Sabtu, 17 November 2018

Satu Tiang (14)

Satu Tiang (14)
Oleh Wak Amin





"TUNGGULAH dulu," kata Ridwan pada Ramli yang hendak menem bak mobil yang ada di belakangnya.

"Sudah gatal Bro," jawab Ramli. Mu lai membidikkan senjatanya dari ba lik kaca mobil.

"Buka pintunya pelan-pelan Bro," pinta Ramli.

Dia ingin menembak dengan cara bertiarap dengan 'menangolkan'
kepala di bawah pintu mobil yang terbuka sedikit buat menembak.

"Pelankan sedikit Bro," kata Ramli. Matanya mulai menyipit dan ...

Guaaar ...

Kap mobil Mr Clean terbuka. Sem pat zig-zug. Letnan Ratna menjerit. Mobil dibanting ke kanan.

Memutar dan berhenti di tengah jalan.

"Clean. Kamu tidak apa-apa?" Let nan Ratna kuatir melihat ada darah keluar dari lubang hidung Mr Clean.

"Enggak apa-apa kok Letnan," ucap Mr Clean, menenangkan hati kolega nya itu.

"Pegangan Let!"

Mr Clean memutar mobil dengan cepat, sehingga menimbulkan su ara keras dari ban belakang.

Ngepot ...

Siap melaju ke depan dengan kece patan penuh. Karena gelap, sese kali Letnan Ratna menembakkan peluru api ke udara.

Karena dilakukan berulangkali membuat geram anak buah Bos Besar.

"Sabar Bro. Masih jauh." Ridwan mengingatkan Ramli yang kian bersemangat melepaskan tembakan.

"Aku tak sabar melihat mereka mati Bro."

"Kalau kamu menembak sekarang, percuma Bro. Enggak bakalan kena. Pelor habis, kesal yang ada ..."

"Aaach kamu. Penakut amat kamu Wan. Kena atau tidak. Pelor habis atau masih ada, aku tak perduli. Ya ng penting mereka harus mati. Ya harus mati di tanganku."

Ha ha ha ha ...

Ramli ketawa lebar.

"Bro. Sudah ketawanya?"  Tegur Ridwan mengingatkan ..

"Coba kau tengok ke belakang."

Ramli menoleh. Dia terkejut mobil di belakang mereka sudah tidak ada lagi.

Kemana mereka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar