Yahudi Genggam Dunia (5)
Oleh aminuddin
Kisah Inspiratif
Kisah I
BEGITU banyak tempat dan bangunan di Arab Saudi menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa nabi dan rasul. Salah satu di antaranya adalah sumur Raumah.
Keberadaan Raumah memang tak menjadi sorotan banyak orang layaknya peninggalan-peninggalan bersejarah lain, seperti Masjid Al Haram, Masjid Nabawi, atau Kompleks Pemakaman Junnat Al-Baqi.
Namun ternyata, di balik sumur ini tersimpan kisah menarik seputar kedermawanan sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan.
Sumur Raumah merupakan salah satu peninggalan sejarah masa Khalifah Utsman bin Affan.
Sumber air ini berada tepat di sebe lah Masjid Qiblatain, Madinah, Arab Saudi. Dahulu, masjid ini dimiliki oleh seorang Yahudi.
Dikisahkan, pada masa itu Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin tengah berada di kota Madinah. Kala itu Madinah sedang dalam kondisi paceklik.
Masyarakatnya sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum maupun berwudhu.
Keadaaan ini tentu saja sangat menyulitkan kaum Muhajirin. Lantaran mereka terbiasa hidup dengan air zam-zam melimpah di Kota Mekah.
Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan saat itu adalah sumur Raumah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh si pemiliki sumur untuk memperjualbelikan air miliknya.
Masyarakat Madinah diwajibkan membeli dan antre untuk mendapatkan air dari sumur Raumah.
Mendengar hal itu, sahabat nabi yang dermawan, Khalifah Utsman bin Affan berusaha membebaskan sumur tersebut dari pemiliknya. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawarnya dengan harga yang tinggi.
Namun sang pemilik tak ingin menjual sumurnya. Utsman tetap berteguh hati dan kembali menawar sumur itu dengan harga yang lebih tinggi.
Hingga akhirnya, Utsman menawarkan jalan keluar kepada pemilik sumur dengan cara membeli setengah dari sumur itu.
Mendengar tawaran itu, pemilik Yahudi langsung menerimanya dengan anggapan dirinya akan mendapat untung dua kali lipat.
Kesepakatan itu dilakukan dengan aturan kepemilikan sumur secara bergantian. Satu hari dimiliki Utsman dan satu hari dimiliki Yahudi.
Saat tiba gilirannya, Utsman meminta kepada seluruh penduduk Madinah untuk mengambil air secara gratis dari sumur dan mengambilnya dengan ukuran banyak agar cukup untuk persediaan dua hari. Karena keesokan harinya sumur tersebut akan berganti pemilik.
Esok harinya, sumur tersebut sepi tanpa pembeli karena penduduk masih memiliki cadangan air. Akibat kondisi ini, si Yahudi pemilik sumur mendatangi Utsman dan memintanya untuk membeli separuh lagi sumur miliknya.
Akhirnya dibelilah separuh sumur tersebut dengan harga yang sama pada saat pembelian pertama, yakni 20.000 dirham.
Sumur Raumah pun menjadi milik Khalifah Utsman sepenuhnya. Setelah itu beliau mewakafkan Sumur Raumah untuk kepentingan para penduduk.
Siapapun diperbolehkan mengambil air dari sumur itu termasuk pemilik lamanya, si orang Yahudi.
Seiring berjalannya waktu, area di sekitar sumur banyak ditumbuhi pohon kurma yang terus bertambah jumlahnya. Saat ini diperkirakan ada sekitar 1.550 pohon kurma di sana.
Pohon-pohon kurma itu kini dikelola oleh Departemen Pertanian Arab Saudi. Kurma-kurma yang dihasilkan dijual oleh Departemen Pertanian ke pasar-pasar dan setengah hasil penjualan kurma diberikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin.
Uniknya, setengah pendapatan lagi disimpan pemerintah Saudi pada salah satu bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan, di bawah pengawasan Departemen Pertanian.
Kabarnya, uang simpanan di rekening tersebut telah digunakan untuk membeli sebidang tanah dan membangun hotel bintang 5 yang cukup besar di salah satu kawasan strategis dekat Masjid Nabawi.
Untuk mengenang kedermawanan sang khalifah, hotel ini pun diberi nama Utsman bin Affan.
Kisah II
PADA masa khalifah Umar bin Khattab, ada gubernur Mesir bernama Amr bin ‘Ash. Dia berniat untuk membangun sebuah masjid di daerah yang masih dalam kekuasaannya.
Namun keinginannya itu terbentur dengan adanya rumah yang harus digusur, dan rumah tersebut ternyata dimiliki oleh seorang Yahudi tua.
Gubernur Amr bin ‘Ash lalu memanggil Yahudi tua tersebut dan meminta agar dia mau menjual tanahnya. Akan tetapi orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjual tanahnya.
Kemudian gubernur Amr bin ‘Ash memberikan penawaran yang cukup tinggi dengan harga jauh di atas harga pasaran. Akan tetapi tetap saja orang Yahudi itu menolak untuk menjual tanahnya.
Gubernur Amr bin ‘Ash kesal dan akhirnya, karena berbagai cara te lah dilakukan dan hasilnya buntu, sang gubernur memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran dan akan menggusur paksa lahan tersebut.
Sementara si Yahudi tua itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Orang Yahudi itu berniat mengadukan kesewenang-wenangan gubernur Mesir itu pada khalifah Umar bin Khattab.
Akhirnya orang Yahudi itu pergi ke Madinah untuk mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab.
Begitu tiba di Madinah, orang Yahudi itu merasa takjub karena Khalifah Umar tidak memiliki istana yang megah. Bahkan dia diterima Umar hanya di halaman Masjid Nabawi di bawah naungan pohon kurma.
Selain itu, penampilan Khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas.
“Ada keperluan apa kakek datang ke sini jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar bin Khattab.
Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar, ramah dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya.
Dia bercerita pula tentang bagai mana perjuangannya untuk memi liki rumah itu. Dia sejak muda be kerja keras sehingga dapat membeli sebidang tanah dan membuat gubuk di atas tanah tersebut.
“Akan tetapi wahai Khalifah Umar, sungguh sangat menyedihkan. Harta satu-satunya yang aku miliki sekarang telah sirna, karena telah dirampas oleh gubernur Amr bin ‘Ash, kata orang Yahudi itu tanpa rasa takut.
Laporan tersebut membuat Khalifah Umar marah dan wajahnya menjadi merah padam. Yahudi itu diminta untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah lalu diserahkannya tulang itu kepada sang Khalifah.
Khalifah Umar lalu menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah. Dan di tengah goresan ada lagi goresan melintang menggunakan ujung pedang, lalu tulang itu pun diserahkan kembali kepada orang Yahudi lalu berpesan :
“Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir, dan berikanlah kepada gubernur Amr bin ‘Ash” jelas Khalifah Umar bin Khattab.
Si Yahudi itu kebingungan ketika disuruh membawa tulang yang telah digores dan memberikannya kepada gubernur Amr bin ‘Ash.
Sang gubernur langsung pucat pasi dan menggigil ketika menerima tu lang tersebut. Saat itu juga sang gubernur langsung mengumpulkan rakyatnya untuk membangun kembali gubuk yang reot milik orang Yahudi itu.
“Bongkar masjid itu!”, teriak gubernur Amr bin ‘Ash gemetar. Orang Yahudi itu merasa heran dan tidak mengerti tingkah laku gubernur.
“Tunggu!” teriak orang Yahudi itu.
"Maaf Tuan, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sehingga Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini? Sungguh saya tidak mengerti.”
Gubernur Amr bin ‘Ash memegang pundak orang Yahudi sambil berkata:
“Wahai kakek, tulang ini hanyalah tulang biasa dan baunya pun busuk. Akan tetapi tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku dan tulang ini merupakan ancaman Khalifah Umar bin Khattab. Artinya apa pun pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf Alif yang lurus. Adil di atas, dan adil di bawah. Sebab, kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”, jelas sang bernur tersebut.
Orang Yahudi itu tunduk terharu dan terkesan dengan keadilan dalam Islam.
“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh aku rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Bimbinglah aku dalam memahami ajaran Islam!”
Akhirnya orang Yahudi itu mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan masjid dan dia sendiri langsung masuk agama Islam.
Allahu Akbar ..
Kisah III
RASULULLAH SAW sebagai kekasih dan orang pilihan Allah SWT mempunyai tempat yang istimewa di antara para sahabatnya.
Tak jarang di antara para sahabatnya itu menawarkan diri untuk menjadi pelayan Rasulullah. Namun demikian, Rasulullah SAW tidak merasa seperti raja di antara para sahabatnya.
Hal ini terbukti di antaranya ketika Rasulullah SAW dan para sahabat bersama-sama membangun masjid Quba. Rasulullah tidak gengsi untuk mengangkut batu-bata di pundaknya. Inilah di antara bukti kerendahan hati Rasulullah bersa ma para sahabatnya.
Muhammad yang merupakan seorang nabi dan rasul masih mau mengangkat barang material ba ngunan masjid dan ikut terjun l menggali parit saat perang Khandaq terjadi.
Sejarah mencatat beberapa nama sahabat yang pernah mengabdikan dirinya untuk Nabi dan memiliki peran masing-masing.
Di antaranya adalah Anas bin Malik, putra Ummu Sulaim, sek retaris pribadi Rasulullah SAW sela ma sekitar 10 tahun.
Ibunya menitipkan Anas pada Nabi saat ia masih berusia 8 tahun. Rabi’ah bin Ka’ab, salah satu anggota Ashhabus Shuffah, biasa membantu Nabi dalam mengambilkan air wudu di sumur.
Lalu Abdullah bin Mas’ud yang mendapat julukan shahibu na’laih, pelayan Nabi yang biasa memakaikan dan mencopot kedua sendal Nabi.
Uqbah bin Amir juga mendapat julukan khusus sebagai pelayan Nabi yaitu shahibu baghlatihi. Ia bertugas menuntun hewan Bigal yang ditumpaki Nabi saat bepergian kemanapun.
Selain itu, pelayan Rasulullah SAW dari kalangan wanita di antaranya adalah Ummu Aiman. Ia berkebangsaan Ethiopia (Habasyah). Budak yang dimerdekakan oleh Abdullah, ayah Rasulullah SAW.
Ummu Aiman salah satu orang yang berjasa dalam merawat Nabi dari kecil hingga dewasa. Umur tidak ada yang menyangka, Rasulul lah SAW justru wafat lima bulan lebih dulu dari Ummu Aiman.
Di sisi lain, pelayan Rasulullah ternyata bukan hanya dari kalangan muslim saja. Pemuda Yahudi yang konon bernama Abdul Quddus juga pernah menjadi pelayan Rasulullah SAW.
Tidak diketahui secara pasti apa tugas Abdul Quddus dalam melayani Rasulullah. Namun demikian, al-Qurthubi menyebutkan bahwa sekelompok Yahudi memaksa berkali-kali Abdul Quddus untuk mengambil rontokan rambut Nabi.
Karena waktu itu belum terlalu dewasa, Abdul Quddus tanpa curiga memberikan rontokan rambut Nabi kepada sekelompok Yahudi itu.
Kita dapat menduga bahwa Abdul Quddus bertugas sebagai orang yang menyiapkan sisir Rasulullah SAW.
Ternyata belakangan diketahui, Labid bin Al-A’sham menyihir Nabi dengan rontokan rambut tersebut. Sayangnya, tindakan tak terpuji sekelompok Yahudi itu gagal.
Suhir tersebut tak mempan mencelakai Rasulullah SAW yang selalu dijaga oleh Allah SWT.
Sikap perhatian Rasulullah dan kasih sayang beliau terhadap para pelayannya membuat pemuda Yahudi justru tertarik masuk Islam.
Saat Abdul Quddus sakit, Rasulul lah SAW selalu menjenguknya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang juga pelayan Rasulullah SAW :
كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ: «أَسْلِمْ»، فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: «الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ» (رواه البخاري)
"Nabi memiliki pelayan seorang pemuda Yahudi. Suatu saat pemuda itu jatuh sakit. Nabi pun menjenguknya dan duduk di dekat kepala pemuda Yahudi itu. Nabi pun menawarkan pemuda Yahudi tersebut masuk Islam. Lalu pemuda Yahudi itu menatap wajah bapaknya seraya meminta izin. “Silakan kamu mengikuti ajaran Abul Qasim, (Muhammad) (ayah rela kamu masuk Islam),” jawab ayah pemuda Yahudi itu kepadanya.
Nabi pun keluar seraya berdoa: “Alhamdulillah, semoga dia (pemuda Yahudi) diselamatkan dari api neraka” (HR. Bukhari).
Dari kisah pelayan Nabi yang berasal dari agama Yahudi ini, kita dapat mengasumsikan bahwa hubungan sosial Nabi dengan non-Muslim terjalin dengan sangat baik.
Jikalau kita dapati riwayat-riwayat hadis, sekalipun sahih, berkenaan dengan pertikaian antara umat Muslim dan non-Muslim pada masa lalu itu bukan dikarenakan faktor perbedaan agama.
___
- Islami.com
- Dream.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar