Satu Tiang (18)
Oleh aminuddin
KEESOKAN harinya Bos Besar me merintahkan anak buanhya untuk menggranat rumah Letnan Ratna. Sore hari.
Saat itu, sepulang dari kantor, Let nan Ratna mengaso sejenak di ka marnya. Sepuluh menit kemudian terdengarlah ledakan itu.
Warga sekitsr dibikin terkejut. Mere ka berhamburan keluar rumah. Men datangi kediaman Letnan Ratna yang baru saja bangun dari tidur nya.
Dia menelepon Mr Clean, memin tanya untuk segera mendatangi kediamannya yang semakin sore semakin banyak didatangi warga dari berbagai usia.
Mereka kaget. Karena selama ini di kawasan pemukiman tinggal me reka aman dari gangguan.
Saksi mata menyebutkan sebelum terjadinya ledakan ada pengendara ra motor yang berhenti tak jauh dari rumahnya Letnan Ratna.
Jumlah mereka dua orang. Tidak terlihat jelas wajah mereka karena ditutupi kaca helm.
Tak lama kemudian motor berbelok arah. Perlagan mendekati kedia man Letnan Ratna ...
Dari luar pagar, salah seorang te man pengendara melempar sesuatu ke teras ...
Entah apa yang dilempar ...
Beberapa detuk setelah motor be sar tadi barulah terjadi ledakan. Wa laupun tidak terlalu keras dan ha nya merusak kursi teras dan kaca jendela kamar depan, mengejutkan warga.
Tidak ada korban jiwa dan terluka akibat ledakan itu. Karena saat keja dian di sekitar rumah Letnan Ratna sepi.
Letnan Ratna tampak dikelilingi warga, khususnya para remaja pu teri dan ibu rumah tangga. Mereka mengucap syukur karena sang let nan selamat dari ledakan.
"Terima kasih dik, terima kasih Bu," ucapnya setelah menerima ciuman dan pelukan hangat silih berganti dari warga.
"Saya selamat berkat doa ibu-ibu sekalian," katanya kemudian.
Warga baru membubarkan diri setelah Mr Clean tiba di lokasi kejadian ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar