Jumat, 09 November 2018

Kisah di Balik Berita (58)

Kisah di Balik Berita (58)
Oleh aminuddin




Kisah Sukses IV



Sukses Jadi Pengusaha

NAMA Bondan Winarno sudah ti dak asing lagi di telinga masyara kat Indonesia. Wajahnya kerap tampil sebagai presenter acara kuliner di sebuah stasiun televisi swasta setiap akhir pekan.

Bondan Winarno lahir di Surabaya, 29 April 1950. Bondan remaja sudah aktif menjadi penulis lepas. Karya tulisannya sering mengisi halaman beberapa media cetak besar.

Dia pernah menjadi juru keker alias juru kamera di Pusat Penerangan Hankam di periode 1969-1970.

Jebolan Universitas Diponegoro itu juga pernah mencicipi jabatan Ma najer di PT Sinar Kasih pada 1979-1983, Direktur Utama PT Mitra Balita 1983, pengasuh rubrik kiat Tempo di periode 1984, dan Wakil Pemimpin Redaksi Majalah SWA pada 1985.

Bondan memutuskan untuk banting stir menjadi pengusaha pada perio de 1987-1994. Saat itu, dia meme gang posisi sebagainPresiden Oce an Beauty International, sebuah perusahaan makanan laut yang bermarkas di Amerika Serikat (AS).

Nama dan karier Bondan makin melejit setelah membawakan acara Wisata Kuliner pada 2002-2012 dengan gaya dan ucapan khas 'pokoe maknyus'.

Bondan merupakan pendiri sekali gus pemilik kedai kopi Kopitiam Oey, serta Komisaris Independen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk, perusahaan yang bergerak di sektor pangan sejak 2009.

Bondan Winarno menilai harga kopi yang ditawarkan di kafe kebanya kan sangat mahal. Ia pun berpikir bagaimana caranya supaya menye diakan tempat minum kopi yang nyaman, tetapi dengan harga yang terjangkau.

Nongkrong di warung kopi sudah menjadi gaya hidup banyak orang. Tempat yang nyaman dikombina sikan dengan teman ngobrol yang seru sudah pasti menjadi kegiatan menyenangkan.

Ditambah lagi dengan harga yang bersahabat, nongkrong di warung kopi bisa dijangkau oleh siapa saja.

Atas dasar ini, Bondan Winarno mendirikan Kopitiam Oey. Kini outlet-nya sudah tersebar di ber bagai daerah di Indonesia.

Kecuali yang ada di Jalan Sabang, Tune Hotel Pasar Baru, Bandung dan Sentul City, seluruh outlet bersifat kemitraan.

Melansir dari situs Kopitiam Oey, sebuah tulisan dengan gaya jadul menjadi filosofi Bondan Winarno dalam mendirikan Kopitiam Oey.

Sebuah tulisan dengan ejaan lama alias jadul, dengan judul "Koffie Ko’ Mihil?", berikut sekilas tulisan yang menceritakan alasan Bondan Winar no mendirikan Kopitiam Oey.

"Saja berfikir keras oentoek bisa menjadjiken koffie bermoetoe di tempat njang njaman, tetapi harganja tida bole mahal. Haroes ada oentoeng, soepaja oesaha bole voortbestaan alias teroes madjoe. Tetapi, para tamoe misti diberi harga njang masoek akal, soepaja marika njang boemipoetra maoepoen kaoem vreemde oosterlingen atawa kaoem peranakan njang toempa dara di negeri ini dapet bangga menikmati koffie sebagai productie bangsa sendiri."

(Saya berpikir keras untuk bisa menyajikan kopi bermutu di tempat yang nyaman, tetapi harganya tidak boleh mahal. Harus ada untung, supaya usaha boleh voortbestaan alias terus maju. Tetapi, para tamu mesti diberi harga yang masuk akal, supaya mereka yang bumiputra maupun kaum vreemde oosterlingen (orang Timur Asing) atau kaum peranakan di negeri ini dapat bangga menikmati kopi sebagai produksi bangsa sendiri," tulis Bondan Winarno).

____

m.liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar