Mana Tahan (14)
Oleh Wak Amin
DI lain tempat ...
"Hati-hati Non Maria. Mereka ber senjata dan kejam," kata Mayor Ha nafi ketika Maria bersiap melom p at dari semak belukar ke pekarang an rumah bertingkat dua di ujung sebuah kampung.
"Siap Mayor ..."
Huuuup ...
Loncatan pertama urung karena sa lah seorang kawanan mafia keluar dari pintu. Berdiri sambil melihat ke sekitar pekarangan rumah tua itu.
Pria brewokan itu masuk lagi. Di saat bersamaan Maria melakukan lompatan kedua. Mengendap-endap menuju samping kanan rumah tak berpenghuni itu.
Ada jendela. Dio intip dari luar. Tak ada orang di dalam. Ruangan itu ko song.
"Saya lanjut ke belakang Mayor," ka ta Maria lewat telepon genggam.
"Oke. Kami segera masuk. Roger."
"Roger."
Di belakang rumah kayu berfondasi semen dan batu bata coran itu ada tangga besi menuju lantai dua. Ma ria menaikinya.
Treeng ...
Sepatu Maria menginjak besi yang tersangkut di jari tangga.
"Joni. Periksa di luar!" Perintah Bre wok alias Kamil, bos mafia dengan nada suara tinggi.
"Siap Bos."
Diperiksa. Tak ada siapa-siapa di lu ar. Joni masuk lagi. Dia tutup dan kunci pintu itu.
Padahal, persis di plafon atas pintu, Maria sembunyi. Dia turun lagi se telah pintu ditutup lagi.
"Aman Bos. Tak ada siapa-siapa," kata Joni lega.
"Oke. Sekarang kita berangkat. Ev an. Kamu bawa mobil. Yang lain siap mengamankan .."
"Siap Bos."
Pintu garasi bawah tangga terbuka. Sebuah truk besar keluar. Melaju dengan kecepatan sedang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar