Hutan Terpelihara, Lingkungan Terjaga (5)
Oleh Wak Amin
NAMUN demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap intervensi manusia terhadap sumberdaya alam pasti memberikan dampak, baik postif maupun negatif. Demikian juga dengan pembangunan HTI di hutan rawa gambut.
Pembangunan HTI di rawa gambut selalu didahului dengan pembuatan jaringan kanal, sehingga lahan da pat ditanami dengan tanaman kayu.
Kanal dibuat dengan dua tujuan utama, yaitu untuk menurunkan level air tanah, sehingga lahan dapat ditanami dan sebagai sarana transportasi untuk menunjang kegiatan produksi (pengangkutan bibit, tenaga kerja dan kayu hasil tebangan).
Penggalian kanal inilah yang dinilai mengakibatkan perubahan siklus hidrologi kawasan, karena mempercepat aliran air hujan melalui lapisan atas gambut ke sungai dan anak-anak sungai di sekitar areal konsesi (Rieley, 2007; Hooijer, et al., 2007; Ritzema, 2007).
Turunnya level air tanah diduga menjadi faktor pemicu terjadinya emisi karbon, penurunan permukaan gambut (subsidence), dan kebakarab (Hooijer, et al., 2007).
Pelepasan cadangan karbon ke atmosfer dapat melalui dua mekanisme, yaitu proses dekomposisi bahan organik gambut dan kebakaran lahan gambut.
Pada lapisan atas gambut, pori-pori tanah yang semula terisi air akan tergantikan dengan oksigen begitu level air tanah turun. Akibat adanya oksigen, proses dekomposisi dan pematangan lapisan gambut akan berlangsung dan mengakibatkan emisi karbon serta penurunan level permukaan tanah.
Subsidence adalah turunnya permukaan gambut akibat proses pematangan lapisan atas gambut, oksidasi bahan organic, dan pemadatan tanah.
Laju penurunan permukaan gambut tidak konstan menurut tempat dan waktu. Menurut Eelart (2012), total subsidence setelah 40 tahun pengusahaan HTI pada rawa gambut mencapai 125 cm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar