Jumat, 09 Maret 2018

Pulau Harimau (11)

Serial Ki Ogan



Pulau Harimau (11)
Oleh : Wak Amin

 

"Mukul apa Bos?" Sindir mata lebar.

"Mukul kecoak," jawab yang lain serempak.

Ha ha ha ha ...

"Angkat tangan. Jatuhkan senjata!"

                                                                              --


AGUS, Iwan dan Iwin serta beberapa pemuda yang bersekongkol  ing in membakar gedung perguruan  Al-Kalam amat kaget ketika beberapa anggota polisi meminta mereka menghentikan pertarungan dan sekali gus menyerahkan senjata tajam seperti pedang, parang, pisau belati, besi dan pentungan kayu.

"Cepaaat. Pengen kepalamu ilang ha?" Hardik polisi berbadan kekar.

Agus coba melawan dengan membalas tatapan mata tajam sang polisi.

"Mau saya congkel mata kamu?"

"Silakan Pak, kalau bapak berani dan tak punya malu ..."

"Okeee ... Sekarang buka mulut kamu ..." Perintah polisi tadi. Ia mulai marah dan kesal melihat ulah dan sikap Agus yang sengaja memperlambat proses penangkapan.

Buuug ...

Buuuug ...

Dua kali pukulan keras didaratkan rekan polisi ke kepala Agus, membuat yang bersangkutan jatuh tersungkur.

"Jangan bergerak ...!"

Dibantu Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta beberapa siswa Al-Kalam, Agus dan konco-konconya dinaikkan ke mobil dinas kepolisian dengan kedua tangan diborgol.

"Ayo cepat naik ... Tunggu apalagi? Tunggu nenek moyang lu?" Bentak petugas berkumis keriting pada Iwan yang pura-pura sempoyongan dengan harapan tidak jadi dibawa ke kantor polisi.

Operasi penangkapan terhadap Agus cs berjalan lancar. Di depan petugas kepolisian, Ki Ogan menceri takan kronologis kejadian yang di alaminya.

Keterangan berharga yang diberi kan Ki Ogan dijadikan pedoman pihak kepolisian saat memeriksa lebih jauh Agus cs.

Tidak demikian halnya Agus dan rekan-rekannya. Di dalam sel sementara, mereka bersikukuh tidak ber maksud berbuat jahat pada Ki Ogan.

Mereka akhirnya tak bisa mengelak setelah beberapa warga mendatangi kantor polisi dan memberikan kesaksian atas rencan jahat anggota kelompok bersenjata Asy-Syifa itu.

"Kalau bapak tidak mengizinkan kami pulang, bapak akan tahu sendiri akibatnya," ancam Agus, yang me minta waktu untuk menelepon Sang Bos.

Pihak kepolisian tidak bersedia awalnya. Ini dikarenakan ulah Agus yang sempat mengambil senjata  dari pinggang salah seorang anggota dan hendak menembaknya agar bisa melarikan diri dari sel tahanan.

Agus diizinkan menelepon Sang Bos setelah mendapat izin dari atasan dan anggota polisi yang menangkapnya.

Tentu dengan syarat harus dikawal dan disaksikan petugas yang ditunjuk agar kontak jarak jauh itu berla ngsung aman dan lancar.

"Kalau macam-macam saya tembak kepala anda. Mengeeti?" Kata petugas berpostur tubuh kurus tinggi.

Kali ini Agus tak berkutik. Bukan satu orang polisi saja yang bakal menembaknya jika bebuat macam-macam.

Ada enam anggota polisi yang siaga penuh. Mereka bersenjatakan  lengkap dan siap mengamankan 'markas kepolisian' dari orang-orang yang ingin membuat kegaduhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar