Jumat, 28 Desember 2018

Mangkuk (32)

Mangkuk (32)
Oleh Wak Amin




SAMBIL mengelus-elus pantatnya yang sakit, Mr Rahman dengan tergopoh-gopoh memasuki ruang tamu tembus ke belakang.

Di belakang ada tangga menuju ke beberapa kamar, dan kamar paling ujunglah yang disasar William.

"Cepat masuk!" Kata William de ngan nada kasar.

Karena gelap, Mr Rahman jadi ragu untuk masuk.

"Cepat masuk. Tunggu apalagi. Cepat!" Bentak William.

"Gelap. Mau masuk gimana?"

Lampu dinyalakan ...

Mr Rahman baru mau masuk. Sam pai di dalam bengong lagi. Tak ada apa-apa. Jangankan kursi, lemari saja tak ada.

"Duduk di lantai ..."

William mengikat kaki dan tangan Mr Rahman. Mencoba meronta, sa tu pukulan ke muka, membuat Mr Rahman terdiam.

Dia pasrah ...

Kedua tangan dan kakinya diikat kuat. Sulit rasanya buat mele
paskan diri ..

Lepas itu ...

Haaa ...

Mr Rahman berteriak ketakutan setelah melihat William membawa dirijen berisi bensin.

Bau bensin menyengat ...

"Jangan .. Jangan. Mau diapakan saya?"

Mr Rahman meronta-ronta. Berusa ha melepaskan diri dari tali ikatan.

Tapi usahanya sia-sia ...

Druuug ...

Dirijen berukuran sedang itu persis ditaruh di depan Mr Rahman ...

"Tau apa ini Tuan Rahman?"

"Tau ..."

"Apa?"

"Dirijen ..." Jawab Mr Rahman geme taran.

Muka pucat. Terkencing di cela na ...

"Isinya apa Tuan Rahman?"

"Bensin."

"Bagus. Tuan memang cerdas," kata William sambil tersenyum.

Dia ambil korek api dari saku celananya ...

"Kalau yang ini?"

"Korek api."

"Bagus."







Tidak ada komentar:

Posting Komentar