Cerita untuk Anak
Soleh (7)
Oleh Wak Amin
"MAAFKAN kami. Kami salah."
Hik ... hik .. Hik ...
"Lukman. Ulangi lagi!"
"Baik Bu," jawab Lukman menyesali diri.
Kali ini berdua Kadir berkata ...
"Maafkan kami. Kami memang salah. Kami janji tidak akan lagi mengulanginya ..."
Lepas itu ...
"Suruh ngaji Bu Guru," kata Marfuah sambil berdiri.
"Iya Bu," sahut Marwiyah.
"Iya Bu." Anisah ikut-ikutan angkat jari telunjuk sambil berdiri.
Ternyata, Bu Guru Elisa mengapresiasi permintaan siswanya.
"Kalian berdua siap?" Tanya Bu Guru Elisa.
"Siap Bu," jawab keduanya serempak.
Ditunggu satu menit belum ada reaksi. Dua puluh detik setelahnya, sama juga. Kadir dan Lukman masih belum mau bernyanyi.
Siswa mulai kesal ...
"Keliling lapangan saja Bu," usul Nawas.
"Iya Bu, kalau mereka tak mau nyanyi," kata siswa lain. Susul menyusul bicara. Angkat jari telunjuk.
Bu Guru Elisa berdiri. Dia mendekati Kadir dan Lukman yang 'berlagak' bengong.
"Kalian pilihlah. Mau keliling lapangan atau bernyanyi saja."
Belum ada jawaban.
"Bagaimana? Pilih yang mana?"
Eeeeem ...
"Nyanyi saja Bu Guru Elisa."
Plak ... pak .. plak .. pak ..
Siswa bertepuk tangan.
Lukman dan Kadir bersiap duet. Lima detik kemudian terdengarlah suara emas keduanya ...
"Ampar-ampar pisang
Pisangku belum masak
Masak bigi
Dihurung bari-bari
Masak bigi
Dihurung bari-bari ...
Mangga lepok
Mangga lepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Bengkok dimakan api
Apinya elang curupan ...
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang
Nang mana batis kutung
Dikiti pi mawang ...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar