Dua Menara (3)
Oleh Wak Amin
RUPANYA perasaan tak enakku ini diketahui Hasan. Pada suatu ke sempatan, di saat kuhendak pulang belajar bersama di rumahnya, dia membisiki sesuatu di telingaku.
"Kita duduk di teras sebentar yuk," katanya sambil membawa sebotol air dingin dan dua gelas plastik kecil.
Aku mengiyakan, walaupun sebe narnya dalam hati ini bertanya-ta nya, ada apa dengan Hasan.
Apa kah dia marah?
"Ah tidak Mat. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Itu pun kalau kamu bersediar men dengarkannya."
"Apapun itu, aku akan selalu men dengarkanmu," kataku terus terang.
"Aku ingin kamu Mat, sering-seringlah main di sini."
Aku tertawa.
"Tentu Mat. Malah aku siap datang ke rumahmu kapan saja kau mau."
Hasan tersenyum.
"Terima kasih Mat," jawab Hasan. Buru-buru dia menambahkan, "Kukira kamu ..."
"Kukira apa San?"
"Kamu keberatan ..."
Ha ha ha ...
"Enggaklah San. Aku dengan kamu, adikmu Lia, dan juga ibumu sudah kuanggap bagian dari keluargaku sendiri ..."
"Cuma," kataku kemudian, "Aku jadi tak enak hati. Maksudku, apa kamu dan adikmu tak keberatan jika aku bagian dari keluarga kalian?"
"Tidaklah Mat," kata Hasan. "Malah aku yang kepikiran, kamu pasti tak enak hati. Betul kan?"
"Betul San," jawabku.
Kuk kukuruyuuuk ...
Ayam jago berkokok.
Sore hari ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar