Cerita Rakyat (9)
Oleh aminuddin
9. BABEL
- Bujang Katak
BUJANG Katak, begitulah ia biasa dipanggil, karena ia memang me nyerupai katak. Kulitnya licin dan berwarna kehijauan, Iehernya pun pendek seperti katak.
Bujang Katak adalah anak tunggal wanita tua yang miskin. Dulu, wanita itu rajin berdoa agar Tuhan mengaruniakan seorang anak padanya.
Tanpa sengaja, ia berkata bahwa meskipun anak yang diberikan menyerupai katak, ia akan tetap mencintainya. Rupanya Tuhan mengabulkan doanya, dan lahirlah si Bujang Katak.
Bujang Katak rajin membantu ibunya di ladang. Para penduduk desa pun menyukai Bujang Katak karena sikapnya yang ramah dan suka membantu.
Belakangan ini Bujang Katak tam pak murung. Ia sering duduk mela mun. Ibunya yang heran melihat perubahan sikapnya pun bertanya, "Apa yang kau pikirkan, Nak?
Seharian kau hanya duduk melamun."
Bujang Katak menghela napas, "Aku sekarang sudah dewasa Bu, sudah saatnya aku menikah."
Ibunya tersenyum, "Ah, rupanya kau sedang jatuh cinta. Katakan pada Ibu siapa wanita itu dan Ibu akan segera melamarnya."
"Putri Raja, Bu. Aku dengar Raja memiliki tujuh putri yang cantik-cantik. Maukah Ibu melamar salah satu dari mereka untukku?"
Ibunya sangat terkejut, "Mana mungkin seorang putri raja sudi menikah dengan anakku," pikirnya dalam hati.
Namun karena sangat menyayangi anaknya, ibu itu pun mengiyakan.
Esok harinya, si Ibu berangkat ke istana. Tak lupa ia membawa sedikit buah tangan untuk Raja. Sesampainya di istana, Raja segera menanyakan maksud kedatangannya.
"Ampun Baginda. Maafkan hamba jika lancang. Maksud kedatangan hamba adalah untuk melamar salah satu putri Baginda untuk putra hamba," kata Ibu dengan sedikit cemas.
Raja mengernyit. Dipandangnya ibu itu dari atas sampai ke bawah.
"Wanita miskin ini rupanya salah tujuan. Mana mau putri-putriku bersuamikan orang miskin?" pikirnya dalam hati.
Meski berpikir demikian, karena sang Raja merupakan Raja yang bijaksana, Raja tak mau mengecilkan hati ibu Bujang Katak.
Beliau lalu memanggil ketujuh putrinya untuk menemui ibu tersebut.
"Putri-putriku, apakah ada dari kalian yang bersedia menikah dengan putra wanita tua ini?" tanya Raja.
Serempak putri-putri itu tertawa mengejek.
"Hai wanita tua, anakmu mimpi di siang bolong, ya?"
Mereka lalu masuk kembali ke is tana dan tak menghiraukan ibu Bujang Katak.
Hanya putri bungsu raja yang tetap tinggal. Ia menghampiri ibu Bujang Katak dan berkata, "Pulanglah. Katakan pada putramu untuk datang sendiri melamarku."
"Bungsu, apakah kau benar-benar ingin menikah dengan Bujang Katak? Ia hanya pemuda miskin dan rupanya seperti katak," kata Raja panik.
Lebih dari itu Putri bungsu merupakan putri yang paling cantik dan putri yang paling baik hati diantara ketujuh putrinya.
Sang Rajapun sebenarnya paling sayang dengan Putri Bungsu karena selain cerdas, putri bungsu juga anak yang bijaksana.
"Jika Ayahanda mengizinkan, aku bersedia menikah dengan Bujang Katak. Aku mendengar Bujang Katak adalah pria yang baik. Bukankah aku harus mencari suami yang baik?" jawab Putri Bungsu.
Raja tak bisa menjawab ...
Ibu Bujang Katak pun segera pulang untuk memberitahu kabar gembira ini pada Bujang Katak.
Keesokan harinya, Bujang Katak pergi ke istana.
"Hai Bujang Katak, kau boleh memperistri putri bungsuku, tapi ada syaratnya," kata Raja saat Bujang Katak menghadap.
Sang Raja sengaja akan memberi suatu syarat yang sangat sulit sehingga tidak mungkin dapat terwujud.
Hal ini sebenarnya untuk menolak lamaran Bujang Katak secara halus.
"Apa pun syaratnya, hamba akan berusaha memenuhinya," jawab Bujang Katak mantap.
"Aku ingin kau membangun jembatan emas di atas sungai yang menghubungkan istana ini dengan desamu. Suatu saat jika aku ingin mengunjungi putriku di desamu, aku tak perlu menyeberang sungai dengan perahu. Cukup dengan melewati jembatan emas itu. Apakah kau mampu memenuhinya?" tanya Raja.
"Siap Baginda. Hamba akan segera membangun jembatan itu,” kata Bujang Katak dengan nada yakin dan mantap.
"Ingat Bujang Katak! Jembatan itu harus siap dalam waktu satu minggu, Kalau tidak, jangan harap kau bisa menikahi putriku!" ujar Raja menambahkan syarat yang diajukan pada Bujang Katak.
Bujang Katak kembali ke rumahnya. Ia menceritakan permintaan Raja kepada ibunya.
"Tapi anakku... kita ini hanya orang miskin. Mana mampu kita membeli emas untuk membangun jembatan itu?" Ucap Ibu Bujang Katak memelas.
"Bu, dengan pertolongan Tuhan, apa pun bisa kita lakukan. Aku akan memohon pada Tuhan untuk memberi jalan kepadaku," sahut Bujang Katak mantap.
Malam itu, Bujang Katak terus berdoa dan berdoa. Ia yakin Tuhan akan menolongnya.
Pagi-pagi, seperti biasa Bujang Katak bangun dan bersiap pergi ke ladang. Ketika ia mandi, keajaiban pun terjadi. Kulitnya yang tebal dan licin terkelupas.
Tiap kali ia mengguyurkan air ke tubuhnya, kulitnya rontok. Perlahan-lahan, seluruh kulit tubuhnya terkelupas.
Bujang Katak heran ...
Ia menatap onggokan kulitnya yang terkelupas. Ia segera masuk rumah untuk bercermin.
Alangkah kagetnya ia, di hadapan nya tampak sosok pemuda tampan dengan kulit kecokelatan!
Bukan lagi pemuda yang menyerupai katak ...
Tak percaya, Bujang Katak terus meraba wajahnya. "Ibu... Ibu... cepat kemari... lihatlah diriku, Bu!" teriak Bujang Katak.
Ibunya tergopoh-gopoh mengham pirinya. "Ya Tuhan, sungguh besar cinta-Mu pada anakku ini," seru Ibu sambil memeluk Bujang Katak.
Bujang Katak kembali ke sumur untuk meneruskan mandinya. Sekali lagi, keajaiban terjadi. Onggokan kulit yang tebal itu telah berubah menjadi emas!
Bujang Katak berteriak-teriak kegirangan, "Terima kasih Tuhan, terima kasih... Kau sudah memberikan jalan keluar untukku."
Bujang Katak menunjukkan emas itu pada ibunya. "Bu, sekarang aku sudah bisa membangun jembatan emas. Doakan aku agar bisa menye Iesaikannya tepat waktu. Bujang Katak mulai bekerja, siang dan malam tiada henti.
Hari yang ditentukan telah tiba. Bujang Katak dan ibunya menghadap Raja.
Saat itu, Raja dan para putrinya sedang berkumpul ...
Mereka semua heran melihat sosok pemuda yang datang menghadap Raja.
"Hai wanita tua, mana putramu yang seperti katak itu? Siapa pemuda ini?" tanya Sang Raja kebingungan.
"Ampun Baginda, pemuda ini adalah Bujang Katak. Tuhan telah mengubah wujudnya menjadi pemuda yang tampan," jawab ibu Bujang Katak.
Mareka saling berpandangan. Putri Bungsu pun tersenyum bahagia.
"Hei anak muda, meskipun kau sudah menjadi pemuda yang tam pan, kau tetap harus memenuhi syaratku. Apakah jembatan emas itu sudah jadi?" tanya Sang Raja.
"Tentu saja Baginda. Mari hamba antar Baginda untuk melihatnya," jawab Bujang Katak.
Pada pagi hari, jembatan emas itu sungguh indah. Warna keemasan memantul dari setiap bagian jembatan.
Raja senang melihat tekad dan usaha Bujang Katak untuk menikahi putri bungsunya.
"Rupanya pilihan Putri Bungsu memang tepat. Pemuda ini mau bekerja keras demi mencapai cita-citanya," pikir Raja.
"Baiklah Bujang Katak. Mari kita kembali ke istana dan membicara kan pesta pernikahanmu dengan Putri Bungsu," ajak Raja.
Bujang Katak pun mengangguk setuju. Ia mengulurkan tangannya pada Putri Bungsu.
Dengan malu-malu, Putri Bungsu menyambut uluran tangan calon suaminya.
- Asal Mula Sungai Jodoh
DAHULU kala, hiduplah seorang gadis bernama Mah Bongsu. la sudah yatim piatu dan bekerja se bagai pembantu di rumah Mah Pi ah, seorang perempuan tua yang sangat serakah dan mempunyai seorang anak bernama Siti Mayang yang sifatnya sangat mirip dengan ibunya.
Pada suatu hari, seperti biasa Mah Bongsu pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Seekor ular yang melintas di dekatnya membuat Mah Bongsu sangat ketakutan.
Namun ular itu tidak menyerang Mah Bongsu. Ia berenang di sekitar gadis itu sambil menunjukkan luka-Iuka di kulitnya.
Merasa kasihan melihat luka ular tersebut, Mah Bongsu membera nikan diri mendekati si ular dan mengambilnya.
Dibawanya ular tersebut ke rumah nya dan diletakkan di kamarnya.
Setiap kali kulit sang ular terlepas, Mah Bongsu memungutnya dan membakarnya. Jika asapnya me ngarah ke Singapura, tiba tiba ter dapat tumpukan emas dan berlian.
Jika asapnya mengarah ke kota Bandar Lampung, akan berdata ngan berkodi-kodi kain sutra Lampung.
Dalam waktu singkat Mah Bongsu menjadi gadis kaya raya. Penduduk sekitar merasa heran dengan kekayaaan Mah Bongsu.
Namun Mah Bongsu adalah orang yang dermawan. la selalu memban tu penduduk sekitar dengan tulus.
Akhirnya, kekayaan Mah Bongsu diketahui oleh Mah Piah dan Siti Mayang. Mereka pun berusaha mencari tahu darimana asal kekayaan tersebut.
Suatu waktu, mereka melihat se ekor ular yang sudah terkelupas kulitnya di kamar Mah Bongsu yang diyakini sebagai hewan ajaib yang mendatangkan harta kekayaan.
Ibu dan anak ini pun pergi ke hutan mencari ular. Mereka mendapati se ekor ular berbisa yang dibawanya pulang, kemudian dilepaskan di kamar Siti Mayang.
Mereka beranggapan ular tersebut akan mendatangkan kekayaan yang berlimpah. Namun yang mereka dapati justru malapetaka.
Siti Mayang meninggal dunia ka rena disengat ular berbisa tersebut.
Sementara itu, ular yang dirawat oleh Mah Bongsu telah sembuh.
Suatu hari, ketika Mah Bongsu akan memberinya makan, ular itu berkata kepada Mah Bongsu.
"Malam ini, tolong antarkan aku ke sungai".
Mah Bongsu pun membawa ular tersebut ke sungai. Sesampainya mereka di sungai, sang ular berkata.
"Mah Bongsu, sudah waktunya aku melamarmu sebagai istriku:"
Mang Bongsu tercengang. Seketika ular tersebut berubah wujud menja di seorang pemuda yang gagah dan tampan.
Sementara kulitnya menjadi sebuah rumah yang megah dan sangat in dah. Mereka kemudian menikah dan hidup berbahagia.
Konon, karena kejadian tersebut, desa itu dinamakan Desa Tiban oleh penduduk, yang berarti ketiban rezeki.
Sedangkan sungai tempat sang Pa ngeran melamar Mah Bongsu, dina makan Sungai Jodoh, karena diper caya sebagai tempat bertemu jo doh.
_______
- Pesan moral dari cerita ini (Bujang Katak) adalah jangan menilai ora ng dari penampilan fisiknya saja. Usaha, kerja keras, dan doa akan menjadikan seseorang itu sukses.
- https ://dongengceritarakyat.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar