Rabu, 26 September 2018

Dua Menara (7)

Dua Menara (7)
Oleh Wak Amin

****

AKU amat terkejut setelah Bu Aida menceritakan keadaan Hasan saat ini. Dia dipenjara karena kasus pem bunuhan.

"Sudah tiga minggu dia mendekam di penjara," kata Bu Aida sambil me neteskan air mata.

Kulihat Lia menunduk. Lalu mende kat, duduk di dekat ibunya. Dia ci um kedua pipi wanita berkulit hitam manis itu silih berganti.

"Maafkan Lia, Bang Mamat. Lia ..." Lia terisak, kemudian memelukku haru dan penuh penyesalan.

"Tak ada yang perlu dimaafkan Lia," kucoba hibur Lia. Walau perasaan ku sendiri berkecamuk.

Marah, kecewa, dan sedih jadi satu. Aku marah dan kecewa bukan pa da Bu Aida dan Lia. Tapi pada diri ku sendiri.

Karena terus terang belakangan ini, setelah aku bekerja, jarang menga bari mereka, terutama Bu Aida dan Hasan.

Hal itu terjadi karena aku sangat si buk dengan pekerjaanku. Sebagai anak tertua aku bertanggung jawab  penuh akan masa depan adikku, Shinta.

Juga ibuku, wanita yang telah melahirkanku ...

"Sengaja ibu tak beritahu kau Mat. Karena masalah yang dihadapi Ha san sangat berat," kata Bu Aida.

Menarik nafas berat ...

Dug ... Dug ... Dug ...

Allahu akbar ... Allahu akbar ..

Suara azan zuhur terdengar dari menara masjid. Merdu terdengar. Syahdu 'menyentak' sanubariku.

"Lia. Ajaklah abangmu shalat zuhur di masjid."

"Baik Ma. Bang Mamat. Lia ambil mukena dulu ya.

Kumengiyakan ...

Dulu, sebelum aku pindah kota, dan sering bermain di rumah Hasan, aku sering diajaknya menunaikan shalat zuhur, ashar dan magrib ber jamaah di masjid.

Sesekali Lia dan Bu Aida ikut serta. Bulan suci Ramadhan terasa cepat berlalu. Pasalnya, hampir setiap ma lam kami shalat tarawih bersama.

Momen ini sangat manis kukena ng. Dua keluarga jadi satu. Sama-sama punya adik perempuan. Aku punya adik bernama Shinta, seda ngkan Hasan beradikkan Lia.

Antara adik dan ibuku dengan Ha san, Lia dan Bu Aida nyaris tak berjarak lagi, kecuali rumah yang dipisahkan lorong dan sedikitnya lima belas rumah.

Ibuku sering berkunjung ke rumah Bu Aida. Seminggu kemudian, gan tian Bu Aida bertandang ke rumah kami.

Aku senang ...

Ah, indahnya saat itu ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar