Sekuntum Bunga (3)
Oleh aminuddin
- Beranjak Dewasa
KETIKA Fatimah beranjak dewasa dan siap untuk dipersunting, ba nyak pria mulia dan ternama di zamannya mengajukan lamaran.
Sebut saja Khalifah pertama yakni Abu Bakar As-Sidhiq dan Khalifah kedua yakni Umar Bin Khattab.
Rupanya jodoh Fatimah bukan satu di antara keduanya. Lamaran Abu Bakar dan Umar tidak mendapat restu dari Rasulllah SAW.
Malaikat Jibril pun turun ke bumi dan mengabarkan pada Rasulullah SAW bahwa Fatimah hendak dini kahkan dengan Ali bin Abi Thalib.
Keduanya adalah sepasang anak manusia yang memang telah ditakdirkan bersama di dunia hingga akhirat.
Tak lama setelah datangnya kabar ini, Ali pun mendatangi Rasulullah dan menyampaikan niat tulusnya untuk mempersunting buah hatinya.
Dengan senang hati Rasulullah SAW pun menerima lamaran tersebut dan menikahkan Fatimah untuk Ali.
Selepas menikah, pasangan Fati mah juga Ali pun akhirnya sama-sama tahu jika mereka saling men cintai satu sama lain hanya karena Allah SWT.
Cinta keduanya begitu suci dan mulia. Saking sucinya, sebuah riwayat menjelaskan bahwa cinta keduanya hanya Allah dan mereka yang tahu.
Setan bahkan tak pernah tahu bah wa ada cinta yang begitu besar di hati keduanya hingga keduanya resmi menikah dan menjadi pasangan halal.
Sederhana
Acara pernikahan itu berlangsung dengan sederhana. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya.
Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedang nya. Tetapi Rasulullah SAW mence gahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan tidak setuju apabila Ali menjual perisainya.
Dengan mas kawin hanya 400 dirham, dia memulakan penghidu pan dengan wanita yang sangat dimuliakan Allah SWT di dunia dan akhirat ini.
Dan Ali pun menikahi Fathimah de ngan menggadaikan baju besinya kepada Ustman bin Affan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”.
Selanjutnya Rasulullah SAW men doakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4).
Bersuamikan Ali bin Abi Thalib bu kanlah satu kebanggaan yang men janjikan kekayaan harta. Karena Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang dari empat sahabat (Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab dan Us man bin Affan) yang sangat rapat dengan Rasulullah SAW tapi sangat miskin.
Namun jauh di sanubari Rasulullah SAW tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam terhadap Ali bin Abi Thalib.
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, “Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia daripada dia.” (HR Abu Hurairah).
Dengan demikian wanita pilihan untuk lelaki pilihan. Fatimah mewarisi akhlak ibunya Siti Khadijah.
Tidak pernah membebani dan me nyakiti suami dengan kata-kata atau sikap. Senantiasa senyum menyambut kepulangan suami hingga hilang separuh masalah suaminya.
- Buah Hati
Keluarga Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya.
Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah SAW diberi nama “Hasan”.
Rasul sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya.
Kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat suci Al-Quran ..
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehen dak menjadikan keturunan Rasu lullah SAW dari Fatimah Az- Zahra.
Rasul mengasuh kedua cucunya de ngan penuh kasih dan perhatian.
Senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah SAW keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasulullah SAW lewat di depan rumah Fatimah. Tiba-tiba be liau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir ...
Sepertinya Rasulullah SAW teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghen daki keturunan Rasulullah SAW berasal dari putrinya Fatimah Az- Zahra.
Dalam suatu kisah diceriterakan tentang keadaan rumah tangga Ali bin Abi Thalib yang hidup miskin dan serba kekurangan setelah menikah dengan Fatimah binti Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda :
“Wahai anakku bersabarlah. Sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah yang bermanfaat bagi keluarganya”.
Itulah jawaban Rasulullah SAW ke tika Fatimah mengadukan keadaan keluarganya ...
Suatu ketika, Rasulullah keluar dari rumah Fatimah dengan tanda-tan da kemarahan di wajahnya ..
Padahal beliau baru saja sampai di rumah Fatimah. Sikap itu sebagai reaksi beliau atas penampilan anak nya yang mengenakan giwang dan rantai terbuat dari perak, serta selot pintu rumah yang terbuat dari bahan sejenis perak.
Karena memahami sifat Rasulullah SAW , Fatimah segera mencopot perhiasan dan selot pintu serta me nyerahkannya kepada sang ayah seraya berkata. :
"Jadikanlah semua ini di jalan Allah, ya ayahku”.
Rasulullah SAW sangat terharu, dan bersabda: “Sungguh kamu telah melakukannya, wahai anakku. Ketahuilah, dunia ini bukan untuk Muhammad dan keluarganya. Seandainya dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, tak akan ada orang kafir diberi minum setetespun”.
Bukannya Ali bin Abi Thalib tidak mau menyediakan seorang pemban tu untuk isterinya tetapi memang keadaan kefakiranlah yang sede mikian rupa.
Ali bin Abi Thalib pun cukup me maklumi isterinya yang setiap hari mengurus anak-anak, memasak, membasuh, menggiling tepung, dan yang lebih memenatkan lagi terpak sa mengambil air melalui jalan ya ng berbatu-batu jauhnya sehingga kelihatan tanda di bahu kiri dan kanannya.
Suami mana yang tidak sayang ke pada isterinya ..
Pada suatu ketika, saat Ali bin Abi Thalib berada di rumah membantu istrinya menggiling tepung di dapur, Fatiman dengan nada berbisik ber kata: Terima kasih suamiku."
Suatu hari, Rasulullah SAW masuk ke rumah anaknya, didapati puteri nya (Fatimah) yang berpakaian ka sar itu sedang mengisar biji-biji gandum dalam linangan air mata.
Fatimah segera mengusap air mata nya tatkala menyedari kehadiran ayahanda kesayangannya itu.
Lalu ditanya oleh baginda :
“Wahai buah hatiku, apakah yang engkau tangiskan itu? Semoga Allah menggembirakanmu.”
Dalam nada sayu, Fatimah berkata, “Wahai ayahanda, sesungguhnya anakmu ini terlalu penat kerana ter paksa mengisar gandum dan me nguruskan segala urusan rumah seorang diri. Wahai ayahanda, ki ranya tidak keberatan bolehkah ayahanda meminta suamiku menye diakan seorang pembantu untukku?”.
Rasulullah SAW tersenyum seraya bangun mendapatkan kisaran te pung itu. Dengan lafaz Bismillah, Rasulullah meletakkan segenggam gandum ke dalam kisaran itu.
Dengan izin Allah, maka bergerak lah kisaran itu dengan sendirinya. Hati Fatimah sangat terhibur dan merasa sangat gembira dengan ha diah istimewa dari ayahandanya itu.
Habis semua gandumnya dikisar dan batu kisar itu tidak akan ber henti selagi tidak ada arahan untuk berhenti, sehingga Rasulullah SAW menghentikannya.
Bersabdalah Rasulullah SAW deng an kata-kata yang masyhur, “Wahai Fatimah, Gunung Uhud pernah ditawarkan kepadaku untuk menja di emas, namun ayahanda memilih untuk keluarga kita kesenangan di akhirat.”
Rasulullah SAW mau mendidik pute rinya bahawa kesusahan bukanlah penghalang untuk menjadi solehah.
Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan panda ngan kasih sayang, “Puteriku, mau kah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?”.
“Tentu sekali ya Rasulullah,” jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah SAW bersabda: “Jibril telah mengajarku beberapa kali mah. Setiap kali selesai sembah yang hendaklah membaca ‘Sub hanallah’ sepuluh kali, Alham du lillah’ sepuluh kali dan ‘Allahu Ak bar’ sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca ‘Subhanallah’, ‘Alhamdulillah’ dan ‘Allahu Akbar’ ini sebanyak tiga puluh tiga kali.”
Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Fatimah. Semua pe kerjaan rumah tangga dapat dilak sanakan dengan mudah dan sem purna meski tanpa pembantu ru mah tangga.
______
- https://www.vemale.com > lentera
- 3mbunhati.blogspot.com >
biografhy-say
Tidak ada komentar:
Posting Komentar