Ya (1)
Oleh Wak Amin
"BU Lim, Bu Lim. Coba lihat!" Salah seorang tetangga Bu Lim melihat Bu Guru Rani ngomong sendirian.
Ada apa ya?
"Mana Bu?" Tanya Bu Lim. Panda ngannya tertutup pohon, jadi tak kelihatan yang tetangganya lihat barusan.
"Geser sedikit Bu Lim," kata ibu be rambut keriting berbadan tambun itu.
Bu Lim mengucek-ucek matanya.
"Gimana Bu Lim?"
Bu Lim tersenyum ...
"Biar nanti saya tanyai Bu Raninya Bu."
"Saya sih Bu, tak maulah suudz han. Saya cuma heran dan pena saran saja dengan siapa Bu Guru Rani bicara. Tak biasanya dia se perti itu. Saya cuma kuatir saja kenapa-kenapa begitu. Apalagi beliau kan masih singel .."
"Ya sudah. Mungkin saja Bu Guru Raninya lagi menghapal sesuatu Bu Nilam."
"Menghapal apa pake tunjuk-tunjuk segala ..."
"Yach ... Supaya cepat hapal yang dihapal, dipakailah jari telunjuk."
"Walah-walah ... Gimana Bu Lim ini toh. Seingetku kalau menghapal itu kan mata mejem dan tidak bersu ara ..."
"Iya iya. Tapi ada yang bersuara ju ga Bu Nilam. Soalnya, ada seba gi an orang, kalau menghapal hanya di dalam hati, enggak puas. Susah ngingatnya gitu .."
Ha ha ha ha ...
"Bu Lim bisa aja. Udah, aku pamit pulang dulu. Belanjaanku di warung ini sudah ditunggu ..."
"Ditunggu siapa Bu. Suami?"
"Enggak Bu. Ditunggu untuk disia ngi gitu lho .."
He he he he ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar