Mari Kita Berdagang (1)
Oleh aminuddin
KENDATI aktivitas berdagang sem pat dipandang sebelah mata, na mun kenyataannya sekarang ba nyak orang mulai tertarik menjadi entrepreuner dan membuka usaha dagang.
Dalam Islam , berdagang atau ber wirausaha dianggap sebagai salah satu pekerjaan yang mulia, bahkan mempermudah datangnya rezeki Allah SWT.
Rasukullah SAW bersabda :
“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan”
Rasul kita, Nabi Muhammad SAW juga seorang pedagang sejati. Di sebutkan dalam sejarah bahwa beliau memulai bisinisnya sejak berusia 12 tahun.
Beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, ramah bahkan sukses. Kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam berwirausaha tidak hanya sekedar dalam hal materi saja.
Tapi juga keberkahan rezeki yang diperoleh serta memupuk tali per saudaraan antar muslim (dalam artian memperbanyak patner kerja atau kenalan-kenalan baru).
Berikut 15 cara berdagang Rasu lullah SAW agar sukses dan berkah :
1. Diniatkan karena Allah SWT (Lillahi Ta’ala)
“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat paha la hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperoleh nya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dasar utama Rasulullah SAW berda gang yakni atas niat karena Allah, lillahi Ta’ala. Bukan untuk memupuk harta, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya ataupun untuk memikat wanita.
Tidak sama sekali!
Rasulullah SAW berdagang dengan mengikuti pamannya, Abdul Munthalib hingga ke negeri Syam (Suriah). Ketika usianya menginjak 15-17 tahun, Rasul telah berdagang secara mandiri.
Beliau berhasil memperluas bisnis nya hingga ke 17 negara. Sampai-sampai beliau disebut sebagai khalifah (pemimpin) dagang dan hingga pada akhirnya kecakapannya dalam berdagang mengundang perhatian janda kaya raya berna Siti Khadijah.
Beliau pun menikahi Khadijah dan usaha dagangannya menjadi sema kin sukses. Ya, itulah buah dari sebuah niat yang tulus.
Segala sesuatu yang diniatkan un tuk mencari ridha Allah, pasti akan memudahkannya. Maka itu, awali usaha dengan niat lillahi Ta’ala.
2. Bersikap jujur
Dalam menjalani aktivitas kesehariannya, termasuk berdagang, Rasulullah SAW dikenal akan kejujurannya.
Beliau tidak pernah mengurangi takaran timbangan, selalu mengata kan apa adanya tentang kondisi barang, baik itu kelebihan maupun kekurangannya.
Bahkan tak jarang Rasul melebih kan timbangan untuk menyenang kan konsumennya. Atas kejujurannya itu, beliau pun dianugerahi julukan Al-Amin (yakni seseorang yang dapat dipercaya).
Pentingnya bersikap jujur dalam berdagang juga disinggung oleh Allah SWT dalam beberapa ayat di Al-Quran, diantaranya yakni:
“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy- Syu’araa: 181-183)
“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (QS Ar Rahmaan: 9)
“Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (QS Al- An’aam: 152)
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. ItuIah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat nya.” (QS. Al-Israa' 35)
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi)
3. Menjual barang berkualitas bagus
Prinsip berikutnya yang dianut oleh Rasulullah SAW dalam berdagang adalah menjaga kualitas barang jualannya.
Beliau tidak pernah menjual barang-barang cacat. Sebab itu akan meru gikan pembeli dan bisa menjadi dosa bagi si penjual.
Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, beliau mende ngar Rasulullah SAW bersabda:
" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yang ada cacatnya kepada temannya, kecuali jika dia jelaskan." (HR. Ibn Majah)
4. Mengambil keuntungan sewajarnya
Seringkali kita jumpai pedanganh atau pebisnis yang menjual barang nya dengan harga jauh lebih mahal dari harga aslinya.
Mereka berusaha mengambil laba setinggi mungkin tanpa memikir kan kondisi konsumen. Taktik seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Selain menyalahi agama, menjual barang dengan harga terlalu mahal juga membuat dagangan kita kurang laku.
Sebaliknya, Nabi SAW selalu mengambil keuntungan sewajarnya. Bahkan ditanyai oleh pembeli tentang modalnya, beliau akan memberitahukan sejujur-jujurnya.
Intinya, tujuan Nabi berdagang bukan semata-mata mengejar keuntungan duniawi saja. Tapi juga mencari keberkahan dari Allah SWT.
Firman-Nya :
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghen daki keuntungan dunia, Kami beri kan kepadanya sebagian dari keun tungan dunia dan tidak ada baginya suatu kebahagiaan pun di akhirat .” (QS. Asy-Syuraa: 20)
5. Tidak Memberikan Janji (sumpah) berlebihan
Ketika berdagang sebaiknya jangan memberikan janji atau sumpah-sumpah secara berlebihan.
Misalnya, “Barang ini tidak akan rusak hingga setahun”. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, semua hal dapat berubah atas izin Allah SWT.
Maka itu, janganlah mengklaim ba rang ini super bagus, super awet dan sejenisnya. Sumpah itu tidak baik. Apalagi sampai bersumpah palsu, jelas perkataan tersebut termasuk dusta dan dibenci oleh Allah Ta’ala.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Syibel bahwa Rasulullah SAW ber sabda:
“Para pedagang adalah tukang maksiat”. Diantara para sahabat ada yang bertanya:
“Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah menghalalkan jual-beli?”.
Rasulullah menjawab: “Ya, namun mereka sering berdusta dalam berkata, juga sering bersumpah namun sumpahnya palsu”. (HR. Ahmad)
Di hadist lain :
“Sumpah itu melariskan barang dagangan, akan tetapi menghapus keberkahan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar