Selasa, 20 Maret 2018

Soleh (3)

Cerita untuk Anak


Soleh (3)
Oleh Wak Amin

 

KRIIING ...

Kriiing ...

Kriiing ...

Sreeet ..

Guarrr ...

Jatuh. Terkena kursi teras rumah warga. Salah seorang ibu buru-buru keluar dari dalam rumahnya. Dia se gera menolong setelah tahu yang terjatuh barusan adalah Soleh.

Syukurlah, meski jatuh berdua Jamilah, berikut sepeda mini bututnya, dua siswa kelas lima sekolah dasar ini tidak mengalami lecet sedikitpun.

"Hati-hati ya Nak Soleh," pesan si ibu.

"Ya Bu."

Sepeda mini butut dikayuh lagi. Keduanya tiba di rumah sekolah bertepatan dengan terdengarnya bunyi lonceng tanda masuk kelas.

Keduanya turun dari sepeda.

Dan ...

Horeee ...

  "Yeee dua-an
   Teman kita gandengan
    Senyum-senyum hai kawan
    Cocok nian pasangan ..."



Horeee ...

Plak pak plak pak ...

Riuh oleh tepuk tangan teman sekelas, baru reda setelah Bu Guru Elisa masuk kelas dan bersiap memulai pelajaran.

" Bu, saya ..." Kadir tiba-tiba angkat jari telunjuk.

"Ada apa Dir. Belum sarapan pagi ta?"

Ha ha ha ha ...

"Belum Bu. Beras di rumah Kadir habis. Jadi tak bisa sarapan pagi," ledek Lukman.

Bhua ha ha ha ..

"Ini Bu. Mau kasih tahu saja. Eheem ..." Kadir melirik Soleh dan Jamilah.

"Kenapa Dir? Kalian habis berantem apa?" Tanya Bi Guru Elisa.

"Bukan Bu," sahut Latifah. "Tapi sakit hati .."

He he he he ...

"Sakit hati? Sakit hati kenapa?" Semakin penasaran Bu Guru Elisa.

"Sakit hati tengok Jamilah berdua datang ke sekolah," kata Marfuah.

"Ah yang bener? Betul ya Dir?"

"Enggak betul Bu," jawab Kadir. Duduk kembali setelah sempat berdiri tadinya.

"Bohong Bu. Tadi saya lihat Kadirnya merengut saja pas tengok Jamilah dan Soleh berdua masuk kelas ..."

Hu hu hu hu ...

"Ya sudah. Saleh memang ibu yang pinta untuk menemani Jamilah ke sekolah. Karena kedua orang tuanya ada kerjaan yang tak bisa di tinggalkan. Kan kasihan tengok Jamilah ke sekolah sendirian."

"Jamilah kan punya sepeda Bu Elisa," ujar Latifah.

"Gilirkan saja Bu," usul Lukman. "Hari ini Soleh sudah. Nah, besoknya saya ..."

He he he he ...

"Enak saja. Enggak Bu. Besok Kadir saja Bu yang ngantar Jamilah ke sekolah."

"Tidak Bu," sahut Pardi. " Lebih adil kalau kita tanya langsung saja sama Jamilahnya. Maunya dia siapa?"

Jamilah cuma diam.

Begitu juga Soleh.

"Bagaimana Jamilah?"

"Terserah ibu guru sajalah," jawab Jamilah, terasa berat saat berucap kata.

Dipikir-pikir, ditimbang sana-sini, akhirnya diputuskan yang mengantar Jamilah besok adalah Latifah.

Horeeee ...

Heroooo ...

Wuuuuu ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar