Cerita untuk Anak
Soleh (8)
Oleh Wak Amin
SORE harinya, Nawas didatangi Lukman dan Kadir. Keduanya mendatangi kediaman Nawas mengguna kan sepeda motor.
Untunglah, Nawas sempat melihat Lukman dan Kadir turun dari sepeda motor. Diparkirkan di parit luar pintu pagar kayu.
"Bu ..Bu .. sini!" Nawas menarik tangan ibunya. Dia membisikkan sesuatu di telinga perempuan paruh baya itu.
Kaget sebentar, lepas itu senyum.
"Ya sudah ... Biar ibu yang ngomong," kata si ibu. Membuka pintu, menengok jejeran pot bunga yang sudah harus disirami agar tetap mekar dan
menghijau.
Lukman bergegas ...
"Bu .. Bu. Ada Nawas?" Tanyanya dengan napas sedikit tersengal.
"Enggak ada Nak," jawab si ibu dengan tenang.
"Kemana ya Bu?"
"Tadi ikut bapaknya bersepeda. Ibu kurang tahu kemana mereka. Ada pesan untuk Nawas? Nanti ibu sam paikan pesannya kalau ada."
Lukman dan Kadir saling menoleh.
"Enggak ada Bu. Mari Bu, kami pulang," ucap Lukman sambil membungkukkan badan.
Setelah motor melaju, tak lama kemudian datanglah Soleh. Nawas tak menduga teman karibnya itu datang ke rumah.
Ada apa?
"Mengembalikan buku kamu yang aku pinjam. Kamu pasti sudah lupa kan? Aku saja sudah lupa. Sudah lama sekali."
"Buku apa Leh?"
"Matematika."
"Matematika?"
"Coba lihat dululah. Benar punya kamu. Soalnya disitu tertulis jelas nama kamu ..."
"Sebentar ... Sebentar."
Nawas akhirnya mengiyakan. Benar, katanya pada Soleh.
"Terima kasih ya Leh."
"Akulah yang berterima kasih padamu Nawas," jawab Soleh. Membelokkan
sepeda mini bututnya, hendak pulang ke rumah karena sebentar magrib
tiba.
"Leh .. Leh. Tunggu Leh!"
Setengah berlari. Nawas membisikkan sesuatu di telinga kanan Soleh.
"Ah, yang benar?"
"Tak percaya, tanya saja sama ibuku Leh."
Ibundanya Nawas tengah memotong bunga. Dirapikan agar indah dipandang mata.
"Tak usah. Aku percaya kamu."
Soleh turun dari sepeda.
"Kamu temui?"
Nawas menggelengkan kepalanya.
"Pasti mau membalas sakit hati mereka berdua sama kamu. Betul kan Was?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar