Minggu, 02 September 2018

Yahudi Genggam Dunia (29)

Yahudi Genggam Dunia (29)
Oleh aminuddin

BERBEDA dengan Yaakov dan Elisheva yang memiliki darah Yahudi, Manuel Sadonda (34 tahun) bukan keturunan Yahudi.

Dia mengaku berpindah agama dari Kristen ke Yudaisme sejak tiga tahun terakhir karena merasa terpanggil.

"Berawal dari rasa penasaran terhadap kitab suci, lalu menemukan Yudaisme dan saya merasa nyaman memeluk Yahudi," kata Manuel usai beribadah di Sinagoga Shaar Hashamayim.

Menurut Elisheva, ada sekitar 200 orang Yahudi yang menganut Yudaisme secara terbuka, dari ribuan orang keturunan yang tersebar di Indonesia.

Kehadiran orang Yahudi di Indonesia memiliki sejarah panjang dan mereka datang dalami tiga gelombang, menurut Romi Zarman peneliti sejarah Yahudi di Indonesia dan penulis buku 'Di bawah Kuasa Antisemitisme.'

Pada awal abad 10 , Ishaaq Yehuda seorang Yahudi Oman berdagang di Sumatra dan tewas dirampok di wilayah kerajaan Sriwijaya.

Tiga abad kemudian, lewat dokumen Geniza, diketahui bahwa seorang Yahudi Mesir berlabuh dan berdagang di Barus, Pesisir Barat Sumatra.

"Kehadiran orang Yahudi di negeri ini pertama-tama tampak didorong motivasi ekonomi berdagang, namun pada abad ke-16, dalam era Portugis, kehadiran Yahudi juga dilengkapi aspek lain di mana Politik Inkuisisi di Spanyol telah membuat Yahudi terusir," jelas Romi kepada BBC News Indonesia.

Kelompok ini, menurut Romi ber migrasi di antaranya ke Asia. Ke lompok ini ditemukan berdiam di Malaka.

Gelombang kedua kedatangan orang Yahudi ke Indonesia terjadi pada 1602 sampai masa kolonial Belanda pada 1819.

Menurut Romi, sebagian besar mereka merupakan Yahudi Separdi, yang memiliki kemampuan berbahasa Arab dan menjadi penerjemah bagi perusahaan dagang Vereenigde Oost-Indsich Compagnie (VOC) dan British East India Company (EIC), terutama di Aceh dan Banten.

"Sementara, Yahudi Askenazi (Eropa Timur) kebanyakan berkerja sebagai administrator dan ada yang tergabung dalam barisan serdadu VOC, adapun
Yahudi Mizrahi (Timur Tengah) giat dalam bisnis dan menjalin kerjasama dengan siapa saja," kata Romi.

Orang Yahudi yang datang ke Indonesia bukan hanya penganut Yudaisme, namun juga terdiri dari Yahudi Arab beragama Islam yang bermigrasi bersama-sama dengan rombongan Arab.

Dalam penelitiannya, Romi bertemu dengan salah seorang keturunan Yahudi Arab dan menemukan mereka berkontribusi dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Dalam catatan Romi, pada awal 1920-an, orang-orang Yahudi ini antara lain tersebar di Kutaraja, Padang, Medan, Deli, Batavia, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya.

Jejak peninggalan mereka saat ini masih dapat dilihat dari makam beraksara Ibrani seperti di Peucut Aceh, TPU Pertamburan Jakarta, Kembang Kuning Surabaya, dan Manado.

"Komunitas Yahudi Surabaya adalah model terbaik dalam sejarah Yahudi di negeri ini. Upaya-upaya pembangunan Sinagog oleh Komunitas Yahudi Surabaya sudah dimulai sejak tahun 1923, jauh sebelum didirikannya Vereeniging voor Joodsche belangen in Nederlansch-Indie (Perhimpunan Yahudi di Hindia Belanda)," jelas Romi.

Komunitas di Surabaya
Pasangan Eli dan Florence Dwek yang menghabiskan masa anak-anaknya di Surabaya, menyebutkan pemerintah kolonial Belanda lebih terbuka pada komunitas Yahudi, sehingga mereka dapat menikmati kehidupan yang mewah, seperti ditulis dalam 'The Demise of the Jewish in Surabaya.'

Ayah Eli yang berasal dari Yerusalem bermigrasi ke Hindia Belanda pada 1920 untuk menemani kakaknya yang menikah dengan seorang Yahudi di Surabaya.

Namun kehidupan mewah itu terhenti setelah meletusnya Perang Pasifik. Ketika itu banyak orang Yahudi di Surabaya dipenjara dan dijebloskan ke kamp oleh tentara Jepang.

Setelah Jepang kalah dari pasukan sekutu di akhir Perang Dunia II, para tahanan termasuk orang-orang Yahudi di Indonesia dibebaskan.

Pasukan sekutu juga mengembalikan properti dan bisnis komunitas Yahudi di Surabaya, meski begitu banyak dari mereka pindah ke negara lain, di antaranya Australia.

Dalam kondisi hamil,  ibu Eli kem bali ke Yerusalem, dan melahurkN Eli pada 1946. Ketika berusia tiga tahun dan situasinya sudah kemba li aman, Eli dan ibunya kembali ke Surabya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar