Jumat, 01 Februari 2019

Anak Berbakat (12)

Anak Berbakat (12)
Oleh aminuddin

Dampak Diabaikannya Pendidikan Khusus Anak Berbakat Intelektual

PENGABAIAN pendidikan khusus bagi anak berbakat intelektual pada awalnya datang dari guru itu sendiri.

Guru merasa harus memberikan per hatian yang lebih pada anak yang lamban belajar dan anak dengan kemampuan rata-rata, daripada anak berbakat intelektual.

Inilah kesimpulan yang diambil Torrance (1965) dan Gallagher (1965) serta S.P. Marland dalam laporannya pada Kongres Amerika (1972).

Julian C Stanley (1974) mengata kan dengan kegiatan belajar yang mudah dan tidak memiliki tanta ngan, keberbakatan tidak akan muncul (dikutip dari Utami Munandar, 1983b).

Penelitian Stanley menunjukkan bahwa prestasi anak berbakat intelektual yang disekolahkan sesama anak berbakat intelektual akan berbeda dengan prestasi anak berbakat intelektual yang diseko lahkan di sekolah biasa.

Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Durio (1979) serta metaanalisis dari 26 studi yang dilakukan oleh Kulik dan Kulik (1984) dikutip dari Southern dan Jones (1991) menunjukkan bahwa program akademi khusus anak berbakat intelektual akan memberilkan hasil yang secara signifikan menguntungkan bagi bagi anak berbakat intelektual tersebut.

Penelitian dari Vernon (1957) terhadap 865 anak laki-laki SMA yang mempunyai IQ rata-rata top 25% yang disekolahkan di sekolah khusus ternyata memiliki IQ rata-rata lebih tinggi daripada IQ yang pernah diperkirakan saat pertama kali mereka dites.

Sementara anak-anak yang memi liki IQ yang sama dan di sekolah yang kurang banyak tuntutan, mem punyai IQ lebih rendah daripada yang diramalkan sebelumnya.

Penelitian Jerome (1983) juga me nunjukkan bahwa tingkat intelegen si secara keseluruhan di dalam ke lompok mempengaruhi perkem bangan setiap individu di dalam kelompok tersebut. Kontak dengan orang pandai cenderung akan me ningkatkan tingkat kemampuan.

Sementara McLeod dan Cropley (1989) menyatakan bahwa anak berbakat intelektual memerlukan dorongan dari lingkungan.

Semangat belajar yang tinggi yang dimiliki oleh anak-anak itu harus diimbangi dengan dukungan. Jika tidak, akan timbul perasaan tidak aman dan cemas pada anak tersebut.

Begitu pula Amstrong (1967), Go wan (1979), dan Green (1962) men catat bahwa sejumlah kasus under-achiever terlihat cukup besar dalam dua atau tiga dekade yang lampau karena pendidikan yang diberikan kurang memadai dengan potensi in telektual yang dimiliki anak berba kat intelektual (dalam McLeod dan Cropley, 1989).

Hal lain yang dapat terjadi jika anak berbakat intelektual kurang diberi perhatian yang memadai, menurut Prat, (1979), Schmidt (1977), Whit more (1980), dan Zilman (1981) dikutip dari McLeod dan Cropley (1989) adalah gangguan psikologis, seperti konsentrasi buruk, konfor mitas berlebihan, perilaku terhambat berlebihan, isolasi sosial, dan agresivitas, atau malah bersikap menarik diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar