Minggu, 09 Desember 2018

Mangkuk (15)

Mangkuk (15)
Oleh Wak Amin




KAFE Simpang Lima ...

Pengunjung semakin ramai. Di awal malam hanya satu dua, jelang teng ah malam, tempat duduk kafe yang berjumlah lebih dari seratus, nyaris terisi semuanya.

Selain anak muda, orang dewasa sering juga menghabiskan malam di kafe ini. Selain sejuk dengan sa jian makanan serba lezat terjang kau kantong, pengunjung disuguhi irama musik lembut dari kelompok pemusik komunitas anak muda.

Saat Mr Rahman tiba di Kafe Sim pang Lima, Mr Jango juga tiba. Ber samaan. Turun dari mobil juga ber samaan.

Bedanya, begitu keluar dari mobil, Mr Jango langsung tertawa lebar. Mendekati Mr Rahman, lalu meme luk sangat erat konco lamanya itu.

Yang dipeluk sebaliknya. Tegang, memandang curiga ke pengunjung kafe, dan rada kesal bercampur ri sau.

"Sudah tenang ajalah kau Bos. Se rahkan semuanya padaku. Oke?"

Mr Rahman tak menjawab. Ia jus tru bergegas mengajak koleganya itu menuju tempat duduk yang me misah dari pengunjung kebanya kan.

Di bawah tenda. Tersedia hanya be berapa set tempat duduk. Kebetu lan malam itu masih kosong. Bel um seorang pun pengunjung yang mendudukinya.

"Ini uang persekotnya. Sengaja tak kutransfer biar kamu percaya kalau ini benar-benar uang," kata Mr Rah man.

Dia menaruh dua kotak plastik berisi uang. Satu kotak uang kertas, satu kotak lagi berisi uang recehan. Logam.

Ha ha ha ha ...

Mr Jango ketawa lebar.

Terdengar pengunjung lain. Serempak me noleh ke arah Mr Rahman dan Mr Jango ...

"Kamu Bro. Kenceng amat ketawa nya."

"Habis, Bos ngerjain saya. Masa saya dikasih uang logam," kata Mr Jango sambil meraba-raba uang lo gam. Sekadar ingin memastikan apakah itu recehan palsu atau asli.

"Bukan ngerjain Bro. Tapi segitu yang ada. Lagian biar kamu terbiasa juga sih dengan uang logam. Jangan uang kertas melulu.

Ha ha ha ha ...

Pengunjung kafe terusik lagi. Kali ini mereka memberi tanda jari te lunjuk ditempelkan di tengah mulut.

Mr Rahman berdiri dari tempat du duknya ...

" Nanti Bos pulangnya. Kita makan-makan dululah. Sudah lama nih enggak nyate ..."

"Enggak. Aku mau ke kamar kecil dulu. Pesan aja sate kesukaanmu Bro."

"Tengkiyu Bos."










Tidak ada komentar:

Posting Komentar