Minggu, 19 Agustus 2018

Ya (9)

Ya (9)
Oleh Wak Amin


PAK Sufyan dan isteri tertawa ceki kikan ketika Rani memberitahu ke inginan Dokter Handoko untuk melamarnya.

"Ma .. Pa!"

"Lucu deh," kata Pak Sufyan.

"Mama sama Papa sudah tau lebih dulu kok Yang,"ujar Bu Sufyan.

" Lantas, Mama dan Papa setuju?"

"Setuju dong. Masa enggak setuju. Orang bermaksud baik itu kan perlu diapresiasi," jelas Pak Sufyan.

"Cuma waktu itu," kata Bu Sufyan, Mama dan Papamu bilang, terserah Raninya. Karena yang mau dilamar bukan Mama. Tapi kamu Rani ..."

"Iya. Rani tahu Ma. Cuma menurut Mama dan Papa gimana ya?"

"Lho. Kok tanyanya ke Mama. Bu kannya yang ditaksir Nak Handoko kamu .. Betul ya Pa?*

" Betul sekali Nak. Pada prinsipnya kami selaku orang tua menurut saja apa yang kamu putuskan. Kalau menurutmu baik, ya Mama dan Papamu juga baik .."

"Kami bingung kayaknya ya Say. Bingung kenapa?"

"Bukan bingung Ma. Tapi .. Gimana ya ..."

Pak Sufyan dan isteri tertawa ...

"Sudah. Daripada bingung terima ajalah," saran Bu Sufyan.

"Betul kata Mamamu Rani. Katakan saja pada Nak Handoko, saya terima ..."

Ha ha ha ha ...

"Menurut Mama tak usahlah terlalu formal. Kalian kan sudah saling ke nal. Jadi ya bicaralah dari hati ke hati gitu ..."

"Eeem ... Papa boleh tanya sesuatu enggak say?"

"Boleh Pa."

"Kamu suka enggak sama Nak Handoko itu? Jujur ya jawabnya. Jangan bohong ..."

Hi hi hi hi ...

"Papa gitu sih, " kata Bu Sufyan.

Bu Guru Rani terdiam ...

"Ran .."

"Jawab dong ke Papa. Suka kan?"

"Iya Pa."

Alhamdulillah ...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar