Jumat, 21 September 2018

Yaman dan Pertemanan (4)

Yaman dan Pertemanan (4)


Perang Yaman II

- Jerman Ekspor Senjata

UU Jerman praktis melarang ekspor senjata ke negara yang terlibat kon flik bersenjata. Namun Berlin baru-baru ini menyetujui penjualan senjata ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) terlibat aktif dalam perang di Yaman. Perjanjian koalisi pemerintahan Jerman saat ini, antara CDU, CSU dan SPD bahkan secara tegas menentang penjualan senjata itu.

Namun Menteri Ekonomi Peter Altmeier dalam sebuah surat kepada Komisi Ekonomi di parlemen Jerman Bundestag mengakui, pemerintahannya menyetujui ekspor senjata dan perlengkapan militer ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selain itu juga ke Qatar, Yordania dan Mesir.

Peter Altmeier menerangkan, penjualan senjata itu sebelumnya telah disetujui oleh komisi-komisi pengawas di parlemen, antara lain Komisi Keamanan.

Dalam keterangannya Altmeier menyebutkan, Saudi Arabia akan mendapat sistem pelacak artileri.

Perangkat radar yang bisa dipasang pada kendaraan militer itu mampu mendeteksi dari mana datangnya serangan musuh secara akurat dan dengan demikian memudahkan serangan balik.

Selain itu, Komisi Keamanan yang terdiri dari Kanselir Angela Merkel dan beberapa menteri terkait, menyetujui penjualan 48 rudal dan 91 sistem radar pelacak target untuk kapal perang kepada UEA.

Jerman juga menjual 170 rudal dan roket untuk sistem rudal udara-ke-udara kepada Qatar dan 385 mortir penghancur kendaraan lapis baja kepada Yodania. Sementara Mesir akan membeli 7 unit sistem pertahanan udara.

Altmeier dalam suratnya tidak menyebutkan berapa nilai transaksi penjualan senjata itu.

Pihak oposisi mengritik transaksi senjata terbaru itu dan menyebutnya "tidak bertanggung jawab".

Partai Kiri menuntut agar pemerintah segera menghentikan semua bisnis senjata dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik bersenjata di Yaman.

Dalam perjanjian koalisi dari awal tahun ini disebutkan, pemerintahan koalisi tidak menjual senjata ke pihak manapun yang terlibat dalam perang saudara di Yaman.

Kecuali ekspor senjata yang telah disetujui sebelum pemerintahan terbentuk, atau senjata yang tidak meninggalkan wilayah negara penerima.

Sebuah koalisi militer yang dipimpin oleh Arab Saudi dan UEA melakukan intervensi ke Yaman pada tahun 2015 untuk mendukung pemerintahan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi yang diakui secara internasional.

Mansour Hadi digulingkan oleh pemberontak Houthi, dan kemudian melarikan diri ke Arab Saudi.
Lebih dari 10.000 orang tewas dalam konflik yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan besar dan mengancam jutaan orang  kelaparan.

Pasukan Arab Saudi dan UEA dituduh beberapa pihak melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kemungkinan kejahatan perang di Yaman.


- Jurang Kelaparan

KOALISI yang dipimpin Arab Saudi di Yaman mengakui serangan udara yang menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak di sebuah bus.

Koalisi Arab mengatakan serangan itu tidak dapat dibenarkan dan berjanji untuk meminta pertanggung jawaban siapa pun yang berkontribusi terhadap kesalahan itu.

Pengakuan langka ini mengikuti tekanan internasional, termasuk dari sekutu, untuk berbuat lebih banyak membatasi korban sipil dalam perang saudara 3,5 tahun.

Perang di Yaman telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan mendorong negara yang sudah miskin itu ke jurang kelaparan.

Koalisi Arab mengatakan pada saat serangan udara 9 Agustus di sebuah pasar di Provinsi Saada menargetkan peluncur rudal yang digunakan untuk menyerang Arab Saudi selatan sehari sebelumnya.

Koalisi Arab menuduh Houthi menggunakan anak-anak sebagai perisai manusia.

Tim Penilai Insiden Bersama (JIAT), sebuah badan investigasi yang dibentuk oleh koalisi Arab, mengatakan bahwa serangan itu didasarkan pada informasi intelijen yang menunjukkan bus itu membawa pemimpin Houthi, target militer yang sah.

Tetapi penundaan dalam melaksanakan penyerangan dan penerimaan perintah tidak menyerang harus diselidiki lebih lanjut.

"Ada penundaan yang jelas dalam mempersiapkan jet tempur pada waktu dan tempat yang sesuai, sehingga kehilangan (peluang) untuk menargetkan bus ini sebagai target militer di area terbuka untuk menghindari kerusakan tambahan," kata penasihat hukum JIAT, Mansour Ahmed al-Mansour kepada wartawan di Ibu Kota Saudi.

"Tim percaya bahwa pasukan koalisi harus segera meninjau penerapan aturan keterlibatan mereka untuk memastikan kepatuhan," tambahnya seperti dikutip dari Reuters, baru-baru ini.

Koalisi kemudian mengumumkan bahwa mereka menerima temuan tersebut dan berjanji untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun yang terbukti telah melakukan kesalahan.

"Komando Pasukan Gabungan Koalisi menyatakan penyesalan atas kesalahan itu, menyampaikan simpati, belasungkawa dan solidaritas kepada keluarga korban," kata pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Saudi, SPA.

Koalisi mengatakan akan berkoordinasi dengan pemerintah Yaman untuk memberi kompensasi kepada korban dan akan terus meninjau kembali aturan keterlibatan untuk mencegah terulangnya insiden semacam itu.

Pekan lalu, sebuah panel ahli HAM PBB mengatakan beberapa serangan udara koalisi mungkin merupakan kejahatan perang.

Di Washington, Menteri Pertahanan Jim Mattis mengatakan dukungan AS untuk koalisi yang dipimpin Saudi itu tidak tanpa syarat, tetapi menyarankan Amerika Serikat akan terus mendukung aliansi karena bekerja untuk mengurangi kejatuhan pada warga sipil.



- Harus Yanggung Jawab

SEORANG pangeran Arab Saudi menuding Raja Salman dan putra nya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, atas terjadinya perang Ya man yang menewaskan ribuan orang.

Pangeran Ahmed bin Abdulaziz, saudara laki-laki Raja Salman dan salah satu putra pendiri kerajaan Arab Saudi, mengatakan, pengunjuk rasa antiperang yang hadir di luar kediamannya di London, Inggris, tidak menyalahkan dirinya mengenai perang Yaman.

"Ada orang tertentu yang bertang gung jawab. Jangan menyalahkan seluruh anggota kerajaan," kata Pangeran melalui rekaman video seperti diberitakan Al Jazeera.

Ketika dia ditanya siapa orang-orang yang dimaksud, Pangeran mengatakan, siapa lagi kalau bukan raja dan para ahli warisnya.

"Di Yaman dan beberapa tempat lain, perang harus segera berakhir hari ini atau sebelum besok," tegas Pangeran Ahmed menambahkan.

Sejumlah anak-anak bermain di atas mobil yang sudah tidak ter pakai saat berada di kamp pengu ngsian untuk korban perang di dekat Aden, Yaman, 27 Mei 2018.

Beberapa jam setelah pernyataan Pangeran Ahmed yang beredar melalui rekaman video, kantor berita Saudi Agency Press, mengatakan apa yang disampaikan oleh Pangeran Ahmed adalah sebuah pernyataan salah persepsi.

Arab Saudi bersama sekutunya terlibat perang di Yaman pada 2015 untuk mengusir Houthi yang sekarang berkuasa di Ibu Kota Yaman.

Dalam konflik bersenjata tersebut, Iran mendukung Houthi, sementara Arab Saudi menyokong pemerin tahan di Aden.

Akibat perang tersebut, lebih dari 5.000 orang tewas terutama pendu duk sipil dan anak-anak.









___

- Sindo News

- Deutsche Welle

- Tempo. Co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar