Sabtu, 11 Agustus 2018

Ya (2)

Ya (2)
Oleh Wak Amin

BU Lim baru mendekat setelah Bu Guru Rani berada di luar pintu pagar rumah bersama motor bebeknya.

"Hati-hati ya Bu Guru," sapa Bu Lim.

Bu Guru Rani menoleh. Dia terse nyum sumringah.

" Ibu Lim?  Jadi yang ketawa tadi ibu rupanya. Sama siapa Bu?"

"Itu. Ketemuan sama Bu Nilam. Pu lang dari belanja di warung," kata Bu Lim.

"Ada yang lucu rupanya ya Bu?"

"Iya. Yach biasalah Rani. Ketemuan kan tak selalu setiap hari. Nah, pas ketemu ada-ada saja yang dicerita in. Pokoknya serulah. Bikin gemes, geram dan sakit perut."

"Ooo ... Ya udah. Kalau begitu Rani pamit pergi dulu Bu Lim."

"Ya. Hati-hati Bu di jalan ..."

Sebenarnya Bu Lim ingin menanya kan pada Bu Guru Rani dengan sia pa dia bicara tadi.

Tapi keinginan itu ia urungkan kare na kuatir Bu Guru Rani terlambat tiba di sekolah.

Kasihan anak muridnya ...

Piiiiin ...

"Pelan-pelan saja Bu," bisik lelaki dari jok belakang.

"Kenapa. Takut?"

Hi hi hi hi ...

"Ramai orang. Lalau ketabrak orang gimana coba?"

"Ya obatilah.'

" Kalau sampe mati?"

"Dikuburlah .."

Hi hi hi hi ...

Gantian Bu Guru Rani yang ketawa. Sempat menepi dulu. Habis ketawa baru jalan lagi sama motornya.

Sebelum masuk pekarangan rumah sekolah, si ghaib memberitahu Bu Rani, Bu Lim sama Bu Nilam sem pat melihat mereka ngobrol ta dinya.

"Mudah-mudahan mereka tidak tahu tentang kita," kata Bu Guru Rani.

"Kalau mereka ngotot ingin tahu tentang kita dari kamu gimana?" Tanya si ghaib.

"Gimana ya? Eeeem ... Kamu ada saran?"

"Saranku, jangan beritahu tentang keberadaanku Bu Rani."

"Kenapa? Takut?"

"Enggak juga sih ... Cuma ..."

"Takut diusir kalau ketahuan?"

"Ya begitulah. Kalau aku sampai di usir. Aku tak bisa dekat-dekat lagi dong sama kamu Bu Rani."

"Kalau sesekali jauh kenapa sih?"

"Enggak kuat aku Bu."

"Kenapa?"

"Karena aku amat mencintai ibu," aku su ghaib terus terang.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar