Bola Pingpong (2)
Oleh Wak Amin
SEMINGGU kemudian ..
DI ruang rapat ...
"Dugaan sementara, yang membu nuh Letnan Subekti adalah seorang profesional. Dia pembunuh bayar an," kata Pangsar Jenderal Sutarm an sambil memperlihat slide foto pelaku.
"Dia amat hebat dan selama ini suk ses menjalankan tugasnya," imbuh Pangsar.
"Tentang Kamil, pelakunya adalah kelompok mafia. Karena tidak me nginginkan rahasia mereka terbo ngkar, ya dihabisilah Kamil, saksi kunci."
"Saya Pangsar."
"Silakan Non Maria."
"Kembali ke Letnan Subekti. Mak sud saya pelakunya. Boleh tahu siapa dia punya nama."
"Mr Ford Non Maria," jawab Pang sar.
"Masih layang dan tampan. Apa Non Maria ...?"
Ha ha ha ...?
Peserta rapat lain serempak keta wa.
Maria jadi perhatian ...
"Yang saya tahu orangnya baik. Ta pi kenapa ya jadi pembunuh bayar an. Apalagi, sesuai hasil pelacakan intelijen kami, Non Maria dan May or Hanafi bakal jadi target berikut nya."
Mayor Hanafi dan Maria saling pan dang ...
"Jenderal tak perlu risaukan itu. Ka mi berdua siap mengatasinya," ka ta Mayor Hanafi dengan suara ma ntap, tegas.
"Saya apresiasi itu," jelas Pangsar. "Satu hal yang mesti saya harus sampaikan, walau agak berat ka rena baru dugaan sementara, Mr Ford adalah orang suruhan Raja Jasina."
Haaaa ...
"Enggak kapok-kapok juga itu raja," kata Maria. Geram mendengar na ma Raja Jasina disebut-sebut da lam rapat terbatas itu.
"Non Maria."
"Saya Jenderal."
"Baik-baik saja kan?" Pangsar Sutar man melihat mukanya Maria sem pat memerah tadinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar