Mata Pisau (16)
Oleh Wak Amin
TRAANG ...
Hi hi hi hi ...
Suara ombak memecah pantai, sua ra benda jatuh, batu yang di lempar dan suara perempuan ketawa ceki kikan mewarnai seminggu kebera daan Mr Fredi dan orang keperca yaannya berada di Pulau Bebek ini.
"Serem Bro," bisik Jonathan pada Anto. Dia juga menanyakan keada an Sang Bos yang beberapa saat lalu pergi entah kemana.
"Kencing aja Bro," jawab Anto.
"Kamu enggak temani apa?"
"Enggak. Sudah ada Albert dan Joseph," kata Anto.
"Udah. Tenang aja," imbuh Anto, "Pokoknya aman."
Menoleh ke belakang, muka Jona than berubah pucat.
"What's wrong Mr Jonathan?"
Ditanya Anto yang terkesan mele dekinya, Jonathan bukannya ma rah.
Dia malah ketakutan ...
"Than ..."
"Apa?"
"Lihat di belakang kamu .."
Haaaa ...
"Lariiiii ..."
Keduanya berlari. Karena tidak me lihat ke depan, 'menabrak' Albert dan Joseph.
Bruuuk ...
Jatuh bergulingan di rerumputan. Saling tindih.
"Cepat bangun!" Mr Fredi setengah membentak.
Dia tak habis pikir kenapa Anto dan Jonathan, dua 'anak buahnya' ini tiba-tiba berprilaku aneh.
"Hantu Tuan," kata Jonathan gugup.
"Hantu apa. Masa sepagi ini sudah melihat hantu."
"Benar Tuan. Saya tidak main-main."
"Oke. Dimana hantunya?"
Terpaksalah Jonathan menunjuk kan lokasi persis kemunculan hantu tadi.
"Mana hantunya?" Tanya Mr Fredi. Bukan menantang. Hanya ingin memastikan saja.
"Tadi ada di sini Tuan. Bener. Saya enggak bohong. Anto saja lihat Tuan ..."
"Bener kamu lihat juga To?"
"Bener Tuan. Hantu perempuan. Nyengir lagi ..."
Hua ha ha ha ...
Albert dan Joseph ketawa ngakak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar