Minggu, 18 Maret 2018

Pulau Harimau (19)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (19)
Oleh Wak Amin

 

"OKE. Cepat susuri. Sebelum kita kehilangan jejak," perintah Letnan Daus.

Agak sulit memang menemukan secara jelas dan pasti jejak Mayor Nawi beserta pengikut setianya.

Untuk itu, Mr Lenox memutuskan pasukan dibagi dua.  Satu ke selatan, jalur pantai. Satunya lagi ke utara, jalur darat.

Diharapkan, dengan pembagian tugas dan jalur  tempuh ini, pengejaran terhadap Mayor Nawi lebih cepat dan tepat sasaran.

"Sersan Daud ke utara, Sersan Faisol dan saya ke selatan ..."

"Siap laksanakan."

"Kita tetap satu arah dan fokus pad a jejak pengejaran," terang Mr Lenox.

"Kalau nanti pasukan selatan sudah menemukan jejak, pasukan utara cepat bergabung. Begitu juga sebaliknya. Paham?"

"Paham Mister ..."

"Oke. Kita berpencar sekarang ..." Perintah Mr Lenox.

Sementara itu, kapal yang ditumpangi Mayor Nawi beserta pengikutnya sudah sampai di Pulau Harimau.

Kapal yang mereka sewa itu sudah kembali ke tempat sandarnya semula. Sebuah pelabuhan yang kerap menjadi tempat berlabuh kapal-kapal yang hendak menaikkan dan menurunkan penumpang serta muatan barang.

Pelabuhan yang sudah lama dibangun itu tidak setiap hari ramai. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Arus lalu-lintas dari dan ke pelabuhan tidak begitu padat.

Mungkin disebabkan banyak jalur tempuh menuju ke sana. Juga orang-orang tertentu yang keluar masuk pelabuhan.

Setelah menginjalkan kaki di Pulau Harimau, Mayor Nawi memerintahkan semua anak buahnya yang laki-laki membuat rumah untuk berteduh.

Rumah yang dibangun itu tak harus bagus. Tapi harus kuat dan kokoh serta tahan dengan goncangan.

Ada banyak pepohonan di sana, sehingga jika sekadar hanya untuk membikin rumah, tak seberapa.  Bu ah-buahan di sekitar pohon yang tumbuh liar itu bisa dimakan karena tidak mengandung racun.

Selain membikin rumah, Mayor Nawi juga mengajak para pengi kutnya untuk membuat perahu dan alat menangkap ikan.

Karena ikan di sekitar pulau sangat lah banyak. Belum lagi yang dinaungi pepohonan rindang, pembatas antara pohon yang di bawahnya dialiri sungai-sungai kecil.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tak bisa bim salabim. Untuk rumah, satu hari bisa dibangun dan diselesaikan dua unit rumah.

Rumah lumayan besar itu dapat me nampung lima puluh orang lebih. Bagi yang belum bisa tidur dan ber isti rahat di rumah, memilih tidur di luar rumah sekitar pekarangan. Bisa di atas dan bawah pohon, bisa juga di tangga dan sekitarnya.

Paling tidak diperlukan -6-12 unit   rumah. Mayor Nawi tidak perlu me nyegerakan selesai sekian rumah. Karena dia juga harus membagi tugas pengikutnya, agar rumah, perahu dan membuka areal lahan untuk bercocok tanam sama-sama diselesaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar