Minggu, 17 Februari 2019

Hutan Terpelihara, Lingkungan Terjaga (9)

Hutan Terpelihara, Lingkungan Terjaga (9)
Oleh aminuddin


SELAIN mamalia, setidaknya ada 122 spesies burung tercatat atau diduga berada dalam areal konsesi.

Berdasarkan evaluasi yang dilaku kan Ekologika, hutan OKI dinyata kan memiliki populasi yang mampu bertahan hidup berdasarkan observasi langsung maupun pendapat ahli mengenai daya dukung potensial lanskap tersebut.

Dari total jumlah tersebut, 47 jenis di antaranya termasuk dalam jenis-jenis yang dilindungi menurut PP Nomor 7 tahun 1999, IUCN Red List, dan daftar Appendix CITES.

Ada 36 jenis yang termasuk dalam daftar burung yang dilindungi oleh PP Nomor 7 tahun 1999 dan 14 jenis di antaranya termasuk dalam perlindungan IUCN Red List dimana empat jenis tergolong dalam status vulnerable.

Keempat jenis tersebut adalah pelatuk kelabu besar (Mulleripicus pulverulentus), bangau bluwok (Mycteria cinerea), bangau tongtong (Leptotilos javanicus), dan empuloh paruh-kait (Setornis crininger).

Sedangkan jenis amfibi dan reptil yang ditemukan antara lain biawak (Varanus sp.), ular tedung (Ophiophagus hannah), ular sanca (Python retuculus), kura-kura batok (Cuora amboinensis), kura-kura pipi putih (Siebenrockiella crassicollis), biuku (Orlitia borneonsis), dan buaya muara (Crocodylus porosus).*

















_____

* Buaya Muara adalah satu satunya buaya yang bisa bertahan di air as in. Buaya berkatak ini  adalah jenis buaya terbesar di dunia. Bahkan ukurannya jauh lebih besar dari buaya nil (Crocodylus niloticus) dan alligator Amerika (Alligator mississipiensis).
Dinamakan Buaya Muara karena selain hidup di habitat utama yakni sungai- sungai, buaya ini juga hidup di dekat laut alias muara, kadang dijumpai di laut lepas. Tidak heran jika buaya ini adalah satu- satunya buaya yang bisa bertahan di air asin atau air laut.
Selain dikenal dengan nama Buaya Muara, buaya ini juga dijuluki dengan nama Buaya Air Asin, Buaya Laut, atau dalam istilah bahasa inggris dipanggil saltwater crocodile atau Indo-Australia Crocodile.
Meskipun dapat ditemukan di laut lepas, buaya ini dikenal sebagai perenang yang buruk.
Buaya ini tersebar di seluruh perairan dataran rendah dan perairan pantai di daerah tropis Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia (Indo-Australia).
Buaya Muara memiliki wilayah perantauan mulai dari perairan Teluk Benggala (Sri Lanka, Bangladesh, India) hingga perairan Polinesia (Kepulauan Fiji dan Vanuatu).
Sedangkan habitat favorit buaya muara adalah perairan Indonesia dan Australia. Di Australia setidaknya 2 kasus serangan buaya air laut terhadap manusia setiap tahunnya terjadi.
Sedangkan untuk wilayah Indonesia, kejadian serangan buaya terhadap manusia sangat langka meskipun persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesia.
Buaya Muara memiliki ukuran yang lebih besar dibanding Buaya Air Tawar yaitu pada rahang dan ukuran gigi serta moncong spesies ini cukup lebar.
Mereka memiliki warna yang bervariasi dari warna abu-abu hingga hijau tua terutama pada buaya dewasa, sedangkan buaya muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam dan belang pada ekornya.
Buaya Muara pada umumnya memiliki panjang tubuh (termasuk ekor) mulai dari 2,5 hingga 5,5 meter. Namun ukuran dewasa bahkan ada yang bisa mencapai hingga 12 meter. Yang terbesar pernah ditemukan di wilayah Indonesia yakni di Sangatta, Kalimantan Timur dimana bobotnya mencapai 200 kg.
Hewan ini biasanya hidup berke lompok dan menunggu mangsa di muara-muara atau pertemuan satu sungai dengan sungai lainnya. Buaya akan mendekati bibir sungai ketika air mulai pasang. Buaya ini biasa keluar dari sarang pada sore hingga malam hari untuk mencari mangsa.
Buaya Muara mampu melompat keluar dari air untuk menyerang mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air melebihi panjang tubuhnya, Buaya Muara mampu melompat serta menerkam secara vertikal mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.

Buaya Muara berkembang biak pada musim hujan (bulan Nov-Mar) dan membangun sarang yang sebagian besar dari tumbuh-tumbuhan dan gundukan tanah. Sarang biasanya terletak di rerumputan atau pinggir hutan di sepanjang sungai atau rawa air tawar.
Di dalam sarang, tersimpan sekitar 50 telur dan inkubasi berlangsung antara 65 - 110 hari- Buaya betina biasanya yang menjaga sarang dengan seksama dan karenanya buaya tersebut menyembunyikan dirinya dalam kubangan terdekat. Suhu inkubasi menentukan jenis kelamin dari telur buaya yang ditetaskan. Pada suhu sangat tinggi atau suhu rendah akan memproduksi buaya betina, dan suhu dari 31 - 32 derajat celciusakan menghasilkan buaya jantan.
Dari telur - telur yang disimpan hanya sekitar 25% saja yang akan menetas. (www.pemburuombak.com)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar