Entar Ya (19)
Oleh Wak Amin
KRAAK ...
Buuum ...
Praaak ...
Guaam ...
Sebatang pohon tiba-tiba tumbang dan menghalangi jalan. Untung sa ja, Pak Kades Marzuki ngerem men dadak. Kalau tidak, truk terbalik dan penyet bagian depannya.
"Astaghfirullah," ucap Pak Kades. Dia benar-benar terkejut.
"Biar saya yang turun Ki Doyok," kata Mr Clean.
"Saya juga Ki," ujar Letnan Susan.
Keduanya memeriksa dengan teliti batang pohon hutan itu. Harus sege ra disingkirkan, tapi tak mungkin hanya berdua Letnan Susan.
"Kita singkirkan sama-sama Ki," ajak Mr Clean.
Tidaklah mudah menyingkirkan batang pohon besar yang melin tang di jalan. Selain berat, suasana sekitar tak mendukung karena malam hari.
Gelap ...
Lantas ... ?
"Kita geser sedikit saja Ki," usul Mr Clean.
Minimal, kata Mr Clean, truk bisa lewat, itu lebih dari cukup.
"Setuju ya Ki, Pak Kades?"
"Setuju Mr Clean," kata Pak Kades. "Mari kita mulai ..."
Segenap tenaga dikerahkan. Butuh waktu lima belas menit hanya un tuk menggeser batang pohon itu.
Lumayanlah ...
Karena setelah digeser ke tengah, truk akhirnya bisa lewat, meskipun harus menepi sedikit ke rumput ta nah yang menurun.
Semua lega ...
Anehnya, ketika Ki Doyok meminta Pak Kades menghentikan truk seje nak, sama-sama menoleh ke bela kang, pohon besar tadi itu sudah tidak ada lagi.
"Iccch merinding aku Ki," ucap Pak Kades.
"Jangan-jangan .."
Pak Kades tak melanjutkan ucapan nya karena secara bersamaan terde ngar suara perempuan 'ketawa pan jang' di balik pohon tak jauh dari posisi truk berhenti saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar