Minggu, 18 Maret 2018

Soleh (1)

Cerita untuk Anak



Soleh (1)
Oleh Wak Amin


 

KRIIIING ...

Kriiiing ...

Kriiiing ...

"Kue .. Peeeek .."

"Kue murah. Banyak macam. Ada pempek ... Peeeek"

"Pek ... peeem .. peeek."

Soleh turun dari sepedanya. Seperti biasa, jika melewati jembatan gantung, dia turun dan lebih senang meng gandeng sepedanya sambil berjalan.

Sepeda mini butut ...

Usai salat Subuh, sebelum berangkat ke sekolah, Soleh menyempat kan diri berjualan kue  keliling kam pung.

Bermacam-macam kue dia jual. Mulai dari pempek, kue ketan, donat, bakwan hingga pipis ketan dan pisang.

Soleh sangat senang ...

Buktinya, saat dan setelah berjualan, dia tak pernah mengeluh. Justru senang karena dia dapat uang jajan dari ibunya, hasil keuntungan jualan kue keliling.

Sang ibu sebenarnya kurang suka Soleh berjualan kue. Dia takut, karena terlalu capek, harus berbagi waktu dengan bersekolah, belum lagi tugas yang lain, jatuh sakit.

Namun berulangkali Soleh mengatakan bisa menjaga kebugaran dan kesehatan.

"Ibu tenang saja. Soleh cuma jualan sebentar. Pulang ke rumah, sarapan pagi dan berangkat ke sekolah."

"Tapi kalau kamu ada kerjaan lain, biar ibu saja yang berjualan ya Nak."

"Iya Bu."

Ayahnya Soleh, Pak Roni adalah seorang petani. Dia bercocok tanam padi, sayur mayur bersama rekan-rekannya sesama petani. Berangkat dari rumah lepas Subuh, atau paling lambat pukul 07.00 pagi.

Sementara ibunya membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue keliling. Terkadang pakai sepeda mini, kali lain berjalan kaki. Ia memutuskan berjalan kaki jika jarak tempuh menjajakan kue tidak  terlalu jauh dari kediamannya.

Hanya berkeling Desa Harum Wangi ...

"Peeeek .. Tukang pempeeek .. Sini Paaak ..!" panggil dua anak perem puan dari teras rumah.

Soleh mendekat ...

"Lain kali panggil kakak. Kak Soleh. Coba .." Pinta sang ibu sembari memberikan piring seng kepada Soleh.

"Beli kue ya Kak Soleh," ucap dua anak tadi malu-malu.

"Nah, begitu. Enak ibu dengarnya."

"Yang mana Bu?"

"Eeeeem .."

"Yang ini Kak. Tiga. Itu lima dan yang itu dua." Tunjuk si anak ber ambut ikal mayang.

Tiga pipis ketan, lima pempek dan dua bakwan.

"Tambah yang ini ya Nak Soleh. Dua saja," kata Bu Maryam. Dia pilih lemper dan donat.

Lepas dari kediaman Bu Maryam, dan menyinggahi beberapa rumah warga, Soleh bermaksud pulang.

Saat hendak membelokkan sepeda mininya ke sebelah kanan ...

"Enggak mau Papa. Enggak mau," teriak seorang anak perempuan seusia Soleh.

"Itu kan Jamilah .."

"Kenapa ya?"

"Enggak mau Pa. Jamilah enggak mau diantar Papa. Jamilah maunya sama Mama ..."

Jamilah menangis tersedu-sedan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar