah dan Hafshah datang kepada Utsman pada pe riode pemerintahannya. Mereka minta agar pusaka Nabi tersebut diberikan kepada mereka.
Sambil membetulkan cara duduk nya, Utsman berkata kepada Aisyah:
" Engkau bersama orang yang du duk ini pernah datang membawa seorang badui yang masih hadas menyaksikan Nabi SAW bersabda:
"Kami para Nabi tidak meninggalkan harta pusaka."
Jika memang benar bahwa Nabi tidak meninggalkan sebarang warisan, lalu apa yang kalian minta ini?
Dan jika memang Nabi meninggalkan warisan pusaka, kenapa kalian larang haknya Fatimah?
Lalu Aisyah keluar dari rumah Utsman sambil marah-marah dan berkata:
"Bunuh si naâtsal. Sungguh, dia telah kufur."
Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua ..
Wassalam ..
____
- sumber : wikipedia
- https://padhydhy.blogspot.com > 2015/01
Tidak ada komentar:
Posting Komentar