Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (9)
Oleh : aminuddin
"Itu mereka Ki!" Kata si pemuda yang tertangkap basah saat hendak menyiram bensin di gedung perguruan Al-Kalam.
Agus cs tampak bersiap hendak me masuki gedung perguruan sambil membawa pedang.
"Ayo teman-teman ...!" Teriaknya pasa Iwan, Iwin dan beberapa pe muda kampung.
"Berhenti ...!" Kata Ki Ogan. Persis di depan Agus.
"Kalian mau apa? Mau membakar rumah dan perguruan saya?"
"Tidak Ki," jawab salah seorang pemuda berambut gondrong.
"Kami hanya ingin berburu babi."
"Tidak ada babi di sini. Kalian berbo hong. Kaluan ingin membakar per guruan saya. Ini saksinya ..."
Si pemuda kurus ini mengaku di ha dapan Agus dan teman-temannya
sekampung, dia memang disuruh membumi-hanguskan Perguruan Al-Kalam.
"Lebih baik kalian bubar sajalah. Ji ka tidak akan saya laporkan kepa da
pihak yang berwajib," ancam Ki Ogan. Sudah habis kesabarannya
menghadapi ulah Agus, Iwan dan Iwin.
"Laporkan saja Ki," tantang Agus. Siap berduel dengan Ki Ogan.
"Baik. Jika kalian memang menghendaki itu. Saya ladeni," jawab Ki Ogan.
Ki Ogan mundur beberapa langkah. Beberapa siswa Ki Ogan sudah mengepung Agus dan kawan-kawan.
Tanpa mereka sadari, pesilat muda sudah semakin dekat. Mereka datang
dari berbagai posisi. Dari be lakang, depan, kiri dan kanan. Bahkan
sudah bergabung dengan Pedro, Thomas dan Ki Ogan.
Agus bertambah pucat. Namun karena gengsi dan tak mau dikatakan
pengecut, dia tetap berlagak angkuh dan sombong di hadapan Ki Ogan.
"Satu lawan satu Ki," tantang Agus.
"Okeee ... Siapa lawan siapa dan kapan?"
"Sekaranglah Ki. Saya lawan anda, dua teman saya lawan mereka." Menunjuk penuh kebencian pada Ped ro dan Thomas.
"Nak Pedro, Thomas. Gimana?"
"Siap Ki."
Selain Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta Agus, Iwan dan Iwin, semua ya ng
hadir mundur beberapa lang kah dengan membentuk setengah lingkaran.
Duel one by one ini diawali dengan pertarungan antara Thomas dan Iwan. Semula berlangsung seru.
Sayangnya, keseruan itu cuma berlangsung dua menit. Karena setelah
itu Thomas berhasil mencekik leher Iwan sampai pingsan sebelum dia
banting Iwan ke tanah sekuat-kuatnya.
Bedebuuug ...
Tak ada suara lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar