Oleh aminuddin
SIAPA yang pernah mengalahkan Yahudi?
Para sahabatlah yang pernah me ngalahkannya, Lalu kenapa kita tidak mengikuti pemahaman para sahabat agar bisa mengalahkan Yahudi?
Perang Khaibar
Khaibar adalah daerah yang ditempati oleh kaum Yahudi setelah diusir Rasulullah SAW dari Madinah tatkala mereka melanggar perjanian damai.
Di sana mereka menyusun makar untuk melampiaskan dendamnya terhadap Rasulullah SAW, Islam, dan kaum muslimin.
Dendam Yahudi memang telah menumpuk; mulai terusirnya Bani Qainuqa, Bani Nadhir, terbunuhnya dua tokoh mereka, hingga pembantaian terhadap Bani Quraizhah dan sejumlah tokoh mereka yang dibunuh oleh kaum muslimin.
Telah lewat pembahasan bahwa kaum Yahudi adalah penggerak pasukan Ahzab pada Perang Khandaq.
Ini berarti kali yang keempat Rasu lullah SAW memerangi umat Yahudi agar kita mengetahui bagaimana sejarah hitam umat ini dan dendam mereka yang sangat mendalam terhadap Islam.
Pasukan Berangkat
Pada bulan Muharram tahun ke tujuh Hijriah Rasulullah SAW ber sama 1400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah berangkat menuju Khai bar.
Telah kita ketahui bahwa sepulang mereka dari Hudaibiyah Allah SWT menurunkan ayat sebagai janji kemenangan dari-Nya dan perintah untuk memerangi Yahudi di Khaibar dalam firman-Nya:
“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.” (QS Al-Fath: 20)
Ulama ahli tafsir mengatakan bahwa Allah SWT menjanjikan harta rampasan (ghanimah) yang banyak kepada kaum muslimin, sebagai pendahuluannya adalah harta rampasan yang mereka peroleh pada Perang Khaibar itu.
Adapun orang-orang Badui atau munafik tatkala mereka menge tahui para sahabat akan menang dan mendapat rampasan perang, mereka ikut dalam peperangan itu supaya mendapat bagian dari gha nimah.
Maka Allah SWT berfirman:
“Orang-orang Badui yang tinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, “Biarkan kami, niscaya kami mengikuti kamu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.” (QS Al-Fath: 15)
Demikian itu, karena Allah SWT telah mengkhususkan rampasan Perang Khaibar sebagai balasan jihad, kesabaran, dan keikhlasan para sahabat yang ikut di Hudaibiyah saja.
Para sahabat berangkat dengan penuh keyakinan dan besar hati terhadap janji Allah, sekalipun mereka mengetahui bahwa Khaibar merupakan perkampungan Yahudi yang paling kokoh dan kuat dengan benteng berlapis serts persenjataan dan kesiapan perang yang mapan.
Mereka berjalan sambil bertakbir dan bertahlil dengan mengangkat suara tinggi hingga Rasulullah SAW melarang mereka dan memerintahkan agar merendahkan suara sebab Allah Maha Dekat, bersama kalian, tidak tuli, dan tidak jauh. (Bukhari: 4205).
Sebelum subuh mereka tiba di halaman Khaibar, sedang Yahudi tidak mengetahuinya. Tiba-tiba ketika berangkat ke tempat kerja, mereka (orang-orang Yahudi) dikejutkan dengan keberadaan tentara; maka mereka berkata, “Ini Muhammad bersama pasukan perang.”
Mereka kembali masuk ke dalam benteng dalam keadaan takut. Rasulullah SAW bersabda, “Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.” (Bukhari dan Muslim)
Kaum muslimin menyerang dan mengepung benteng-benteng Ya hudi, tetapi sebagian sahabat pembawa bendera perang tidak berhasil menguasai dan menga lahkan mereka hingga Rasulullah SAW bersabda :
“Besok akan kuserahkan bendera perang kepada seseorang yang Allah dan Rasul-Nya mencintai dan dia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memenangkan kaum muslimin lewat tangannya.”
Maka para sahabat bergembira dengan kabar ini dan semua ber harap agar bendera tersebut akan diserahkan kepadanya, hingga Umar radhiallahu ‘anhu berkata:
“Aku tidak pernah menginginkan kebesaran, kecuali pada Perang Khaibar.”
Pada pagi hari itu para sahabat bergegas untuk berkumpul di ha dapan Rasulullah SAW. Masing-masing berharap akan diserahi bendera komando.
Akan tetapi, Nabi SAW bertanya, “Dimanakah Ali?”
Meraka menjawab, “Dia sedang sakit mata, sekarang berada di perkemahannya.”
Rasulullah SAW mengatakan, “Panggillah dia.”
Maka mereka memanggilnya. Ali pun datang dalam keadaan sakit mata (trahom). Lalu Rasulullah me ludahi matanya dan sembuh seketi ka, seakan-akan tidak pernah merasakan sakit.
Beliau menyerahkan bendera pe rang dan berwasiat kepadanya, “Ajaklah mereka kepada Islam sebelum engkau memerangi mereka. Sebab, demi Allah, seandainya Allah memberi hidayah seorang di antara mereka lewat tanganmu, maka sungguh itu lebih baik bagimu dari pada onta merah (harta bangsa Arab yang paling mewah ketika itu).” (Muslim)
Perang Tanding
Tatkala berlangsung pengepungan benteng-benteng Yahudi, tiba-tiba pahlawan andalan mereka bernama Marhab menantang dan mengajak sahabat untuk perang tanding.
Amir bin Akwa radhiallahu ‘anhu melawannya dan beliau terbunuh mati syahid. Tapi ketika melawan Ali, Marhab terbunuh. Runtuhlah mental kaum Yahudi dan merek akhirnya berhasil dikalahkan.
Benteng Khaibar terdiri dari tiga lapis, masing-masing terdiri atas tiga benteng. Kaum muslimin memerangi dan menguasai benteng demi benteng.
Setiap kali Yahudi kalah dari pertahanan pada satu benteng, mereka berlindung dan berperang dalam benteng lainnya hingga kemenangan mutlak berada di tangan kaum muslimin.
Korban Perang
Dalam peperangan ini terbunuh dari kaum Yahudi puluhan orang, sedang wanita dan anak-anak ditawan.
Termasuk dalam tawanan adalah Shofiyah binti Huyai yang jatuh di tangan Dihyah al-Kalbi lalu dibeli oleh Rasulullah SAW darinya.
Beliau mengajaknya masuk Islam lalu menikahinya dengan mahar memerdekakannya. Adapun yang mati syahid dari kaum muslimin sebanyak belasan orang.
Di antara yang mati syahid adalah seorang Badui yang datang dan ma suk Islam serta memohon kepada Rasulullah SAW untuk hijrah.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperoleh rampasan Perang Khaibar, beliau memberinya bagian, tetapi dia berkata:
“Wahai Rasulullah, aku mengikutimu bukan untuk tujuan ini, melainkan agar aku terkena panah di sini (sambil memberi isyarat pada lehernya) sehingga aku masuk surga.”
Rasulullah SAW mengatakan, “Jika kamu jujur kepada Allah maka pasti Allah buktikan.”
Tidak lama kemudian jenazahnya dibawa kepada Nabi SAW dalam keadaan terluka pada tempat yang dia isyaratkan sebelumnya.
Rasulullah SAW berkata : “Orang ini jujur kepada Allah. Oleh karenanya, Allah memenuhi niatnya yang baik.” Lalu beliau mengafaninya dan me makamkannya. (Mushonnaf Abdurrozaq dengan sanad yang baik, 5:276)
Daging Beracun
Kaum Yahudi tidak pernah dan ti dak akan berhenti dari makar buruk terhadap Nabi SAW dan Islam kare na tabiat mereka, sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam Al- Quran:
“Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak.” (QS Ali Imron: 112)
Tatkala mereka kalah dari Perang Khaibar dan beberapa kali upaya untuk membunuh Rasulullah gagal, mereka bermaksud untuk membunuh beliau dengan siasat baru.
Seorang wanita Yahudi berperan besar dalam makar buruk ini, yaitu memberi hadiah berupa menyuguh kan hidangan daging kepada Rasu lullah SAW dengan menyisipkan racun yang banyak padanya.
Tatkala Rasulullah SAW memakan, daging tersebut mengabari beliau bahwa ia beracun. Maka beliau memuntahkannya.
Sedangkan Bisri bin Baru ra, yang ikut makan bersama Rasulullah SAW, meninggal dunia karena racun tersebut. Beliau akhirnya ' membu nuh' wanita ini sebagai qishosh.
Perdamaian
Setelah umat Yahudi kalah, Nabi SAW bermaksud untuk mengusir mereka dari Khaibar. Akan tetapi mereka memohon kepada beliau agar membiarkan mereka mengurusi pertanian dengan perjanjian bagi hasil.
Rasulullah SAW pun menerima per mohonan itu dengan syarat kapan saja beliau menghendaki maka beli au berhak untuk mengusir mereka.
Hingga akhirnya mereka diusir oleh Umar bin Khaththab di zaman kekhalifahannya setelah beberapa kali mereka berbuat kejahatan terhadap kaum muslimin.
Pembagian Rampasan
Rasulullah SAW membagi rampa san perang kepada sahabat yang ikut perang yang berjumlah 1400 orang. Namun, seusai perang ini para rombongan Muhajirin berjumlah 53 orang dari Habasyah yang dipimpin Ja’far bin Abi Thalib rs datang dan bertemu Rasulullah
di Khaibar.
Beliau sangat gembira dengan keda tangan mereka. Beliau merangkul Ja’far ra dan menciumnya seraya bersabda :
“Aku tidak mengetahui apakah aku bergembira karena menang dari Khaibar ataukah karena kedatangan rombongan Ja’far.” (Shahih Abu Dawud: 5220)
Kemudian Rasulullah SAW membe ri mereka bagian dari rampasan perang. Rasulullah juga memberi bagian kepada Abu Hurairah ra dan beberapa orang dari suku Daus yang baru datang dalam keadaan Islam.
Semua ini beliau lakukan dengan izin dan keikhlasan dari sahabat yang ikut Perang Khaibar dan kare na mereka ini terhalang oleh udzur, jika tidak maka pasti mereka akan ikut berperang.
Bahaya Ghulul
Ghulul adalah mengambil rampa san perang sebelum dibagi. Mid’am, seorang pelayan Rasulullah SAW meninggal dunia akibat terkena panah.
Maka sahabat mengatakan, “Alang kah nikmat baginya surga.” Namun, Rasulullah bersabda, “Tidak, demi Allah, sesungguhnya pakaian yang diambilnya dari rampasan Khaibar sebelum dibagi menjadi bahan ba kar api neraka.”
Mendengar ini, ada seseorang yang datang mengaku, “Ini satu atau dua tali sandal aku peroleh sendiri.” Ra sulullah bersabda, “Itu termasuk neraka.” (Bukhari dan Muslim)
Yahudi Fadak
Ketika Rasulullah menguasai dan mengalahkan Khaibar maka Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Yahudi di Fadak –sebelah utara Khaibar.
Mereka segera mengirim utusan ke pada Rasulullah untuk perjanjian damai dengan menyerahkan sepa ruh bumi Fadak kepadanya.
Rasulullah SAW menerima tawaran tersebut dan beliau khususkan untuk dirinya karena ia termasuk rampasan perang (fa’i) yang diperoleh tanpa perang (pertempuran).
Rasulullah SAW juga memerangi Yahudi di Wadi Quro hingga mereka menyerah dan kalah. Mengetahui hal ini, Yahudi Taima’ juga segera berdamai dengan Rasulullah deng an membayar jizyah (upeti, red.)
_____
- Lihat Sirah Nabawiiyyah karya Dr Mahdi Rizqulloh Ahmad: 479-492.
- Majalah Al-Furqon Edisi 1 Tahun Kesebelas 1432 H
- KisahMuslim.com
- Dalamdakwah.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar