Sabtu, 08 September 2018

Mata Pisau (12)

Mata Pisau (12)
Oleh Wak Amin



MENDAPAT kabar Letnan Robert dan Sersan James tewas di tangan pasukan pemerintah, Mr Fredi kela bakan. Dia segera menelepon saha batnya Jenderal Daus.

Sayangnya sang jenderal tak mau membantu karena kondisi keseha tannya akhir-akhir ini jauh menur un. Lagi pula dia sudah tidak aktif lagi karena sebentar lagi akan pensiun.

"Maaf Bro. Aku bukan tak mau me nolong kamu. Seperti kamu sudah tahu, usiaku kini sudah sepuh. Pe nyakitan dan sebentar lagi purna wirawan," kata Jenderal Daus, me nyambut telepon dari taman bela kang rumahnya.

"Tapi Jen ... Kamu kan masih punya pengaruh. Suaramu pasti didengar. Tolonglah Bro. Sekali ini saja," rengek Mr Fredi.

"Terus terang, kalau menyangkut nyawa, aku tak bisa menolong Bro. Karena kalau aku menolongmu be rarti aku juga jadi penjahat dong Bro."

"Tidaklah Jen. Kamu kan tahu siapa aku ..."

"Ini bukan soal aku dan kamu Bro. Ini masalah pelaku tindak kriminal yang bermaksud cuci tangan dan melarikan diri. Justru aku bermaksud ..."

"Membantuku diam-diam Jen? Tak masalah Jen. Rahasia pasti aku simpan rapat-rapat. Tak usah kuatir Jen ..."

"Bukan itu maksudku Fredi. Terlin tas dalam benakku barusan, aku memintamu menyerahkan diri."

Haaaa ...

"Oh tidak Jen. Kalau aku menyerah kan diri itu sama artinya menye rahkan nyawaku pada pasukan pemerintah."

"Tidak juga Bro. Justru kalau kamu tetap mau lari. Lari kemana. Kamu sudah dikepung. Kamu pasti da pat ..."

"Tapi aku masih punya harga diri Jen," terang Mr Fredi.

"Harga diri apa Bro? Sudahlah. Me nyerahlah. Saya yakin kalau kamu menyerahkan diri akan lebih baik daripada kamu berlari dan ditang kap nantinya."

"Jenderal yakin?

Ha ha ha ...

Tertawa terbahak-bahak ...

" Itu hanya mitos Jen. Buktinya ba nyak teman saya yang menyerah kan diri tapi hingga kini tak tahu kabar beritanya."

"Teman yang mana?"

Jeguaaar ...

Guaaaam ...

Terdengar ledakan dahsyat di bela kang gedung apartemen tua. Meru sakkan dinding dan bangunan di taman belakang, seperti shelter, kursi, meja dan kolam ikan beba tuan.

"Fredi ..."

"Frediii ...

Telepon itu dibiarkan terjuntai. Sua ra Jenderal Daus tak sempat di de ngar Mr Fredi lagi, apalagi harus dijawab.

Mr Fredi justru bergegas ke depan. Bersama beberapa orang keperca yaannya berhasil melarikan diri me nggunakan mobil bertenaga kuda anti peluru.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar