Ya (11)
Oleh Wak Amin
"YA udah. Tenang aja. Soal Effendi nanti kita cariksn solusinya. Yang penting kamu sekarang kan aman. Enggak apa-apa. Maksud Mas, han tunya atau apalah Effendi itu tidak sampai melukai atau berbuat ma cam-macam kan?"
"Enggak memang Mas ..."
"Apa tetangga di sebelah kamu sudah tahu ...?"
"Aku merasa iya. Soalnya, sejak Effendi menampakkan wujudnya tetangga lebig sering memperhati kan aku Mas."
"Mereka pernah tanya sama kamu?"
"Seingatku belum Mas."
"Syukurlah. Tapi menurutku ya say, kalau mereka tanya, ya tak apa-apa juga. Ceritakan saja kejadian yang sebenarnya."
"Aku juga berpikiran begitu. Tak tahan rasanya disimpan melulu."
"Ya ialah say. Entar jadi penyakit lho. Naaa .. Kalau jadi penyakit, ayo siapa yang rugi. Mas Handoko kan?"
He he he he ...
"Lho, kok ketawa. Lucu ya?"
"Ya ialah. Masa yang ruginya Mas Han sementara yang punya badan dan segala macam Rani. Luculah so pasti ..."
"Oh iya ya. Eeeem ..."
"Mas ..."
"Itu say. Soal yang kemarin itu .."
"Soal apa ya?" Bu Rani pura-pura tak tahu. Padahal dia sudah tahu akan menyasar kemana pembica raan Dokter Handoko.
"Itu. Eeem .. Kamu bersedia kan jadi Bu Handoko?"
He he he he ..
"Ngapa-ngapain aja belum Mas, ud ah mau jadi Bu Handoko. Semua memerlukan proses. Betul?"
"Betul. Maksud Mas Han, apa Rani bersedia dilamar Dokter Handoko?"
He he he he ...
"Rani ..."
"Bersedia Mas."
"Alhamdulillah. Terima kasih ya say. Kamu sudah mengamini per mintaanku. Semoga Allah SWT melimpahkan segala rahmatnya kepada kita."
"Amiiin. Amiiin Mas."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar