Mari Kita Berdagang (44)
Oleh aminuddin
Renungkan (3)
Nyonya Meneer
KABAR sedih bagi penikmat pro duk-produk dari pabrik jamu legen daris Nyonya Meneer. Pabrik yang sudah berdiri sejak tahun 1919 kini dinyatakan bangkrut.
Hal ini disampaikan oleh Pengadi lan Negeri Semarang pada 3 Agus tus 2017 lalu bahwa PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit.
Pertanyaannya, apa sebenarnya penyebab besar dari kebangkrutan pabrik yang mampu bertahan hampir 100 tahun, tepatnya sekitar 98 tahun itu.
Berikut ini TribunWow.com rang kum dua penyebab besar yang membuat pabrik penuh kenangan masa kecil bagi generasi 90-an ke bawah, harus gulung tikar:
1. Terjerat hutang miliaran rupiah
Perusahaan Nyonya Meneer ternyata memiliki hutang hingga Rp7,4 miliar.
Fakta lain yang terungkap perusahaan jamu legendaris ini tak mampu membayar kewajibannya sesuai perjanjian.
Anggota majelis hakim PN Niaga Semarang, Wismonoto, mengatakan, pihak penggugat mengajukan gugatan karena tidak puas atas proses pembayaran hutang sebagaimana diatur dalam perjanjian damai.
Dalam waktu yang ditentukan, peru sahaan dinilai tidak menunaikan kewajibanya. Atas dasar itu, kre ditur meminta agar perusahaan dipailitkan.
"Dalam waktu sekian tahun, dalam rentang waktu itu dinilai tidak sig nifikan. Perjanjian (damai) itu diba talkan dalam persidangan,” jelas nya Kamis (3/8/2017), dikutip dari Kompas.com.
"Kalau dinyatakan pailit, semua aset Nyonya Meneer harus dikelola oleh semacam kurator. Nanti kre ditur mana yang diutangi, diambil alih oleh kurator lalu dilelang, hasil lelang berupa uang dibayarkan ke kreditur sesuai porsinya," imbuh nya.
2. Tidak mampunya bersaing da lam berbisnis di era digital
Seorang ekonom senior Indef, Didik J Rachbini menilai keterpurukan PT Nyonya Meneer terjadi karena tidak bisa bersaing di era digital.
Menurut Didik, penjualan ritel pada saat ini memang mengalami penurunan dan berubah secara cepat, sehingga dapat mematikan industri-industri yang tidak bisa beradaptasi perkembangan.
"Pemerintah harus perbaiki ekono mi, ditingkatkan pertumbuhan in dustrinya, karena ini berubah de ngan cepat, mungkin saja ratusan perusahaan bisa hilang nanti," tuturnya, dikutip dari Tribunnews.com.
3. Masalah manajemen hingga tak bisa mengikuti pasar
Pendapat lain muncul dari Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro.
Bambang menilai PT Nyonya Mene er tidak bisa mengikuti keinginan pasar makanya gulung tikar karena dalam dunia bisnis itu yang biasanya terjadi.
"Soal jamu, kita lihat ada merek lain yang saya sebut bisa melakukan adjustment dengan baik, keuntungan dan omzet pun meningkat," ujar Bambang.
Ia tidak ingin menjustifikasi adanya masalah manajemen Nyonya Meneer, namun hal ini bisa saja terjadi pada perusahaan lama.
Fenomena seperti ini juga terjadi di negara lain seperti Amerika Serikat.
Hal ini terjadi karena tidak mampu berinovasi.
__
TribunWow.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar