Selasa, 18 September 2018

Palestina (6)

Palestina (6)
Oleh aminuddin




Pengkhianatan Saudi

SEKJEN Hizbullah Lebanon, Jumat (8/6/2018) bertepatan dengan Hari Quds Sedunia di hadapan ribuan orang di selatan negara itu menga takan, konspirasi musuh yang paling berbahaya adalah proyek "Transaksi Abad" yang bertujuan menghapus masalah Palestina dan menyerahkan Al-Quds beserta selu ruh kesuciannya kepada Zionis.

Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrullah menjelaskan, sebagian pihak dengan tulisan dan lisannya mengakui bahwa rezim Zionis Israel punya hak di Palestina dan Al- Quds, dan Arab Saudi bertanggung jawab atas fitnah ini.

Pada saat yang sama, 30 lembaga hak asasi manusia internasional mendesak Saudi agar segera membebaskan seluruh aktivis HAM yang ditahan di negara itu.

Penentangan luas atas kebijakan rezim Al-Saud menunjukkan dalamnya kekhawatiran masyarakat internasional atas kebijakan berbahaya Riyadh yang dapat membawa dampak destruktif bagi negara-negara kawasan.

Dalam cakupan regional, rezim Al- Saud dengan kebijakan-kebijakan berbau fitnahnya dan dukungan atas kelompok-kelompok teroris Takfiri serta intervensinya, merupakan salah satu faktor utama instabilitas dan ketidakamanan di kawasan.

Kebijakan rezim Al-Saud ini dapat disaksikan dengan jelas di Irak dan Suriah, namun tidak berhenti di sana, kebijakan haus perang Saudi juga diterapkan di Yaman.

Artinya, Saudi secara langsung terjun ke dalam perang dan pembunuhan di negara-negara Muslim seperti Yaman.

Rezim Al-Saud melakukan pengkhianatan paling berbahaya dengan menjadi pelaksana kebijakan Amerika di kawasan yang berkonspirasi untuk menjalankan proyek baru Amerika, Transaksi Abad.

Dengan proyek ini, Presiden Amerika bermaksud memaksakan konspirasi baru terkait rekonsiliasi damai Israel dan Palestina.


Israel-Saudi
Stasiun televisi Al-Masirah melaporkan, pasca pemindahaan kedutaan besar Amerika dari Tel Aviv ke Al-Quds, Donald Trump di bulan Juni 2018 berusaha memaksakan proyek baru rekonsiliasi dengan rakyat Palestina.

Situs internet Middle East Eye beberapa waktu lalu mengabarkan, pejabat Saudi telah menerima salinan proyek baru Trump itu.

Menurut TV Al Masirah, kenyataan ini menunjukkan adanya persekongkolan untuk menyerang Palestina.

Salah satu tujuan asli proyek Transaksi Abad adalah menghapus masalah Palestina dan memberikan peluang kepada Israel untuk menguasai kawasan dan merampok kekayaannya.

Dalam kerangka konspirasi ini, langkah tendensius Amerika memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv dilakukan di tengah kebisuan para penguasa Arab terutama Saudi.

Namun, kekhawatiran dunia atas kebijakan-kebijakan Saudi tidak hanya terbatas di luar negeri bahkan di dalam negeri negara itu juga.

Rakyat Saudi selalu terancam kekerasan, penumpasan dan kebijakan diskriminatif rezim Al- Saud.

Buah dari penerapan kebijakan menindas rezim Al-Saud ini adalah penangkapan lebih dari 30.000 tahanan politik dan hukuman mati sejumlah besar oposan pemerintah.

Hal yang perlu diperhatikan adalah politik pemberangusan di Saudi justru mengalami peningkatan yang signifikan di masa pemerintahan Raja Salman dan penindasan ini dinamai reformasi yang digagas oleh Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman.

Inilah yang semakin menunjukkan parahnya penipuan dan kejahatan yang dilakukan rezim Al-Saud khususnya keluarga bin Salman.

Perkembangan kawasan dan Saudi menunjukkan bahwa rakyat kawasan dan rakyat Saudi terancam kejahatan rezim Al-Saud dan masalah ini membutuhkan kewaspadaan ekstra dari masyarakat dunia dan tindakan tegas untuk mencegah kejahatan rezim Al Saud ini.



____
ParsToday

Tidak ada komentar:

Posting Komentar