Serial Ki Ogan
Pulau Harimau (11)
Oleh : Wak Amin
"Mukul apa Bos?" Sindir mata lebar.
"Mukul kecoak," jawab yang lain serempak.
Ha ha ha ha ...
"Angkat tangan. Jatuhkan senjata!"
--
AGUS, Iwan dan Iwin serta beberapa pemuda yang bersekongkol ing in
membakar gedung perguruan Al-Kalam amat kaget ketika beberapa anggota
polisi meminta mereka menghentikan pertarungan dan sekali gus
menyerahkan senjata tajam seperti pedang, parang, pisau belati, besi dan
pentungan kayu.
"Cepaaat. Pengen kepalamu ilang ha?" Hardik polisi berbadan kekar.
Agus coba melawan dengan membalas tatapan mata tajam sang polisi.
"Mau saya congkel mata kamu?"
"Silakan Pak, kalau bapak berani dan tak punya malu ..."
"Okeee ... Sekarang buka mulut kamu ..." Perintah polisi tadi. Ia mulai
marah dan kesal melihat ulah dan sikap Agus yang sengaja memperlambat
proses penangkapan.
Buuug ...
Buuuug ...
Dua kali pukulan keras didaratkan rekan polisi ke kepala Agus, membuat yang bersangkutan jatuh tersungkur.
"Jangan bergerak ...!"
Dibantu Ki Ogan, Pedro dan Thomas serta beberapa siswa Al-Kalam, Agus
dan konco-konconya dinaikkan ke mobil dinas kepolisian dengan kedua
tangan diborgol.
"Ayo cepat naik ... Tunggu apalagi? Tunggu nenek moyang lu?" Bentak
petugas berkumis keriting pada Iwan yang pura-pura sempoyongan dengan
harapan tidak jadi dibawa ke kantor polisi.
Operasi penangkapan terhadap Agus cs berjalan lancar. Di depan petugas
kepolisian, Ki Ogan menceri takan kronologis kejadian yang di
alaminya.
Keterangan berharga yang diberi kan Ki Ogan dijadikan pedoman pihak kepolisian saat memeriksa lebih jauh Agus cs.
Tidak demikian halnya Agus dan rekan-rekannya. Di dalam sel sementara,
mereka bersikukuh tidak ber maksud berbuat jahat pada Ki Ogan.
Mereka akhirnya tak bisa mengelak setelah beberapa warga mendatangi
kantor polisi dan memberikan kesaksian atas rencan jahat anggota
kelompok bersenjata Asy-Syifa itu.
"Kalau bapak tidak mengizinkan kami pulang, bapak akan tahu sendiri
akibatnya," ancam Agus, yang me minta waktu untuk menelepon Sang Bos.
Pihak kepolisian tidak bersedia awalnya. Ini dikarenakan ulah Agus yang
sempat mengambil senjata dari pinggang salah seorang anggota dan
hendak menembaknya agar bisa melarikan diri dari sel tahanan.
Agus diizinkan menelepon Sang Bos setelah mendapat izin dari atasan dan anggota polisi yang menangkapnya.
Tentu dengan syarat harus dikawal dan disaksikan petugas yang ditunjuk agar kontak jarak jauh itu berla ngsung aman dan lancar.
"Kalau macam-macam saya tembak kepala anda. Mengeeti?" Kata petugas berpostur tubuh kurus tinggi.
Kali ini Agus tak berkutik. Bukan satu orang polisi saja yang bakal menembaknya jika bebuat macam-macam.
Ada enam anggota polisi yang siaga penuh. Mereka bersenjatakan lengkap dan siap mengamankan 'markas kepolisian' dari orang-orang yang
ingin membuat kegaduhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar