Selasa, 06 Agustus 2019

Mana Tahan (9)

Mana Tahan (9)
Oleh Wak Amin




"FIRE ..!"

SEBUAH rudal dilepaskan. Menga rah ke kapal perang Cahaya. Diba las dengan tembakan dari dalam air lurus ke depan.

Meski dalam air, laju rudal yang di lepaskan mampu mendahului rud al musuh sebelum terjadi ledakan dahsyat di udara.

Saking dahsyatnya ledakan itu ter jadi, air laut muncrat ke udara ber sama ribuan ikan kecil dan besar  yang kemudian nyemplung ke da lam air tanpa bekas.

Kedua kapal perang, baik Cahaya maupun Mari sempat berguncang beberapa saat.

Langit berubah gelap. Hujan seolah akan segera turun ...

Beberapa saat kemudian. Sebuah pesawat tempur yang lepas landas dari kapal Mari mendekat dan siap beraksi ...

Tembakan jarak jauh dilepaskan ..

Jegaaar ...

Guaaar ...

Tepat mengenai bagian depan ka pal Mari. Beberapa fasilitas rusak. Tiga anak buah Kolonel Laut Basu ki terlempar dari atas kapal, nyem plung ke laut.

"Fire ...!" Perintah Kolonel Laut Basu ki.

Rudal nyamuk dilepaskan. Kurang dari satu menit kemudian terdeng ar ledakan keras di udara. Pesawat tempur yang leluasa bermanuver itu hancur berkeping-keping.

Ha ha ha ...

Para kru tertawa. Lawan pasti ked er. Rudal nyamuk belum ada tandi ngannya.

"Bangsaat. Mustahil," kata Kolonel Laut Santoso. Tak percaya dengan kejadian barusan.

Sejauh ini pesawat tempur Jasina amat canggih dan tak tertandingi oleh angkatan perang manapun.

"Kenapa diam? Kasih solusi saya," bentak Kolonel Santoso pada anak buanya yang cuma diam dan meny esali hancurnya pesawat tempur kebanggaan Raja Jasina itu.

"Terbangkan lagi pesawat satunya Kolonel," kata salah seorang dari anggota pasukan berambut keri ting.

"Betul Kolonel," kata yang lain sam bil meneriakkan yel-yel 'Hidup Jasi na, Hidup Raja Jasina, Jayalah Ja sina, Pantang Mundur, Lebih Baik Mati daripada Menyerah.'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar